Milenial Solo Sukses Ubah Hijau Daun Jadi Hijau Uang dengan Hidroponik

·

·

Petani Milenial yang Mengubah Stigma dengan Hidroponik

Julmarcia Gioia Da Costa Belo dengan cekatan memotong akar kangkung yang panjang dengan gunting. Satu demi satu tanaman kangkung yang sudah siap panen yang ditandai dengan rimbunnya daun segar, ia ambil lalu dipotong akarnya. Akar kangkung hasil hidroponik itu tampak putih dan panjang, pertanda kebutuhan nutrisi sayuran tersebut tercukupi. Tak hanya itu, rimbun daun dan batang kangkung yang hijau segar tampak kontras di tengah udara panas Kota Solo.

Kangkung yang bersih dari akar itu lalu diletakkan di atas nampan yang sudah disediakan. Dengan Bahasa Portugis ia mengatakan kangkung yang ia panen begitu segar dan banyak daunnya. Pemudi asal Timor Leste ini mengaku terkesan dengan hasil dari sistem hidroponik yang ada di AA818_hydropnic ini. Kangkung berdaun hijau segar dari hasil budidaya dengan sistem hidroponik ini lalu dikemas dan disalurkan ke pembeli yang sudah menunggu. Mahasiswi asing yang berkuliah di Universitas Duta Bangsa Surakarta ini tengah panen di AA818_hydroponic, akhir September 2025 lalu.

Pangsa pasar berbagai jenis sayuran hidroponik ini sudah hampir menjangkau seluruh Indonesia dengan harga jual yang kompetitif. Di kebun yang kini menanam sekitar 20 jenis sayuran seperti kangkung, pokcoy, daun mint, sawi, kale, dan lainnya ini, bisa memberikan pemasukan hingga 1 juta per hari dengan sistem panen bergantian.

“Area penjualan kami Solo sekitarnya dan seluruh Indonesia melalui lokapasar seperti Shopee dan Tokopedia yang bisa melayani pembeli hingga Aceh. Alhamdulillah minimal sehari 500 ribu bisa masuk, siapa bilang jadi petani itu selalu miskin dan tidak keren,” kata pemilik AA818_Hydroponic, Anggi Bitho Lokmanto.

“Saya kira penghasilan tidak kalah dengan pekerja kantoran di Solo,” tambah Anggi yang kini mengelola lahan seluas 1.500an meter persegi ini. Anggi mengatakan usaha hidroponik miliknya terbuka untuk siapapun yang ingin belajar, termasuk Julmarcia asal Timor Leste yang tengah magang selama 3 bulan di tempatnya.

“Kami sangat terbuka bagi generasi muda, karena penting bagi generasi muda untuk belajar apapun termasuk tani, karena kalau ditekuni bisa mengalahkan yang kerja kantoran” ungkap pria 35 tahun ini. Bapak dua anak ini senang membagi ilmu ke generasi muda yang magang di tempatnya.

“Dari kampus di sekitar Solo banyak yang ke sini, terbaru yang dari Timor Leste ini, semoga makin banyak generasi muda yang melek ilmu tani hidroponik, syukur-syukur bisa bertanam di daerah masing-masing,” harapnya. Anggi ingin stigma atau label negatif yang menempel pada profesi petani seperti kumuh, tidak keren, bau pupuk, miskin dan kumal runtuh hilang.

Anggi, begitu ia biasa disapa, menekuni profesi menjadi petani di tanah kelahirannya, Kota Solo sejak tujuh tahun silam. Sang Petani milenial ini tetap bisa berpenampilan necis dan wangi di tengah kesibukannya bertani sayuran di pinggiran Kota Solo. Baju berkerah, celana kargo dan sepatu bot dengan topi di kepala menjadi “pakaian dinasnya” sehari-hari. Jauh dari kesan kumuh dan bau pupuk ketika menjalani profesi sehari-hari ketika menjadi petani sayuran hidroponik.

Lulusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP UNS) Solo ini memilih jalan hidup menjadi petani demi memanfaatkan ilmu yang sudah ia dapatkan ketika kuliah belasan tahun silam. “Saya ingin mengamalkan ilmu yang sudah didapat ketika kuliah, ya nggak jauh-jauh dari pertanian, kemudian saya juga ingin membuktikan bahwa jadi petani itu juga keren kok, tidak kalah dengan profesi lain,” kata Anggi ketika ditemui Tribunnews.com akhir September 2025.

Mengusung jenama AA818_hydroponic, Anggi mulai belajar pertanian hidroponik secara autodidak pada awal 2018. “Sebelumnya saya kerja di perkebunan sawit di Pekanbaru, tapi karena saya rasa sudah cukup, saya kembali ke tanah kelahiran saya, mau jadi petani saja di rumah.” Anggi menekuni pertanian hidroponik karena melihat pertanian tradisional kurang optimal dilakukan di Kota Solo.

