Hari Jum\’at: Dari \’Arubah Hingga Al-Jumu\’ah
Hari Jum\’at memiliki makna yang sangat istimewa dalam kehidupan umat Muslim. Dianggap sebagai hari utama, ia dikenal dengan sebutan Sayyidul Ayyam (Penghulu Segala Hari). Namun, di balik keistimewaannya, terdapat sejarah linguistik dan teologis yang mendalam mengenai asal-usul penamaannya. Penamaan ini secara resmi diabadikan dalam Surat Al-Jumu\’ah (Surat ke-62) dalam Al-Qur\’an.
Dari \’Arubah Menjadi Al-Jumu\’ah
Sebelum datangnya Islam, hari yang jatuh setelah Kamis dan sebelum Sabtu ini dikenal oleh masyarakat Arab pada masa Jahiliyah (pra-Islam) dengan nama Hari \’Arubah (عروبة). Pada masa itu, Hari \’Arubah sering dijadikan ajang berkumpul untuk kepentingan duniawi, seperti:
- Ajang Pamer: Tempat berkumpul untuk memamerkan kekayaan, hasil dagang, atau kemampuan bersyair.
- Fokus Dunia: Aktivitasnya lebih didominasi oleh transaksi dan kegiatan sosial yang bersifat profan.
Ketika ajaran Islam disebarkan, nama ini diubah di Madinah. Perubahan ini didorong oleh seorang Sahabat dari kalangan Ansar, As\’ad bin Zurarah, yang dilaporkan memimpin shalat berjamaah pertama pada hari tersebut di Madinah, sebelum Rasulullah ﷺ hijrah. Penamaan baru ini kemudian secara definitif dikukuhkan oleh wahyu Ilahi.
Makna Mendalam Kata Al-Jumu\’ah
Kata Al-Jumu\’ah (الجمعة) sendiri berakar dari kata kerja bahasa Arab, Jama\’a (جمع), yang berarti \”berkumpul\”, \”menyatukan\”, atau \”mengumpulkan\”. Nama ini dipilih karena dua alasan utama yang sarat makna yakni:
Titik Kumpul Ibadah
Nama ini secara langsung merujuk pada kewajiban berkumpulnya umat Muslim (terutama laki-laki) untuk menunaikan Shalat Jum\’at secara berjamaah. Penetapan ini menjadikan hari tersebut sebagai simbol persatuan (integrasi) umat, di mana status sosial, ras, atau profesi hilang sejenak, dan semua bersatu dalam satu saf shalat.Pengumpulan Penciptaan
Dari sisi sejarah penciptaan, beberapa riwayat Hadis menyebutkan bahwa Hari Jum\’at adalah hari di mana segala unsur penciptaan dikumpulkan. Bahkan, hari ini juga dikaitkan dengan hari Nabi Adam AS diciptakan dan hari di mana beliau dan Hawa bertemu kembali di bumi setelah diturunkan dari surga.
Ditegaskan dalam Wahyu Abadi
Penamaan dan penetapan fungsi hari ini diabadikan secara abadi dalam Al-Qur\’an. Surat ke-62, yang dinamai Al-Jumu\’ah, secara tegas memerintahkan umat Muslim untuk segera menyambut panggilan ibadah di hari tersebut:
\”Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.\” (QS. Al-Jumu\’ah: 9).
Ayat ini menegaskan transisi fokus dari hari yang didominasi pameran duniawi (\’Arubah) menjadi hari yang didominasi ketaatan, perkumpulan, dan zikir kepada Allah (Al-Jumu\’ah). Dengan demikian, penamaan ini bukan sekadar pergantian kata, melainkan penetapan filosofi kehidupan yang menyeimbangkan antara spiritualitas dan aktivitas dunia.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.