Festival Film Madani: Kegiatan yang Menyajikan Banyak Hal
Festival Film Madani berlangsung mulai dari hari Rabu (8/10) hingga Minggu (12/10). Tahun ini, acara tersebut semakin beragam. Tidak hanya menonton film dan berdiskusi, tetapi juga ada pertunjukan dan pembahasan nonfilm. Lokasi utama acara adalah Taman Ismail Marzuki, Epicentrum XXI, Metropole XXI, dan Universitas Binus Alam Sutera. Jika kalian belum memiliki rencana akhir pekan, bisa mempertimbangkan untuk menghadiri festival ini.
Pada hari Sabtu (11/10), area Taman Ismail Marzuki sangat ramai dengan pengunjung. Ada banyak kegiatan yang tersedia, termasuk yang berkaitan dengan Festival Film Madani.
Diskusi tentang Film Garin Nugroho
Tujuan pertama saya adalah acara bertajuk Restropeksi Garin yang dihadiri oleh Garin Nugroho dan Philip Cheah, serta dikurasi oleh Hikmat Darmawan. Acara ini diselenggarakan di Teater Wahyu Sihombing, TIM.
Dalam diskusi ini, fokusnya adalah pada film-film Garin, termasuk film pendek yang jarang diketahui publik dan film-filmnya yang mendapat apresiasi di festival film internasional. Sayangnya, film-film tersebut tidak terlalu diapresiasi di dalam negeri.
Philip Cheah, yang terlibat dalam berbagai festival film Asia, memberikan pujian terhadap karya-karya Garin. Menurutnya, film-film Garin memiliki keragaman, isu-isu menarik, dan juga estetika yang unik.
Garin sendiri menyadari bahwa beberapa filmnya kurang mendapat perhatian di dalam negeri. Namun, hal itu tidak menjadi masalah baginya. Ia tidak mengikuti tren, dan bagi Garin, film adalah statement pribadinya.
Ia merasa bangga dan senang karena program retropeksi film-filmnya di Festival Film Madani, baik film pendek maupun film panjang yang bernafaskan Islam. Bulan ini, film-filmnya juga diputar kembali di berbagai museum, galeri, dan festival film lainnya di berbagai negara seperti Inggris dan Australia.
Film-Film Garin yang Bernafaskan Islam
Banyak orang awam tidak tahu bahwa film-film Garin tidak sedikit yang bernafaskan Islam, termasuk yang mengkritisi isu-isu sensitif. Contohnya, dalam film Aach…Aku Jatuh Cinta (2016), ada bait-bait Rumi yang memiliki unsur tasawuf. Lalu ada film Mata Tertutup (2011) yang mengkritisi keberadaan organisasi NII. Ada juga Rindu Kami Padamu (2004) yang kental dengan nafas Islam serta film 99 Nama Cinta yang Garin berperan sebagai produser.
Dalam film Badrun & Loundri, Garin juga mencoba mengangkat isu sensitif dalam Islam, yaitu ketika orang bermain-main dengan penampilan Islami untuk keuntungan pribadi.
Bagi Garin, menggunakan film sebagai sarana kritik dan mengangkat isu sensitif itu sangat berisiko. Ia sering cemas jika ada ancaman atau hal lainnya. Namun, ia akan terus berkreasi. Setelah Opera Setan Jawa dan Samsara yang merupakan expanded cinema, ia juga akan berkreasi dengan media seni lainnya seperti seni instalasi.
Film Pendek dan Isu ODHA
Setelah mengikuti diskusi Garin, saya naik ke lantai empat ke Studio Asrul Sani untuk menyaksikan Madani Kids Shorts Compilation. Ada tujuh film pendek anak-anak yang ditayangkan. Saya hanya kebagian film Lintang dan Kunang-kunang karya Agni Tirta. Film ini menceritakan tentang Lintang yang mengajak teman-temannya membersihkan sawah dan sekitarnya agar kunang-kunang kembali datang. Ia berharap orang tua pulang ketika kunang-kunang kembali muncul.
Acara dilanjutkan dengan pemutaran film Seperti Seharusnya karya Aroe Ama disertai diskusi Mitos dan Fakta HIV/AIDS: Antara Edukasi dan Disinformasi dengan narasumber Meirinda Sebayang dari Jaringan Indonesia Positif. Dalam film yang diperankan oleh Abirama Putra, Putri Ayudya, dan Yama Carlos ini, penonton diajak menyelami perasaan para penderita HIV yang sering mendapat stigma dari masyarakat. Film ini juga berisi pesan layanan masyarakat tentang metode penularan yang sering tidak diketahui awam.
Mei mendirikan Jaringan Indonesia Positif pada tahun 2014. Ia bercerita banyak orang masih mengira HIV hanya ditularkan oleh seks bebas, padahal bisa saja terjadi karena jarum suntik bergantian antar pengguna napza dan saat transfusi darah.
Dari melihat kasus yang dialami orang dengan HIV/AIDS rata-rata yang lebih cepat membunuh mereka adalah stigma dan diskriminasi masyarakat. Ia berpesan, \”Jangan lihat virusnya, tapi manusianya.\”
Performa Musik dan Film Layar Tancap
Setelah mengikuti acara di dalam ruangan berturut-turut, saya pun menuju keluar. Ada performa Almamosca di Plaza Teater Besar. Malamnya juga ada layar tancap Jakarta is Mine dan performa Panji Sakti.
Hari ini bakal banyak acara hingga malam. Jadi, jika ingin akhir pekan yang seru dan gratis, kalian bisa datang ke Festival Film Madani.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.