“Pertama karena lahannya sudah terbatas, kemudian Solo cuacanya kadang bisa panas sekali, kadang hujan deras sekali, makanya saya pilih ke hidroponik yang bisa kami atur nutrisinya, lingkungan sekitarnya dengan tujuan hasil tani yang optimal,” jelas dia. Selain itu pertanian ia anggap sebagai usaha yang tak ada habisnya karena sepanjang manusia hidup sedikit banyak membutuhkan sayuran atau bahan pangan yang dihasilkan dari pertanian.

Dibina YDBA, Ubah Hobi jadi Pundi Rezeki

Kebun hidroponik Anggi menemukan “pupuk” yang pas ketika bergabung menjadi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) binaan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) pada 2019. “Tahun 2019 itu kebun sudah mulai jualan dengan sistem yang masih belajar juga, lalu komunitas hidroponik di Solo ditawari menjadi binaan Astra melalui YDBA, saya dan 17 petani hidroponik lalu gabung,” beber Anggi.

Komunitas hidroponik Solo yang menjadi binaan Astra melalui YDBA itu kemudian diberikan pendampingan berupa pelatihan pemasaran, pengemasan, hingga pendampingan akses permodalan. Manajemen pengelolaan kebun juga menjadi satu di antara pelatihan yang membuat kebun hidroponik Anggi bisa lebih tertata dan efisien sejak pembibitan hingga pemasaran hasil tani.

“Dari sisi kebun kami mendapatkan pelatihan hidroponik yang lebih advance dari ahlinya, kemudian dari pemasaran kami diajari cara pengemasan yang baik hingga bisa kirim ke luar pulau dan bisa dijual ke supermarket modern, termasuk belajar pencatatan keuangan yang baik dan benar,” tambahnya. Dengan pendampingan dari YDBA, Anggi menyebut banyak UMKM hidroponik di Solo Raya bisa naik level, dari sekadar hobi menjadi sumber pengisi pundi rezeki.

“Termasuk kebun saya, walaupun sejak awal untuk komersil, tapi belum dapat ilmunya karena autodidak, ketemu “pupuk” yang tepat ketika dibina YDBA, dapat banyak pelatihan yang bisa “menyuburkan” pemasukan kami,” kata Anggi sembari tersenyum. Pembinaan YDBA yang mencakup wilayah Solo dan sekitarnya membuat 17 usaha hidroponik bisa membentuk ekosistem usaha.

“Sekarang ini sudah muncul spesialisasi, misalnya di saya pokcoy, kangkong, dan sawi, di Tawangmangu ada melon, dan sebagainya, jadi ketika ada permintaan pasar yang besar, bisa saling membantu,” kata peraih UMKM Mandiri Terbaik Kategori Pertanian 2023 serta UMKM Bidang Pertanian dengan Penerapan 5R (Budaya Kerja Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) Terbaik Kedua Tahun 2024 versi YDBA ini.

Terbaru Aa818_Hydroponic juga sudah naik kelas dari UMKM dengan badan usaha hukum Perseroan Terbatas (PT), bernama PT Nusa Farm Maju Mandiri. \”Itu juga karena pendampingan dari YDBA, sehingga kami punya legalitas, dulu kepikiran saja tidak untuk bisa jadi badan hukum, tapi sekarang dengan punya status badan hukum bisa akses ke modal lebih mudah dan banyak manfaat lain,\” kata Anggi.

Hijau daun berkelindan dengan hijaunya uang

Di kebun Aa818_hydroponic kini menanam sekitar 20 jenis sayuran seperti kangkung, pokcoy, daun mint, sawi, kale, dan lainnya. Dalam sehari, kebun Anggi yang berukuran 1.500 meter persegi ini bisa memberikan pemasukan 500 hingga 1 juta rupiah. “Ya itu tadi penghasilan tidak kalah dengan pekerja kantoran di Solo, karena panen bisa bergiliran, minggu ini kangkong, minggu depan sawi dan seterusnya,” tegasnya.

Dengan adanya ekosistem usaha yang sudah terbangun, Anggi tak perlu khawatir dengan permintaan pasar yang makin masif. “Kami saling bantu sesama petani di Solo, misal ada yang butuh selada 100 kg, kami punya berapa kilo, rekan kami Boyolali punya berapa kilo, tinggal dikumpulkan, petani senang, pembeli juga terlayani,” ucap Anggi penuh semangat. Ekspansi kebun juga terus dilakukan Aa818_Hydroponic untuk memenuhi permintaan pasar yang makin meningkat. Dari yang awalnya berkebun di halaman rumah, kini Anggi sudah berpindah ke tanah 1.500 meter persegi yang sebelumnya adalah tanah wakaf yang tidak produktif.

