Pemimpin yang Rendah Hati dan Nilai-nilai Maulid Nabi Muhammad SAW
Di tengah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah acara khusus diadakan di pelataran Pantai Indah Bosowa, Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Acara ini menjadi momen penting untuk merenungkan teladan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ceramahnya, Kiai Haji Muhammad Yusuf \”Sidenreng\” S.Sos I MA (42), yang merupakan tokoh muda NU Sulsel, menyampaikan pesan penting tentang sifat pemimpin yang rendah hati.
\”Pemimpin yang rendah hati selalu meminta doa dari rakyatnya. Seperti yang dilakukan Pak Wali (Makassar) saat ini, ia meminta doa agar bisa menjalankan tugas dengan amanah,\” ujar Gurutta Yusuf dalam ceramahnya. Kiai Haji M Yusuf Sidenreng kini menjabat sebagai Ketua Tanfidz PC NU Sidenreng Rappang (Sidrap). Ia juga diundang khusus oleh Pak Aksa, yang baru saja kembali dari Jambi dan akan terbang ke Samarinda keesokan harinya.
Frasa \”Sidenreng\” di belakang namanya diberikan oleh founder Bosowa, HM Aksa Mahmud (80), karena gaya ceramahnya yang mirip dengan Anre Gurutta Haji Abdul Muin Yusuf, salah satu ulama kharismatik Sulsel asal Sidrap dan pendiri DDI.
Peran Pemimpin dalam Mewujudkan Kolaborasi dan Keberkahan
Sebelum Ustadz Yusuf naik ke mimbar, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Appi) memberikan kata sambutan. Acara tahunan Bosowa ini mengangkat tema \”Menulusuri Teladan Nabi Muhammad SAW untuk mewujudkan Kolaborasi dan Keberkahan\”. Di akhir sambutannya, Appi meminta agar keluarga besar Bosowa mendoakannya agar dapat menjalankan amanah dengan baik.
\”Tolong doanya. Saya ini tak bisa memisahkan diri dari Bosowa. Keluarga sekaligus yang membesarkan saya,\” ujar Appi di depan sekitar 500-an jajaran pimpinan, karyawan, keluarga, dan pensiunan Bosowa.
Awal Oktober ini adalah bulan ke-8 masa jabatannya. Appi dan pasangannya, Aliyah Mustika Ilham, dilantik serentak oleh Presiden Prabowo pada 20 Oktober 2025 di Jakarta. Mereka dilantik bersama 961 kepala daerah lainnya.
Hubungan Kekeluargaan dan Tradisi Budaya
Sebelum naik ke mimbar, Appi dan Ustadz Yusuf Sidenreng duduk berdampingan dengan founder Bosowa Corporindo, Aksa Mahmud (80). Aksa adalah bapak mertua Appi. Setelah menyampaikan sambutan, putri bungsu Appi menjemputnya di ujung tangga panggung. Appi lalu membawa putri bungsinya menyalami Aksa. Spontan, si putri berusia sekitar 4 tahun itu langsung duduk di pangkuan kakeknya.
Acara peringatan maulid ini juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Aksa Mahmud, Melinda Aksa. Dalam tauziyahnya, Ustadz Yusuf mengingatkan tentang nilai-nilai sunnah Rasullah Muhammad SAW.
Mengenal Momen Maulid dan Kitab Al Barzanji
\”Orang Bugis dan ulama-ulama terdahulu tidak menggunakan istilah maulid, melainkan \’maulu\’,\” katanya. Menurutnya, frasa maulid hanya memperingati hari kelahiran Nabiyyi, 12 Rabiul Awal 571 Masehi. \”Kalau Maulud itu kita memperingati ajaran-ajarannya dan bisa diperingati sepanjang tahun, bulan hanya di bulan Rabiul Awal,\” ujarnya.
Ustadz Yusuf kemudian menjelaskan bahwa momen Maulud Nabi selalu diperingati dengan bacaan Maulidul Barzanji. \”Naik rumah baru, mau naik haji, mau pengantin, atau beli mobil baru, orang Bugis itu baca Maulidul Barzanji, kehidupan Rasulullah,\” ujarnya.
Kitab Al Barzanji berisi doa-doa, puji-pujian, dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad SAW, mulai dari silsilah, kehidupan masa kecil, diangkat menjadi rasul, hingga wafatnya. Judul kitabnya adalah \”Iqd al-Jawahir fi mawlid an Nabiyyil Azhar\”.
Pengarang Kitab Al Barzanji adalah Sayyid Zainal \’Abidin Ja\’far bin Hasan bin \’Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji atau dikenal dengan Syaikh Ja\’far al-Barzanji. Ia lahir di Madinah pada tahun 1716 M (Kamis awal Dzulhijah 1128 H) dan wafat pada tahun 1763 M (Selasa, 4 Sya\’ban 1177 H).


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.