Kehidupan dan Kontribusi Pipiet Senja dalam Dunia Sastra
Pipiet Senja, atau yang dikenal juga sebagai Etty Hadiwati Arief, seorang sastrawan ternama dari Cimahi, meninggal dunia di Depok, Jawa Barat, pada hari Senin (29/9/2025) malam. Kabar duka ini disampaikan oleh adiknya, Emmi Arief, melalui akun Facebooknya.
\”Innalillahi wa innalillahi rojiun….telah berpulang ke rahmatullah kakak tercinta Pipiet Senja/ Etti Hadiwati Arief jam 21.07……selamat jalan manini Semoga Husnul Khotimah. Akan di kebumikan di TPU Cikutra Bandung Blok F,\” tulis Emmi.
Emmi juga menyampaikan bahwa Pipiet Senja jatuh sakit sejak tanggal 25 September 2025 saat ia menjenguk anaknya di Depok. Seolah mengetahui ajalnya mendekat, Pipiet Senja mengunggah tulisan tentang tanda-tanda kematian pada 16 September 2025.
Latar Belakang dan Perjalanan Karier
Pipiet Senja diketahui menderita Thalasemia sejak usia 9 tahun dan harus terus menerus transfusi darah. Ia lahir di Sumedang pada tanggal 16 Mei 1957. Ia adalah putri sulung pasangan Mayor (Purn) Chb SM Arief, seorang pejuang kemerdekaan asal Cimahi, dengan Hj.Siti Hadijah.
Ia memiliki lima orang adik, yaitu Eddy Rudiana Arief, Emmi Arief, Erry Arief, Enni Arief. Menulis sejak 1975, penulis yang sangat produktif. Ia dikenal sebagai novelis, penyair, cerpenis, dan penulis cerita anak. Tidak kurang ratusan novel telah digarapnya, baik dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Sunda.
Aktivitas dan Pengaruh dalam Dunia Kepenulisan
Pipiet Senja harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya karena penyakit kelainan darah bawaan, Thallasemia. Ia memiliki dua orang anak yang selalu membangkitkan semangat; Haekal Siregar dan Azimattinur Siregar, serta lima cucu. Aktivitasnya saat ini sebagai Mentor Santri Mahad Askar Kauny, Founder Pipiet Senja Publishing House. Ia sering diundang seminar kepenulisan ke pelosok Tanah Air dan mancanegara seperti ke Mesir, Hong Kong, China, Macau, Malaysia, Singapore, UEA, Saudi Arabia, Taiwan. Kini ia numpang di rumah anaknya, tak punya rumah pribadi sejak bercerai.
Menurut kisah yang diceritakan oleh Pipiet, nama \”Pipiet\” berasal dari burung pipit yang ia lihat sore menjelang petang. Hal itu memberikan ilham kepadanya. Pipit adalah burung kecil yang ringkih. Hal itu sangat cocok dengan dirinya yang kecil dan penyakitan, sedangkan senja menggambarkan dirinya yang berada di ujung harapan, seorang yang harapan hidupnya tidak lama lagi. Supaya lebih keren, ia tambahkan huruf `e\’ pada pipit menjadi Pipiet.
Tantangan Hidup dan Dedikasi dalam Menulis
Tantangan hidup yang harus dilewati Pipiet Senja sangat beragam. Tahun 1981, saat ia hamil delapan minggu, dokter menyuruhnya agar mengeluarkan janin tersebut. Alasannya, selama ini tidak pernah ada pasien thalassemia yang hamil, tetapi ternyata Pipiet dikaruniai dua orang anak dari suminya H.E. Yassin. Setelah anak pertama lahir, badai menimpa rumah tangga Pipiet. Dia berpisah dengan suaminya selama tiga tahun dan harus menjalankan peran sebagai orang tua tunggal.
Di samping harus merawat bayi yang baru berusia satu tahun, ia juga harus transfusi darah setiap bulan dan harus berkarya. Karya Pipiet pada awalnya berupa puisi yang dikirim ke radio-radio di Bandung. Tahun 1974 nama Pipiet Senja sudah menggema di radio-radio di Bandung, tetapi pada waktu itu ia belum berani mengirimkan karya ke majalah.
Dari penulisan puisi, Pipiet merambah ke dunia penulisan cerpen. Setahun kemudian, cerpennya dimuat di majalah Aktuil Bandung. Waktu itu, ada dua cerpenis kembar, yakni Yudhistira A.N.M. Massardi dan Noorca M. Massardi yang karya-karyanya sangat populer di media massa Jakarta.
Buku-Buku yang Diterbitkan
Karya-karyanya yang terkenal antara lain adalah Lukisan Rembulan (2003), Menggapai Kasih-Mu (2002), Namaku May Sarah (2001), Tembang Lara (2003), Rembulan Sepasi (2002), Merah Jenin: Kado Cinta untuk Palestina (2002) Meretas Ungu (2005), dan Langit Jingga Hatiku (2007). Bukunya diterbitkan oleh berbagai penerbit, antara lain Mizan, Gema Insani Press, Zikrul, dan Senayan Abadi.
Pipiet telah berkeliling Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri untuk menularkan kiat-kiat menulis cerpen dan novel. Di sisi lain, ia menganggap penyakit thalassemia adalah \”teman\” yang mendorongnya untuk memanfaatkan sisa umur dengan berkarya sebanyak mungkin dan berbagi ilmu dengan orang lain.
Daftar Buku yang Diterbitkan
Buku Umum
1. Biru Yang Biru (Karya Nusantara, 1978)
2. Sepotong Hati di Sudut Kamar (Sinar Kasih, 1979)
3. Serenada Cinta (Rosda Karya, 1980)
4. Mawar Mekar di Taman Ligar (Rosda Karya, 1980)
5. Nyanyian Pagi Lautan (Alam Budaya,1982)
6. Payung Tak Terkembang (Aries Lima,1983)
7. Masih Ada Mentari Esok (Aries Lima,1983)
8. Mencoba Untuk Bertahan (Aries Lima,1983)
9. Selendang Sutra Dewangga (Aries Lima, 1984)
10. Orang-orang Terasing (Selecta Group,1985)
Buku Anak-anak
1. Prahara Cimahi (Margi Wahyu, 1991)
2. Jimbo dan Anak Jin (Margi Wahyu, 1992)
3. Si Boyot Sang Penyelamat (Margi Wahyu, 1993)
4. Jerko dan Raja Jin (Margi Wahyu, 1993)
5. Kisah Seekor Mawas (Margi Wahyu, 1994)
Novel Islami
1. Namaku May Sarah (Asy-Syaamil, 2001)
2. Riak Hati Garsini (Asy-Syaamil, 2002)
3. Dan Senja Pun Begitu Indah (Asy-Syaamil, 2002)
4. Serpihan Hati (DAR! Mizan, 2002)
5. Menggapai Kasih-Mu (DAR! Mizan, 2002)
Antologi Cerpen Bersama
1. Rumah Tanpa Cinta (Alam Budaya, 1983)
2. Bunga Rampai Penulis Perempuan Indonesia (Bentang, 2001)
3. Suatu Petang di Kafe Kuningan (FBA Press, 2001)
4. Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002)


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.