Misteri Dalang G30S/PKI: Dari Soeharto hingga Sukarno

·

·

Malam yang Menggantung di Jakarta

Langit malam Jakarta pada Kamis, 30 September 1965, menggantung rendah dan berat, seakan menekan kota yang diam. Lampu jalan berkelip redup, menyinari aspal yang basah oleh sisa hujan sore, memantulkan cahaya kuning kusam. Di gang-gang kecil, anjing menggonggong sesekali pecah, menandai betapa heningnya malam itu. Pedagang kaki lima yang biasanya ramai di tikungan Senen atau Menteng sudah menutup lapak lebih awal. Jalan utama dari Medan Merdeka menuju Halim terasa lengang, sepi dari mobil pribadi, hanya meninggalkan aroma solar dan debu tipis yang beterbangan.

Namun kesunyian itu seringkali dipatahkan. Deru berat mesin truk tentara melintas lambat, roda-roda besarnya menghentak jalan, membawa puluhan prajurit berseragam hijau dengan wajah tegang. Dari balik jendela rumah, warga mengintip dalam diam. Tidak ada yang berani bertanya, tapi rasa cemas merambat cepat, seolah udara malam itu menyimpan rahasia yang akan segera meledak. Suasana Jakarta malam itu bukan kota yang tertidur. Setiap sudutnya menahan napas. Sebuah malam yang menjadi salah satu titik paling kelam dalam sejarah Indonesia: Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau dikenal dengan G 30 S PKI. Ada pula yang menyebutnya Gestapu, akronim dari Gerakan September Tiga Puluh.

Versi yang Berbeda

Versi resmi yang bertahan puluhan tahun menyebut Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai pelaku sekaligus dalang kudeta. Namun, perjalanan waktu melahirkan banyak interpretasi lain. Ada versi yang berisi penilaian terhadap Angkatan Darat yang diduga melakukan “kudeta merayap” dengan meminjam tangan PKI. Ada pula yang menuding Soeharto, bahkan menyebut dirinya bekerja sama dengan CIA. Sementara versi lain menyebut CIA memanfaatkan Soeharto, atau Sukarno yang dianggap tidak bisa dipisahkan dari pusaran itu.

Soeharto sendiri, dalam buku The Smiling General karya sosiolog Jerman O.G. Roeder, menuturkan bahwa Brigjen Sugandhi sudah mengingatkan Bung Karno tentang potensi kup komunis. Di sisi lain, intelektual dunia seperti Noam Chomsky, dalam Necessary Illusions (Southend Press, 1989), merujuk pada editorial New York Times yang menyebut Amerika Serikat “bijaksana” karena tetap di belakang layar ketika Angkatan Darat melancarkan operasi penumpasan PKI. Editorial itu bahkan menilai keberhasilan melenyapkan tokoh-tokoh PKI sebagai “pengamanan bom waktu politik”.

Dokumen Rahasia AS

Kontroversi makin menguat ketika pada Oktober 2017, Amerika Serikat membuka 39 dokumen rahasia terkait tragedi 1965. Isi dokumen tersebut menyingkap rencana kudeta terhadap Sukarno, perintah pembunuhan massal oleh Soeharto, hingga bentuk dukungan terselubung AS terhadap operasi militer. Salah satu surat dari Norman Hannah, penasihat politik pasukan AS di Pasifik, kepada Dubes Marshall Green, tertanggal 23 Oktober 1965, menyebut kemungkinan bantuan berupa logistik, peralatan komunikasi, hingga senjata bagi Angkatan Darat Indonesia.

Literatur dan Tafsir Berbeda

Perdebatan soal siapa dalang G30S/PKI juga hidup melalui literatur. Buku Dalih Pembunuhan Massal (2008) karya John Roosa secara tegas menuding Soeharto. Sementara Siapa Sebenarnya Soeharto (2006) karya Eros Djarot menampilkan kesaksian para pelaku sejarah yang menawarkan perspektif berbeda. Ada pula pendekatan lain yang menilai kegagalan pemberontakan terjadi karena rapuhnya fondasi ideologis. Husnu Mufid, dalam Epilog Kudeta G30S/PKI: Siapa Melawan Siapa? (2008), menyoroti bagaimana Jenderal AH Nasution dijadikan korban fitnah di tengah kekacauan nasional.

Buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno, dan Soeharto (2018) karya Salim Haji Said, memadukan pengalaman langsung dan analisis akademis atas dokumen langka. Sementara Kegagalan Kudeta G30S PKI: Berdamai dengan Sejarah (2017) karya M. Fuad Nasar menekankan pentingnya generasi muda memahami prolog hingga epilog tragedi tersebut.

Luka yang Tak Kunjung Usai

Buku-buku itu menegaskan satu hal: G30S/PKI bukan hanya soal politik, tetapi juga soal budaya, trauma, dan ideologi bangsa. Setiap penulis membawa cara pandang yang berbeda, namun sama-sama mencoba mengisi celah sejarah yang masih penuh tanda tanya. Hingga hari ini, peristiwa G 30 S PKI tetap menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Sebagian publik menerima narasi PKI sebagai dalang, sementara yang lain meyakini keterlibatan Soeharto, CIA, bahkan Sukarno.

Yang pasti, tragedi 1965 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah luka kolektif yang diwariskan lintas generasi. Membaca literatur, menelaah dokumen, dan mendengarkan kesaksian membuat kita sadar bahwa sejarah tidak pernah hitam-putih. Sejarah adalah mosaik yang disusun dari kepentingan, tafsir, dan narasi yang saling berbenturan. Dengan menggali lebih dalam, generasi hari ini diajak untuk tidak sekadar menghafal, tetapi juga memahami. Sebab, misteri dalang G30S/PKI bukan hanya pertanyaan tentang masa lalu, melainkan juga tentang bagaimana bangsa ini belajar dari sejarah kelamnya.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »