Inisiatif Baru Menteri Kesehatan untuk Mengatasi Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan inisiatif baru dalam upaya menangani kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi di program makan bergizi gratis (MBG). Ide ini berupa penguatan pendidikan tentang keamanan pangan dan gizi melalui kurikulum sekolah. Usulan tersebut muncul setelah kasus keracunan MBG meningkat secara signifikan dan menyebar ke berbagai daerah.
Per 1 Oktober 2025, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 6.517 orang dari total 30 juta penerima manfaat MBG mengalami keracunan. Data ini mencakup wilayah Sumatera dengan 1.307 korban, Jawa dengan 4.147 korban, dan Indonesia Timur dengan 1.003 korban. Dengan situasi ini, Budi mengambil langkah strategis untuk memperkuat sistem pengawasan dan edukasi terkait pangan.
Pendidikan Gizi sebagai Mata Pelajaran Wajib
Budi Gunadi mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu\’ti tentang rencana membuat mata pelajaran pendidikan keamanan gizi. Ia mengusulkan agar pelajaran ini tidak hanya menjadi pilihan, tetapi menjadi wajib dalam kurikulum sekolah.
Menurut Budi, jika siswa memahami kualitas makanan, maka fungsi kontrol proyek MBG akan lebih baik. Ia juga mengklaim bahwa materi gizi ini sudah disiapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. \”Materi-materinyanya kan sudah ada juga, sudah dibikinin sama teman-teman dari Kemendikdasmen, sehingga ini akan kami luncurkan,\” ujar dia.
Penyebab Keracunan dalam Program MBG
Budi menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan telah melakukan penelitian terhadap seluruh dapur MBG. Hasilnya, ditemukan delapan bakteri penyebab keracunan, yaitu:
- salmonella
- escherichia coli
- bacillus cereus
- staphylococcus aureus
- clostridium perfringens
- listeria monocytogenes
- campylobacter jejuni
- shigella
Selain itu, ditemukan dua virus, yakni:
- norovirus/rotavirus
- hepatitis A virus
Sementara itu, penyebab keracunan dari zat kimia adalah:
- nitrit
- scombrotoxin (histamine)
Mempercepat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Dapur MBG
Budi Gunadi akan mempercepat proses penerbitan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) untuk dapur makan bergizi gratis. Targetnya, seluruh SPPG mendapatkan SLHS dalam waktu satu bulan.
\”Sertifikat kebersihan dan layak sanitasi ini kita akan percepat supaya semua SPPG yang ada, memenuhi standar dari kebersihan dan standar dari orang-orangnya juga,\” kata Budi dalam konferensi pers di gedung Kementerian Kesehatan, Ahad, 28 September 2025.
SLHS merupakan pengakuan tertulis dari dinas kesehatan bahwa suatu usaha telah memenuhi standar baku mutu dan persyaratan kesehatan higienis serta sanitasi. Saat ini, dari 30 ribu lebih dapur yang beroperasi, hanya 34 dapur yang memiliki sertifikat. Budi memastikan pemerintah akan segera mendorong para pengusaha mengurus sertifikat tersebut. \”Diharapkan semua satu bulan selesai ya,\” ujar dia.
SLHS Belum Cukup Atasi Kasus Keracunan
Meski begitu, Budi mengakui sertifikat kelayakan atau SLHS ini belum cukup untuk memastikan kasus keracunan makan bergizi gratis tidak terulang. Ia percaya bagaimana pun perlu ada pengawasan yang ketat dalam proses masak hingga distribusi makanan.
Itu sebabnya, kata dia, Kemenkes sudah bersepakat dengan Badan Gizi Nasional akan bersama-sama mengontrol proses makanan, dari mulai memilih bahan, mengolah, hingga menyajikannya. \”Itu sudah kami sepakati bahwa nanti akan kami bantu bersama sama agar tidak terjadi lagi,\” ujar dia.
Ervana Trikanaputri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.