“Awalnya di rumah, sekarang semua saya pindahkan di tanah wakaf ini, ada bagi hasil juga ke organisasi pemilik tanah,” kata Anggi. Anggi juga tengah menggodok pengelolaan tanah wakaf lain di sekitar Solo agar tanah tersebut bisa memberikan manfaat lebih. “Penawaran sudah banyak yang masuk, sedang kami susun SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya, agar nanti organisasi pemilik tanah wakaf bisa mandiri, istilahnya tanpa saya bisa menghasilkan, juga soal standar kualitas sayur yang benar-benar kami jaga,” ujarnya.

Selain mengincar pemanfaatan lahan tak produktif, Anggi juga ingin banyak petani muda lain yang muncul di Solo. “Kebanyakan masih pada terstigma petani itu miskin tidak keren, tapi kalau sudah tau hasilnya biasanya akan beda pemikirannya, jadi kami babat (tebas) alas (lahan) kosong, dan juga babat stigma jelek petani,” pungkasnya.

Sempat jadi Sayur Sosial

Proses Anggi menjadi petani hidroponik tak serta merta langsung menuai hasil yang menggembirakan. Kegagalan demi kegagalan pernah menyambangi kebun hidroponiknya pada awal 2018 ketika memulai menjadi petani sayuran. “Pernah satu kebun kuning semua, karena takaran nutrisi yang kurang tepat,” kenang Anggi. Kegagalan itu ia jadikan pembelajaran agar kebunnya bisa menghasilkan sayuran sesuai yang ditargetkan.

“Strateginya selain terus belajar di internet, saya juga ikut komunitas hidroponik di Solo, jadi ilmu yang saya punya terus berkembang,” kata dia. Pada awal perjalanan kebun hidroponiknya, sayuran hasil tani Anggi sempat menjadi “sayur sosial”. Atau hasilnya tidak diperjualbelikan akan tetapi dibagikan kepada orang secara cuma-cuma. “Awal-awal belajar hasil dari kebun saya bagikan ke jemaah pengajian, karena memang belum mengejar ke arah uang, tapi baru belajar bagaimana kebun bisa produksi secara berkelanjutan sesuai dengan rencana,” terang pria 35 tahun ini.

Ia membidik hasil kebun yang optimal dengan jaminan kualitas sayur prima sebelum memberanikan diri menjual sayuran secara komersial. “Kalau ditanya dari sisi uang ya minus, tapi sekarang kan sudah dikembalikan sama Yang Maha Kuasa,” ucapnya sembari tertawa.

YDBA Bina UMKM dengan Filosofi Beri Kail Bukan Ikan

Pembinaan UMKM oleh Astra melalui YDBA dilakukan dengan semangat kebermanfaatan. “Dulu tahun 1980, saat perusahaan besar di Indonesia belum memikirkan program Corporate Social Responsibility (CSR) atau kontribusi sosial, pendiri Astra, Wiliam Soeryadjaya telah mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dengan fokus membina UMKM,” kata CEO YDBA, Rahmat Samulo dalam keterangan tertulis. Pendiri Astra ingin perusahaan berkembang dan bermanfaat seperti pohon yang rindang yang berguna sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas, sejalan dengan tujuan Astra “Sejahtera Bersama Bangsa”.

Lebih lanjut, Rahmat menyatakan YDBA memberikan program pembinaan yang bukan bersifat short term atau charity, tetapi berkelanjutan melalui program pelatihan dan pendampingan. “Ada pelatihan yang bersifat manajemen juga teknis, fasilitasi pemasaran dan fasilitasi pembiayaan yang mendukung kemandirian UMKM serta bagaimana UMKM dapat memenuhi legalitas yang dibutuhkan UMKM di setiap sektor,” kata dia. Saat ini YDBA membina 1.400an UMKM di seluruh Indonesia dengan rincian 17 persen dari sektor manufaktur, 15 persen dari sektor bengkel, 33 persen dari sektor pertanian, 25 persen dari sektor kuliner dan 9 persen dari sektor kerajinan.

UMKM tersebut tersebar di 19 wilayah, yakni Cakung, Banyuwangi, Bantul, Solo, Tegal, Banyumas, Salatiga, Citeureup & Puncak Dua Bogor, Lebak Banten, Sangatta Kaltim, Paser Kaltim, Bontang Kaltim, Manggarai Barat NTT, Manggarai Timur NTT, Barito Utama Kalimantan Tengah, Tanjung Kalimantan Selatan, Bandung dan Cikuya Tangerang. Lebih lanjut, Rahmat berharap UMKM bisa naik kelas dan mandiri, karena UMKM memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian di Indonesia. “UMKM kami dorong untuk mau berubah untuk lebih berkembang, mau berbagi dalam hal apapun, baik knowledge, pasar dan lainnya, berkomitmen dalam menjalankan bisnis dan menghasilkan produk yang sesuai standar dan konsisten menghasilkan produk sesuai permintaan customer,” harap Rahmat Samulo.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »