Waktu Selamatkan Santri Tertimbun di Ponpes Al Khoziny Menipis

·

·

Upaya Penyelamatan Santri di Pondok Pesantren Al Khoziny

Tim penyelamat masih terus berupaya melakukan penyelamatan terhadap santri-santri yang tertimbun robohan mushala di Pondok Pesantren Al Khoziny di kota Sidoarjo, Jawa Timur. Waktu kian sempit sementara tiga siswa meninggal, lebih dari 100 orang terluka dan puluhan lainnya diduga terkubur di reruntuhan.

Petugas penyelamat, polisi dan tentara yang melakukan penggalian sepanjang malam berhasil menyelamatkan delapan orang yang selamat dalam kondisi lemah dan terluka lebih dari delapan jam setelah runtuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny. Tim penyelamat melihat adanya tambahan jenazah, yang mengindikasikan jumlah korban jiwa kemungkinan akan meningkat.

Upaya penyelamatan untuk sementara dihentikan pada pukul 10.15 WIB karena beton yang runtuh tiba-tiba berguncang. Orang-orang segera berlari menyelamatkan diri, takut akan terjadi keruntuhan lagi, ketika tim penyelamat mendesak semua orang di daerah tersebut untuk menghindari gedung tersebut, termasuk lebih dari selusin ambulans yang diparkir di dekat lokasi kejadian. Penyelamatan dilanjutkan sekitar pukul 13.45 WIB.

Siswanya sebagian besar adalah anak laki-laki di kelas VII hingga XI, antara usia 12 dan 18 tahun. Keluarga-keluarga dengan cemas menunggu kabar di rumah sakit atau di dekat gedung yang runtuh.

Pemberitahuan yang dipasang di kompleks sekolah pada Selasa pagi menyebutkan 65 siswa hilang. Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Abdul Muhari merevisi jumlah orang yang diperkirakan terkubur di reruntuhan menjadi 38 orang pada tengah hari.



Foto udara bangunan mushala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). – (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

“Ya Allah, anakku masih terkubur, ya Allah tolong bantu!” tangis seorang ibu histeris saat melihat nama anaknya di papan tulis, disusul tangisan orang tua lain yang kerabatnya juga mengalami nasib serupa.

“Tolong Pak, tolong cepat temukan anak saya,” seru seorang ayah sambil menggandeng tangan salah satu anggota tim penyelamat.

Beton tebal dan puing-puing lainnya serta bagian bangunan yang tidak stabil menghambat upaya pencarian dan penyelamatan, kata Nanang Sigit, petugas pencarian dan penyelamatan yang memimpin upaya tersebut. Alat berat tersedia namun tidak digunakan karena dikhawatirkan dapat menyebabkan keruntuhan lebih lanjut.

“Kami telah memberikan oksigen dan air kepada mereka yang masih terjebak di bawah puing-puing dan menjaga mereka tetap hidup sementara kami bekerja keras untuk mengeluarkan mereka,” kata Sigit. Dia menambahkan bahwa tim penyelamat melihat beberapa jenazah di bawah reruntuhan tetapi fokus untuk menyelamatkan mereka yang masih hidup.

Beberapa ratus tim penyelamat terlibat dalam upaya tersebut dan memiliki peralatan pernapasan, pelepasan, evakuasi medis, dan peralatan pendukung lainnya.

Nama Al Khoziny diambil dari nama KH Raden Khozin Khoiruddi, seorang tokoh berpengaruh di Jawa Timur, dan beberapa ulama terkemuka pernah belajar di sekolah tersebut. Masyarakat sering menyebutnya dengan Pondok Pesantren Buduran, merujuk pada lokasinya di Desa Buduran Kabupaten Sidoarjo.

Ini adalah pesantren tertua di antara 7.300 pesantren di Jawa Timur. Santri pertama tercatat belajar pada tahun 1920, sebelum pesantren resmi berdiri pada tahun 1927. Lebih dari 2.000 santri belajar di al Khoziny, mulai dari tingkat SMP hingga perguruan tinggi.

Para pelajar tersebut sedang melaksanakan salat Ashar di sebuah gedung yang sedang mengalami perluasan tanpa izin ketika tiba-tiba gedung itu runtuh menimpa mereka, kata juru bicara Polda Jawa Timur Jules Abraham Abast.

Warga, guru, dan pengelola memberikan bantuan kepada siswa yang terluka, banyak diantaranya mengalami cedera kepala dan patah tulang. Siswa perempuan sedang shalat di bagian lain gedung dan berhasil melarikan diri, kata korban yang selamat.



Sejumlah petugas gabungan mencari korban bangunan musala yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). – (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Seorang siswa laki-laki, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, ditemukan tewas pada hari Senin dan 102 siswa serta guru terluka dan dibawa ke rumah sakit, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis, kata Muhari. Hingga Selasa, 75 siswa dan dua guru masih dirawat di rumah sakit, katanya.

Pada Selasa, dua siswa laki-laki meninggal karena luka-luka mereka saat dirawat di Rumah Sakit Umum Notopuro, kata direktur rumah sakit Atok Irawan. Keduanya termasuk di antara 11 siswa yang awalnya berhasil diselamatkan dari reruntuhan oleh tim penyelamat, katanya.

Setidaknya satu siswa harus diamputasi lengannya dan dua lainnya menjalani operasi karena cedera kepala, kata Irawan. Pihak berwenang sedang menyelidiki penyebab keruntuhan tersebut. Abast mengatakan, mushola tua itu berlantai dua, namun ada dua lagi yang ditambahkan tanpa izin. “Fondasi bangunan lama ternyata tidak mampu menopang beton dua lantai dan roboh saat proses penuangan,” kata Abast.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »