Jangan Tergoda! HIV AIDS Masih Mengancam, Fakta: Siswa \’LSL\’ Positif di Denpasar

·

·

Permasalahan HIV/AIDS di Bali yang Masih Mengkhawatirkan

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Bali. Fakta bahwa jumlah penderita baru terus bertambah menunjukkan bahwa penyakit ini belum sepenuhnya terkendali. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan perlu terus dilakukan untuk mengurangi penyebaran penyakit ini.

Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui edukasi dan kampanye. Selain itu, akses ke fasilitas kesehatan dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS harus ditingkatkan serta mendorong perilaku aman seperti menggunakan kondom dan melakukan tes HIV secara rutin. Tidak kalah penting adalah mengeliminir atau setidaknya mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.

Permasalahan ini dibahas dalam acara pelatihan jurnalistik dan field trip yang diselenggarakan oleh Kelompok Jurnalis Peduli AIDS Bali bersama dengan AIDS Healthcare Foundation (AHF). Acara ini digelar untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dalam meliput isu HIV dan AIDS di Bali.

Penemuan Kasus HIV pada LSL dan Pelajar

Dewa Nyoman Suyetna, Pengelola Program HIV Klinik Utama WM Medika, Yayasan Kerti Praja, menyampaikan bahwa masih banyak kasus positif HIV pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki (LSL). Bahkan, kasus homoseksual dan heteroseksual ini terjadi pada usia-usia sangat muda termasuk para pelajar.

Contohnya, ada tiga kasus positif HIV yang diidap oleh tiga pelajar yang memeriksakan diri di klinik ini, dua diantaranya adalah LSL. Menurut data Yayasan Kerti Praja untuk bulan Juni 2025, dari ratusan orang yang dites, 15 orang dinyatakan positif. Angka positif berlanjut di bulan Juli (11 orang) dan Agustus (15 orang). Dari jumlah tersebut, rata-rata 10 orang adalah LSL.

Suyetna menjelaskan bahwa kelompok LSL menjadi yang paling rentan. Selain HIV, mereka juga terdeteksi banyak terjangkit Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya seperti sifilis. Tingginya angka kasus pada kelompok LSL disebabkan oleh sulitnya proses deteksi. Stigma negatif dari masyarakat dan bahkan keluarga membuat mereka enggan melakukan tes rutin.

Kendala dalam Penanganan HIV/AIDS

Penanganan HIV/AIDS menghadapi banyak kendala di lapangan, salah satunya adalah stigma masyarakat dan bahkan pemerintah. Suyetna menyoroti kurangnya dukungan pemerintah dalam pencegahan, khususnya terkait kondom. \”Salah satunya adalah kondom yang diedarkan pemerintah hanya dalam program KB saja. Padahal, pemerintah juga seharusnya membagikan kondom untuk pencegahan penularan,\” ujarnya.

Berbeda dengan LSL, Pekerja Seks Komersial (PSK) di Denpasar dan Badung menunjukkan kesadaran yang lebih baik dalam melakukan tes rutin. Namun, petugas kini kesulitan menjangkau PSK yang bertransaksi secara daring melalui aplikasi di media sosial termasuk MiChat.

Stigma dan Diskriminasi Harus Diberantas

Nana Widiestu, Koordinator Program AHF Indonesia, menambahkan bahwa diskriminasi terhadap pengidap HIV adalah masalah serius yang sering mereka hadapi. Stigma ini muncul akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

\”Salah satu isu yang menjadi konsen kami di AHF Indonesia, masalah pencegahan sangat diperlukan. Salah satunya yang paling murah dan efektif adalah penggunaan kondom. Tapi isu ini sensitif,\” ujar Nana.

AHF berharap isu kondom dapat diterima lebih luas sebagai upaya pencegahan. Ia juga mengapresiasi respons Pemerintah Provinsi Bali yang dianggap cukup responsif.

Edukasi Pencegahan HIV/AIDS Sejak Usia Dini

Dr Made Oka Negara, Ketua Forum Peduli AIDS (FPA) Bali, menyampaikan bahwa sepanjang 2024 setidaknya 2.006 orang dinyatakan positif HIV/AIDS di Bali, sementara sejak Januari-Juli 2025 sebanyak 1.193 kasus. FPA Bali dan Yayasan Kerti Praja menemukan banyaknya kasus positif pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki, bahkan kasus homoseksual dan heteroseksual ini datang di usia-usia sangat muda.

Saat ini yang masih menjadi tantangan adalah menghilangkan stigma (ending stigma) di masyarakat, sebab diskriminasi tersebut yang membuat seseorang yang potensial terjangkit HIV/AIDS enggan melakukan pemeriksaan bahkan pengobatan.

Kurikulum Edukasi Pencegahan HIV/AIDS

Oka Negara mengatakan bahwa pemerintah daerah sejak lama sudah ikut peduli melalui regulasi-regulasi yang membuat lembaga yang peduli terhadap HIV/AIDS lebih leluasa bekerja. Namun, semangat tersebut harus kembali dikuatkan, salah satu langkahnya dengan inovasi dalam program pencegahan dan penanganan kasus serta mengubah stigma masyarakat.

Forum Peduli AIDS (FPA) Bali mengusulkan pemerintah daerah menambah kurikulum edukasi terkait pencegahan dan penanganan HIV/AIDS sejak usia dini. Ia melihat solusi ini merupakan langkah besar untuk mencapai target mengakhiri kasus HIV/AIDS pada tahun 2030.

“Kita butuh edukasi seksual kalau bisa lewat kurikulum, karena masalahnya aktivitas seksual itu tersembunyi, kita tidak pernah tahu, berbeda dengan merokok atau pakai narkoba, jadi pada akhirnya penting membuat perilakunya sehat lewat pengetahuan,” katanya.

FPA Bali menilai di kondisi sekarang pencegahan memang penting, namun melihat sebaran HIV/AIDS yang mulai banyak menjangkit pelajar, menurut dia stigma buruk terhadap upaya-upaya penanganan juga menjadi penting. Oleh karena itu dalam kurikulum yang ditawarkan, ia mengajak tidak hanya edukasi agar tidak melakukan aktivitas seksual terutama dengan banyak lawan jenis yang dimuat, namun juga langkah pencegahan penularan penyakit seksual melalui alat kontrasepsi dari karet atau kondom misalnya.

Selain itu upaya penanganan setelahnya, sebab kerap kali temuan kasus terjadi pada orang yang kurang edukasi padahal saat ini obat untuk menekan sebarannya sudah ada dan mudah didapatkan.

“Kalau bisa dikomitmenkan lewat pengetahuan sehingga diberikan terstruktur dalam kurikulum, jadi nanti tergantung bentuk sekolah, kalau IPA bisa masuk pada pelajaran biologi karena ada materi reproduksi, IPS bisa sosiologi, jadi pasti ada tempat-tempatnya tinggal sesuaikan,” ujar Oka.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »