Kasus Keracunan Menghebohkan, Ibu-Ibu di Tangsel Mulai Tolak MBG di Sekolah

·

·

Kebijakan Makanan Bergizi Gratis Dianggap Tidak Sesuai Kebutuhan Anak

Di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten, sejumlah orang tua, terutama para emak-emak, mulai mempertanyakan kualitas dan kecocokan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah anak-anak mereka. Masalah ini menjadi perhatian serius bagi para orang tua, terutama setelah beberapa kasus keracunan makanan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah.

Banyak orang tua khawatir dengan kualitas makanan yang sering kali sudah basi saat sampai di tangan anak-anak. Hal ini dikarenakan proses pengolahan yang seringkali dilakukan pada malam hari dan disimpan dalam kondisi panas hingga siang hari. Akibatnya, makanan tidak lagi segar dan kurang menarik untuk dimakan.

“Kadang masaknya dari malam, terus ditutup panas-panas. Jadi pas sampai ke anak, udah kayak basi gitu. Tapi ya saya enggak masalah soal MBG, cuma sayang aja,” ujar Mursinah, salah satu orang tua yang tidak ingin disebutkan nama aslinya.

Menurut Mursinah, menu MBG tergolong standar, seperti tumis sayuran atau buah potong seperti salak. Namun, makanan tersebut tidak selalu sesuai dengan selera anak-anak. “Anak-anak saya kadang milih-milih. Kalau lagi ada lauk kayak ayam, baru dimakan. Tapi seringnya enggak disentuh,” tambahnya.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah adanya laporan tentang kasus keracunan makanan di beberapa daerah, termasuk Tangsel. Hal ini membuat sebagian orang tua mengambil langkah lebih hati-hati dalam memberikan MBG kepada anak-anak mereka.

“Kadang was-was juga. Udah dua mingguan ini anak saya di SMP enggak makan MBG. Takut keracunan,” ujar Mursinah.

Usulan Perubahan Program MBG

Senada dengan Mursinah, Asri, seorang ibu rumah tangga, menyarankan agar program MBG diganti dengan uang tunai yang bisa dikelola oleh orang tua. Ia merasa bahwa dengan uang tunai, orang tua dapat lebih memastikan jenis makanan yang dikonsumsi anak-anak mereka.

“Kalau saya sih mending diganti uang aja. Jadi saya tahu makanan apa yang dimakan anak saya. Lebih hemat juga, enggak dibuang,” ungkap Asri.

Asri juga mengungkapkan bahwa makanan MBG seringkali dibuang karena tidak dimakan dan sudah basi saat tiba di rumah. “Sayang banget, kadang nyampe rumah udah basi. Ya akhirnya dibuang. Enggak bisa dimakan lagi,” ujarnya.

Meski begitu, ia menyatakan bahwa pengelolaan makanan telah sedikit membaik. Contohnya, penggunaan mayones dalam kemasan saset agar lebih tahan lama. “Sekarang udah mulai pakai sasetan. Dulu dicampur langsung, cepat basi,” pungkasnya.

Pemantauan dan Evaluasi Kualitas Makanan

Seiring dengan peningkatan kekhawatiran, banyak orang tua berharap pihak sekolah dan dinas pendidikan melakukan pemantauan dan evaluasi lebih ketat terhadap kualitas makanan yang disajikan. Hal ini bertujuan agar anak-anak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup tanpa risiko kesehatan.

Beberapa usulan lain juga muncul, seperti penerapan sistem pengiriman makanan yang lebih efisien dan penggunaan bahan-bahan segar serta kemasan yang lebih aman. Dengan demikian, MBG dapat tetap menjadi program yang bermanfaat bagi anak-anak tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »