Kondisi SPPG di Kota Batu yang Tidak Memenuhi Standar
Dinas Kesehatan Kota Batu baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan terkait kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Terbukti, beberapa SPPG yang ada di wilayah tersebut belum memiliki sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebuah dokumen penting yang menunjukkan bahwa usaha di bidang pangan memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.
Kasus ini semakin menjadi perhatian setelah adanya laporan keracunan yang menimpa belasan siswa SMP Negeri 1 Batu. Kejadian ini menyebabkan munculnya pertanyaan besar tentang kualitas makanan yang diberikan melalui program MBG. Salah satu SPPG di Jalan Diponegoro Kota Batu bahkan dinonaktifkan sementara karena makanan yang didistribusikan kepada siswa dalam kondisi tidak layak. Nasi dan sayur basi, ayam masih merah, serta rasa masakan yang hambar menjadi bukti nyata dari ketidakmemadaiannya.
Lima Dapur SPPG di Kota Batu Belum Memiliki SLHS
Tidak hanya satu SPPG yang bermasalah, ternyata dari lima dapur SPPG yang beroperasi di Kota Batu, yaitu di Kelurahan Dadaprejo, Desa Bulukerto, Kelurahan Sisir (nonaktif sementara), Desa Pendem, dan Kelurahan Ngaglik, keseluruhan dari mereka belum memiliki sertifikat SLHS. Hal ini menunjukkan adanya celah besar dalam sistem pengawasan dan pengelolaan program MBG.
Kepala Dinkes Kota Batu, Aditya Prasaja, menjelaskan bahwa hasil pertemuan dengan pihak SPPG menunjukkan bahwa mitra dan yayasan yang terlibat dalam program ini belum mengantongi SLHS. Menurutnya, sertifikat ini sangat penting karena merupakan bukti legal bahwa suatu usaha di bidang pangan seperti restoran, katering, atau depot air minum memenuhi standar higiene dan sanitasi yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan atau DPMPTSP melalui sistem OSS.
Langkah yang Harus Diambil Oleh SPPG
Aditya menyarankan agar seluruh kepala SPPG segera mengajukan SLHS melalui sistem OSS. Selain itu, para kepala SPPG juga diminta untuk melakukan asesmen Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan memberikan pelatihan penjamah makanan secara langsung kepada mitra dan yayasan.
Ia juga menekankan pentingnya penyimpanan sampel makanan. Setiap batch masak harus memiliki sampel terpisah yang disimpan sesuai dengan berat minimal yang ditentukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan keamanan dan kualitas makanan yang diterima oleh siswa dan penerima manfaat lainnya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Program MBG bertujuan untuk memastikan bahwa semua siswa mendapatkan makanan bergizi yang aman dan sehat. Namun, dengan kondisi saat ini, kepercayaan masyarakat mulai goyah. Aditya berharap seluruh SPPG yang ada di Kota Batu segera memenuhi seluruh persyaratan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Peningkatan pengawasan dan komitmen dari pihak SPPG sangat dibutuhkan. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan program MBG dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat, terutama anak-anak yang menjadi target utama dari program ini.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.