Perkembangan Teknologi AI dan Tantangan di Dunia Pendidikan
Perkembangan pesat dari teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif telah membawa berbagai tantangan dan peluang baru, terutama bagi dunia pendidikan. Dalam menghadapi dinamika ini, Redea Institute menyelenggarakan Konferensi Internasional Redea (RIC) 2025 ke-15 dengan tema \”Menggagas Ulang Pendidikan di Era Digital\”. Acara ini menjadi wadah untuk mendiskusikan bagaimana pendidik dapat memanfaatkan AI secara efektif tanpa mengabaikan peran penting guru.
Pembicara utama dalam konferensi ini adalah John T. Almarode, penulis buku laris \”Teacher Clarity\”. Ia menegaskan bahwa meskipun AI adalah hal yang tak terhindarkan, peran guru yang hebat tidak akan pernah tergantikan. Menurutnya, pendidik harus beradaptasi dengan cara yang tepat, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan tujuan pendidikan yang jelas.
Lingkungan Belajar yang Berubah
Almarode menjelaskan bahwa lingkungan belajar siswa kini sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka terbiasa dengan media sosial dan internet, dan kini muncul AI generatif sebagai alat bantu. Namun, ia menekankan bahwa dari pandemi Covid-19, kita belajar satu hal penting: peran guru tidak dapat digantikan.
\”Sebagus apapun teknologi AI berkembang, itu hanyalah alat bantu, bukan jawaban. Teknologi mungkin berubah, tetapi guru yang hebat akan selalu bertahan,\” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa masalahnya bukan pada alatnya, melainkan pada tugas yang diberikan guru kepada siswa. Jika tugas rumah bisa diselesaikan dalam 30 detik dengan AI generatif, maka tugas tersebut dianggap buruk. Solusinya adalah meningkatkan kompleksitas kognitif di lingkungan belajar.
Prinsip Pengajaran yang Efektif
Selain itu, Almarode mengingatkan bahwa prinsip-prinsip pengajaran yang efektif seperti konstruktivisme dan scaffolding tetap penting di era AI. Konstruktivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa pembelajar tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi secara aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Scaffolding adalah strategi pengajaran di mana siswa diberi bimbingan untuk menyelesaikan tugas yang sulit.
Prinsip-prinsip ini membantu siswa memilih informasi yang relevan, menyusunnya secara bermakna, dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Suasana Pembelajaran Mendukung
Almarode menekankan bahwa suasana pembelajaran dalam kelas sangat penting. Jika siswa tidak merasa aman, diterima, atau dihargai, maka pembelajaran tidak akan terjadi. Ia menegaskan bahwa desain pembelajaran sehebat apa pun akan gagal jika tidak didukung oleh iklim yang baik.
Empat Pilar Integrasi AI di Kelas
Alih-alih melarang penggunaan AI, Almarode menyarankan agar guru memanfaatkannya sebagai asisten pedagogis. Ia memaparkan empat cara spesifik untuk mengintegrasikan AI secara efektif di lingkungan kelas:
- Personalisasi: AI digunakan untuk menyesuaikan materi ajar dengan kebutuhan unik setiap siswa. Contohnya adalah mengubah tingkat kerumitan teks atau membuat kerangka kalimat yang dipersonalisasi.
- Menghasilkan: AI berfungsi sebagai alat bantu cepat untuk membuat materi visual atau data. Ini mencakup pembuatan objek visual 3D, bagan, grafik, atau rangkuman data.
- Membantu Proses: AI menjadi mitra diskusi untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Guru dapat meminta siswa menggunakan AI untuk menghasilkan berbagai perspektif atau argumen.
- Pelestarian: AI dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih autentik dan mendalam. Ini bisa berupa simulasi berbasis AI atau proyek yang mereplikasi kondisi dunia nyata.
Kolaborasi dalam Transformasi Pendidikan
Antarina S.F. Amir, Pendiri dan CEO Redea Institute, menekankan bahwa transformasi pendidikan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas disiplin, lintas generasi, dan lintas batas geografis. Ia menegaskan bahwa pendidik harus lebih terarah dalam menjelaskan, mengajar, dan memanfaatkan AI, bukan membiarkannya muncul begitu saja.
\”Dengan menjembatani prinsip-prinsip abadi pengajaran yang baik dan munculnya AI, guru dapat membekali siswa, bukan untuk dunia saat ini, tetapi dunia yang akan mereka masuki bertahun-tahun kemudian,\” jelas Antarina.
Konferensi ini diharapkan dapat menginspirasi para pendidik untuk terus melakukan yang terbaik, belajar, mengajar, dan berinovasi dengan kebijaksanaan, integritas, dan ketulusan hati.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.