Sejarah dan Perjalanan Warkop Zebatiq
Di tengah deru kendaraan yang samar dari balik dinding bata ekspos berwarna merah, di dalam Warkop Zebatiq terdengar obrolan yang terus mengalir. Meja kayu panjang dipenuhi gelas-gelas kopi yang hampir kosong, bungkus rokok, dan percakapan antara teman-teman dekat. Saiful Alief Subarkah—yang akrab disapa SAS—terlihat santai berbincang dengan beberapa sahabatnya.
Warkop Zebatiq telah menjadi magnet bagi para penikmat kopi di kota ini selama delapan tahun lebih. Sejak awal, warkop ini memang tidak biasa. Ia lahir dari gagasan almarhum Zulfan H. Zain bersama istrinya, Hj. Halimah, pada 2017. Awalnya, nama yang digunakan adalah Zebatiq Cafe, dengan konsep live karaoke dan resto keluarga. Namun, permintaan kopi yang semakin besar membuat arah bisnis berubah. Restoran pun bergeser, panggung karaoke memudar, yang tersisa dan bertahan justru aroma kopi khas yang makin pekat dari tahun ke tahun.
“Nama Zebatiq kami ambil dari pulau kecil di perbatasan Indonesia-Malaysia. Lokasinya yang di ruko membuat desain kami sesuaikan dengan lingkungan sekitar,” kata Hj. Halimah, pemilik yang kini melanjutkan estafet usaha mendiang suaminya.
Kopi, Warna, dan Komunitas
Warkop Zebatiq dikenal dengan kombinasi warna ikonik: oranye-hitam. Dari luar, tampilannya langsung mencuri perhatian siapa pun yang lewat. Dari dalam, suasananya berbeda. Kursi sederhana, meja kayu, aroma kopi segar, dan riuh obrolan pengunjung berpadu jadi atmosfer khas yang sulit digantikan.
“Warung Kopi Zebatiq terkenal dengan fitur warna oranye-hitam yang menarik perhatian pengunjung dengan racikan kopi khas Zebatiq,” ujar SAS, Head Of The Zebatiq Cafe Community, saat ditemui pada Senin, 29 September 2025, dalam perayaan ulang tahun kedelapan warkop tersebut.
SAS menegaskan, eksistensi Zebatiq tidak luntur meski warung kopi tumbuh di sekitarnya. Ia menyebut banyak pelanggan setia justru merasa warkop ini sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
“Meskipun dikelilingi oleh warung kopi lain, eksistensinya tetap hadir memberi layanan bagi para penikmatnya,” katanya.
Produk yang Ditawarkan dan Keunggulan Kopi
Produk yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari Kopi Stroong, Kopi Susu Zebatiq, kopi susu biasa, hingga minuman olahan lain. Namun, kopi menjadi bintang utama. Menurut SAS, rahasianya ada pada konsistensi.
“Kami yakin bahwa kopi Zebatiq memiliki kualitas yang lebih unggul,” ujarnya penuh percaya diri.
Dari Warkop ke Ruang Hidup
Lebih dari sekadar warung, Zebatiq menjelma ruang multifungsi. Pengunjung datang bukan hanya untuk menyeruput kopi, tapi juga bekerja, rapat kecil, mencari inspirasi, bahkan sekadar melepas penat. Komunitas pun terbentuk, dengan SAS sebagai ketua yang rajin menjaga semangat kolektif.
Tagline yang mereka usung, Roemah Para Pecandu Kopi, bukan sekadar jargon. Warkop ini sudah menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat Bulukumba: mahasiswa, pekerja, seniman, hingga keluarga.
Masa Depan dan Keberlanjutan
Kini, setelah delapan tahun, Zebatiq tidak hanya berdiri sebagai bisnis keluarga. Ia adalah bagian dari lanskap budaya kopi Bulukumba—ikon kecil yang membuktikan bahwa warung kopi bisa bertahan di tengah gempuran tren kekinian. Dengan mempertahankan kualitas racikan dan tradisi pelayanan, mereka tidak sekadar menjual minuman, melainkan juga menawarkan pengalaman dan sejarah.
“Dengan tagline ‘Roemah Para Pecandu Kopi’, kami ingin orang merasakan bukan hanya cita rasa kopi, tapi juga warisan perjalanan panjang kopi di Bulukumba,” tutup SAS.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.