Duta Besar Jepang Sukses Jalankan MBG: Butuh Waktu Lama

·

·

Pengalaman Jepang dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, berbagi pengalaman negaranya dalam menjalankan program makan bergizi gratis (MBG). Menurutnya, Jepang memiliki sejarah panjang dalam menerapkan program ini. Ia menekankan bahwa dibutuhkan dapur yang memadai untuk menyimpan bahan baku segar dan memprosesnya menjadi makanan seimbang.

\”Untuk berhasil mengimplementasikan program ini di sekolah, membutuhkan waktu. Karena pertama, kita harus membuat sistem, dapur MBG, distribusi, dan lain-lain,\” ujarnya dalam jumpa pers di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta Pusat, Selasa (30/9/2025).

Membangun Dapur Saja Tidak Cukup

Meskipun demikian, Masaki menegaskan bahwa membangun dapur saja tidak cukup untuk mensukseskan program MBG. Ia menyebutkan bahwa ada banyak faktor lain yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Salah satunya adalah sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dia juga menyoroti bahwa setiap daerah memiliki tantangan sendiri. Program MBG di Jakarta mungkin akan berbeda dengan di Papua. Oleh karena itu, ia menilai lebih baik menyuplai bahan segar secara lokal.

\”Jadi, Jepang benar-benar menghadapi banyak masalah. Akhirnya, kita menemukan bahwa lebih baik untuk menyuplai bahan segar secara lokal. Karena jika kita membeli dari tempat lain (impor), itu akan menyebabkan masalah kesegaran (bahan makanan). Jadi, di Papua, kita menganggap ikan adalah sumber yang sangat penting,\” kata Masaki.

Dukungan Jepang dalam Program MBG

Masaki juga menyebutkan kunjungannya ke Kabupaten Biak Numfor, Papua pada 9-11 September bersama UNICEF untuk melihat langsung program MBG di bumi cendrawasih. Jepang bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) ikut mendukung peningkatan pelabuhan di Papua sehingga dapat dimanfaatkan untuk mensukseskan MBG.

Jepang berkomitmen untuk mendukung program MBG Indonesia dengan bantuan hibah senilai USD3,34 juta (setara Rp 54 miliar). \”Jadi kami sangat membantu meningkatkan fasilitas pelabuhan dekat sekolah, dan kami melakukannya bersama JICA sehingga bisa dikombinasikan untuk meningkatkan sistem MBG,\” ujarnya.

Masalah yang Masih Menghiasi Program MBG Indonesia

Menurut Masaki, wajar bila Indonesia saat ini masih menghadapi banyak masalah dalam menjalankan program MBG. Karena belajar dari Jepang membutuhkan waktu yang panjang untuk mensukseskan program MBG.

\”Saya pikir menggunakan pengalaman kami, itu mengambil waktu untuk membangun program MBG, untuk membuat sistem untuk membuat makanan segar, dapur, orang yang bekerja, dan itu mungkin berbeda menurut daerah-daerah. Mungkin MBG di Jakarta, berbeda dari MBG di Papua, dan lain-lain mungkin sistemnya berbeda,\” katanya.

\”Saya pikir, kerajaan Anda membutuhkan lebih banyak waktu dan lebih banyak penelitian. Jika Anda mencoba melakukannya dengan terlalu cepat, dengan banyaknya, mungkin Anda bisa menghadapi masalah tersebut,\” tambahnya.

Masalah Keracunan yang Terjadi di Indonesia

Program MBG berubah menjadi petaka usai gelombang keracunan massal berulang terjadi di daerah-daerah. Data nasional menunjukkan 8.649 anak tumbang akibat keracunan MBG. Jumlah itu merujuk pada laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) hingga 27 September 2025. JPPI mencatat adanya lonjakan jumlah korban keracunan, yakni 3.289 anak dalam waktu dua pekan.

Pada September 2025, jumlah korban keracunan per pekannya terus melonjak. Data sepanjang 22 hingga 27 September 2025, jumlah korban keracunan mencapai 2.196 anak dalam waktu dua pekan.

BPOM: 17 Persen Makanan MBG Terkontaminasi Bakteri dan Histamin


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »