Lubang Kepala (Bagian Pertama)

·

·

Kehidupan Seorang Penulis yang Melihat Lubang di Kepala Orang Lain

R Abdul Azis adalah seorang penulis lepas yang karyanya telah tersebar di berbagai media massa. Beberapa bukunya yang telah terbit antara lain Situasi yang Tak Menyenangkan (kumpulan cerpen, 2018) dan Halaman Ganjil (kumpulan puisi, 2022). Namun, di balik karya-karyanya yang menginspirasi, ada kisah unik yang melatarbelakangi perjalanan hidupnya.

Setiap orang memiliki lubang di kepala. Ukurannya bervariasi, mulai dari yang sekecil pori-pori hingga sebesar mulut cangkir. Kadang lubang itu tampak samar, nyaris tak terlihat, tetapi bagi R Abdul Azis, ia tahu persis bahwa lubang itu selalu ada. Jika pada suatu malam asap hitam menyelinap masuk ke dalamnya, hampir bisa dipastikan ketika pemilik lubang itu terbangun, ia telah bermimpi buruk. Kemampuan ini diperolehnya jauh sebelum ia resmi menjadi pasien rumah sakit jiwa.

Pengalaman Awal yang Membentuk Persepsi

Barangkali enam belas atau tujuh belas tahun lalu, ketika usianya masih empat belas tahun, R Abdul Azis jatuh sakit. Panasnya tinggi, mencapai empat puluh derajat. Siang dan malam bergantian menyeret tubuhnya yang lemah ke ranjang. Selama hampir sebulan, panas itu naik turun seperti ayunan yang tak pernah berhenti. Empat dokter—satu dari puskesmas, satu dari klinik, dan dua dari rumah sakit yang berbeda—berusaha keras menyembuhkannya, tetapi semuanya tak menemukan jawaban pasti. Satu hal yang tak pernah ia lupakan adalah saat ia terbangun di suatu malam; kamarnya yang sempit hanya diterangi cahaya bohlam lima watt, dan ibunya duduk di tepi ranjang sambil menangis tanpa suara. Baru beberapa hari kemudian, ibunya mengaku bahwa malam itu ia sempat tidak bernapas selama tiga menit.

Sejak hari-hari demam panjang itu, matanya berubah. Ia mulai melihat sesuatu yang bagi orang lain mungkin terdengar mustahil. Korban pertamanya adalah teman sebangku di SMP. Di ruang kelas yang pengap, di antara bau kapur dan buku tulis yang mengelupas sampulnya, ia melihat lubang seukuran tutup botol di dekat telinga kirinya. Dengan panik, ia memberitahunya, dan kepanikan itu menular begitu cepat. Temannya menangis, histeris, hingga guru datang memeriksa kepalanya. Kemudian guru tersebut memarahinya karena dianggap membuat onar.

Pengalaman yang Mengajarkan Kesadaran

Ia tidak benar-benar ingat kejadian setelah itu, hanya kepingan-kepingan samar yang datang seperti kilatan lampu di malam hujan. Setelah teman pertamanya, ia mulai melihat lubang-lubang lain di kepala orang-orang. Ada yang sekecil ujung jarum, ada pula yang selebar mulut toples. Salah satu yang paling besar yang ia ingat adalah lubang di kepala sepupu perempuannya; begitu besar hingga ia bisa membayangkan jika ia mengintip ke dalamnya, ia akan melihat dunia lain yang berkabut.

Pengalaman-pengalaman itu mengajarkannya untuk diam. Hanya kepada sedikit orang ia berani bercerita. Sebab, setiap kali ia membuka mulut, amarah dan tuduhan gila datang bertubi-tubi. Dari situlah, ia mengerti bahwa tidak semua orang harus tahu apa yang bisa ia lihat.

Memahami Arti Lubang dan Asap

Butuh waktu dua tahun sampai ia memahami bahwa lubang-lubang itu bukan sekadar lubang. Ia adalah jalan keluar dan masuknya asap. Asap yang tak pernah bisa ia jelaskan asalnya—muncul tiba-tiba, menghilang begitu saja, seperti napas yang tertahan di antara mimpi. Ada asap hitam, ada asap putih. Ada yang tebal, menyesakkan dada, ada yang tipis, seperti kabut pagi di sawah. Perlahan ia mengerti, jika asap hitam masuk, pemilik lubang itu akan dihantam gelombang buruk: mimpi yang menghantui, kecelakaan kecil, atau hari-hari yang terasa lebih berat dari biasanya. Sementara asap putih, sebaliknya, membawa semacam kelegaan, seolah dunia yang berat mendadak menjadi ringan. Jika asap putih keluar, biasanya seseorang baru saja merelakan sesuatu yang lama ia genggam erat.

Kisah yang Mengubah Perspektif

Ia masih ingat suatu malam, lubang di kepala ibunya tiba-tiba tampak membesar, mengeluarkan asap putih yang pekat. Ia bertanya kepadanya dengan suara gemetar, takut-takut; apa yang terjadi? Ibu menghela napas, lalu berkata bahwa ia lega karena baru saja melunasi hutang yang selama ini membebankannya. Menurutnya, bertahun-tahun sakit kepala yang ia derita bukan karena darah tinggi atau kurang tidur, melainkan karena angka-angka di catatan utangnya yang terus menjerat pikirannya.

Kisah ini mengajarkan R Abdul Azis bahwa setiap orang memiliki rahasia yang tidak mudah diketahui. Dan ia pun akhirnya menerima dirinya sebagai seorang penulis yang memiliki kemampuan unik, meski sering kali dianggap aneh oleh orang lain.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »