Penyedia Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bulukumba Lakukan Pemeriksaan Terkait Tempe Berulat
Pihak penyedia menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontorannu, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan melakukan pemeriksaan terkait dugaan adanya ulat dalam menu tempe yang disajikan di SMAN 5 Kajang. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ditemukan ulat sama sekali dalam sampel tempe tersebut.
Pemeriksaan dilakukan setelah adanya laporan dari siswa yang mendapat menu makan berupa tempe yang diduga mengandung ulat. Pihak SPPG Bontorannu langsung bertindak cepat dengan melakukan konfirmasi dan kunjungan ke sekolah pada Senin (29/9/2025).
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontorannu Kajang, Indra Lesmana menjelaskan bahwa pihaknya tiba di sekolah SMAN 5 Bulukumba pada pukul 10.15 Wita dan langsung menemui guru wali kelas. Setelah itu, tiga siswa yang mendapat menu makan berulat dipanggil untuk dimintai keterangan. Pukul 10:30 Wita, guru wali kelas dan tiga siswa kemudian menuju ruang kepala sekolah untuk berdiskusi lebih lanjut.
\”Selanjutnya kami mengambil beberapa potong sample (tempe) untuk diperiksa bersama-sama dan ternyata tidak ditemukan satupun ulat di tempe itu,\” ujar Indra Lesmana, Rabu (1/10/2025).
Proses Persiapan Bahan Baku MBG
Dalam penjelasannya, Indra Lesmana juga menjelaskan prosedur persiapan bahan baku menu MBG yang mereka kelola. Menurutnya, buah pisang yang digunakan sebagai bahan baku datang dari supplier pada pukul 23.11 Wita, Minggu (28/9/2025). Setelah tiba, buah pisang tersebut dikirimkan ke gudang basah setelah melalui proses pengecekan kualitas dan penimbangan.
Untuk menu tempe, bahan baku juga melalui proses pengecekan kualitas. Setelah dinyatakan baik, tempe disimpan di ruangan penyimpanan bahan baku pada pukul 15.40 WITA pada hari yang sama. Proses serupa juga dilakukan terhadap bahan-bahan baku lainnya di dapur MBG tersebut.
Tindakan Peningkatan Pengawasan
Meski telah dipastikan kebersihan tempe yang disajikan, pihak SPPG Bontorannu akan memperketat pengawasan terhadap menu dan tenaga kerja yang bertugas di rumah tersebut. \”Prosedur kontrol kualitas bahan baku dan pemantauan proses pengolahan akan diperketat,\” kata Indra Lesmana.
Namun, ada perbedaan informasi yang disampaikan oleh pihak wali siswa setempat kepada media sosial. Dari laporan tersebut, diberitakan bahwa buah pisang dan tempe berulat sempat menjadi perhatian. Saat melihat tempe sedang berulat, siswa batal memakan tempe dan membuangnya.
Sayangnya, saat ini orang tua wali siswa maupun pihak sekolah tidak bersedia memberikan informasi rinci terkait penemuan tersebut yang sempat viral di media sosial di Bulukumba.
Masalah Makanan Basi di MBG
Beberapa waktu lalu, sejumlah orang tua siswa penerima manfaat MBG juga mengeluh tentang makanan yang disajikan dalam kondisi basi. Musdalifa, warga Taccorong, Kecamatan Gantarang, mengatakan bahwa anaknya beberapa kali mengeluh karena makanan yang ia dapat dari MBG terasa basi.
Ia berharap agar penyedia jasa tersebut lebih teliti di masa depan. Di awal penerapan MBG di Bulukumba, Wakil Bupati Bulukumba, A Edy Manaf menyayangkan penyedia jasa MBG yang menyajikan menu dalam kondisi basi. Ia berharap agar lebih teliti menyiapkan hidangan MBG tersebut karena menyangkut masalah kesehatan anak.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.