Penggalian Terowongan di Sekitar Masjid Al Aqsa Memicu Kontroversi
Di Yerusalem Timur yang diduduki, Israel kembali melakukan penggalian terowongan di dekat Masjid Al Aqsa. Rekaman yang beredar pada Senin (29/9/2025) menunjukkan adanya proyek arkeologi yang disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah Israel untuk mengembangkan area tersebut. Namun, proyek ini mendapat kritik keras dari berbagai pihak karena dinilai memiliki tujuan politik yang jelas.
Penggalian ini dituduh melanggar hukum internasional dan “status quo” yang selama ini mengatur kompleks Al Aqsa. Salah satu proyek terbaru adalah peresmian terowongan “Pilgrims’ Road” oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Peresmian ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Gaza dan semakin seringnya kunjungan pejabat Israel ke kompleks masjid.
Tindakan Provokatif yang Memperburuk Situasi
Beberapa tindakan provokatif juga turut memperuncing situasi di sekitar Masjid Al Aqsa. Seorang anggota parlemen sayap kanan bahkan sempat mengibarkan bendera Israel di dalam kompleks Al Aqsa, sementara seorang menteri menyerukan pembangunan kembali kuil Yahudi di lokasi tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya konflik antara umat Islam dan Yahudi di wilayah tersebut.
Tuduhan Menghancurkan Artefak Islam
Pemerintah Palestina di Yerusalem pada Agustus lalu menegaskan bahwa Israel melakukan penggalian ilegal di bawah Masjid Al Aqsa dan menghancurkan peninggalan Islam. Dalam pernyataan resmi mereka, Pemerintah Yerusalem menyebutkan bahwa video yang bocor menunjukkan penggalian ilegal dilakukan oleh pasukan Israel di bawah situs yang sensitif ini.
Mereka juga menuduh Israel “secara sengaja menghancurkan artefak Islam yang berasal dari periode Umayyah, yang menjadi bukti hidup dan kesaksian nyata atas kepemilikan sah umat Muslim atas situs tersebut.” Ini menunjukkan bahwa aktivitas Israel tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga merusak warisan budaya yang penting bagi umat Islam.
Status Masjid Al Aqsa
Masjid Al Aqsa merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam. Sementara itu, kalangan Yahudi menyebut area tersebut sebagai Temple Mount, yang diyakini pernah menjadi lokasi dua kuil Yahudi di masa lampau. Wilayah ini memiliki makna sejarah dan spiritual yang sangat besar bagi kedua komunitas.
Israel menduduki Yerusalem Timur, tempat Masjid Al Aqsa berada, sejak Perang Arab–Israel 1967. Pada 1980, Israel menganeksasi seluruh Kota Yerusalem, yang membuat status wilayah ini semakin rumit. Keberadaan Masjid Al Aqsa dan Temple Mount menjadi titik panas dalam konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Komentar dan Reaksi Dunia
Reaksi dari dunia internasional terhadap aktivitas Israel di sekitar Masjid Al Aqsa sangat beragam. Beberapa negara dan organisasi internasional mengecam tindakan Israel, sementara yang lain lebih netral atau mendukung langkah pemerintah Israel. Persoalan ini tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga memicu perhatian global karena implikasinya terhadap stabilitas regional dan hubungan antar agama.
Dalam konteks ini, penting untuk menjaga harmoni antar agama dan memastikan bahwa situs suci seperti Masjid Al Aqsa tidak menjadi alat politik. Upaya untuk memahami perspektif masing-masing pihak serta mencari solusi damai menjadi kunci untuk menghindari eskalasi konflik yang bisa berdampak luas.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.