Kisah-Kisah Syukur yang Mengajarkan Makna Kehidupan
Seorang rohaniwan dan dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur, memberikan refleksi mendalam tentang makna syukur dalam kehidupan manusia. Dari kisah-kisah dalam Kitab Suci, ia menunjukkan bahwa rasa syukur adalah bentuk pengakuan terhadap kasih Allah yang tidak berbatas.
Kisah Naaman dan Elisa: Ketundukan yang Membuka Ruang Kasih
Naaman, seorang panglima besar Aram, memiliki kekuatan dan kemewahan, tetapi hidupnya terganggu oleh penyakit kusta. Ia datang kepada Elisa, nabi Israel, dengan harapan akan diberi perawatan yang luar biasa. Namun, Elisa hanya memerintahkannya untuk mandi tujuh kali di Sungai Yordan. Awalnya, Naaman marah karena merasa perintah itu terlalu sederhana. Namun, ketika ia mengikuti perintah tersebut, ia sembuh. Bukan karena air sungai, tetapi karena ketaatan yang membuka ruang bagi kasih Allah bekerja.
Setelah sembuh, Naaman ingin memberikan hadiah sebagai tanda terima kasih. Elisa menolak, karena ia tahu bahwa kuasa penyembuhan berasal dari Allah sendiri. Baginya, syukur bukanlah tentang menerima balasan, melainkan menjadi sarana kasih Allah bagi sesama. Naaman juga tidak berhenti pada kesembuhan jasmani. Ia membawa tanah dari Israel ke Aram, agar bisa mempersembahkan kurban kepada Allah yang hidup. Ia berkata, “Hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan kurban bakaran atau kurban sembelihan kepada allah lain, kecuali kepada Tuhan.” (2Raj 5:17).
Paulus: Syukur dalam Penderitaan
Dalam kitab Surat Paulus kepada Timoteus, kita melihat bagaimana Paulus bersyukur meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan. Di tengah penjara Roma, ia menulis, “Ingatlah akan Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.” Meskipun ia menderita dan dibelenggu seperti seorang penjahat, ia tetap bersyukur. Baginya, bersyukur bukan berarti menghindari salib, melainkan menemukan makna di dalamnya. Ia percaya bahwa jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan-Nya.
Kesetiaan dalam penderitaan menjadi bentuk syukur yang paling murni, karena di sana tidak ada pamrih, hanya cinta. Seperti Elisa dan Naaman, Paulus menunjukkan bahwa orang yang bersyukur tidak mencari balasan, melainkan bertekun dalam kasih yang menghidupkan.
Orang Samaria: Syukur yang Menumbuhkan Iman
Dalam Injil Lukas, kita melihat kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus. Namun, hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih—seorang Samaria. Ia sadar bahwa dirinya tidak layak menerima kasih sebesar itu. Ia kembali, “memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.” (Luk 17:15–16). Ia bersyukur bukan hanya karena sembuh, tetapi karena disapa oleh cinta yang mengangkat martabatnya.
Sembilan yang lain pergi tanpa kembali, mungkin karena merasa berhak atas anugerah itu. Kita pun sering demikian—cepat berlari kepada Tuhan saat butuh pertolongan, tetapi lamban untuk kembali berterima kasih. Yesus berkata kepada orang Samaria itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk17:19). Syukur menumbuhkan iman, dan iman memperdalam syukur. Orang yang bersyukur tahu bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri, melainkan anugerah yang mesti dikembalikan kepada Allah.
Refleksi Modern: Syukur dalam Kehidupan yang Penuh Ketidakpastian
Banyak orang modern mengejar keberhasilan, tetapi kehilangan rasa dicintai. Mereka mencapai puncak, tetapi merasa hampa. Kebahagiaan sejati hanya ditemukan ketika seseorang sadar bahwa ia dicintai tanpa syarat oleh Allah. Pada 24 Oktober 2024, Paus Fransiskus dalam ensiklik Dilexit Nos menyerukan pembaruan devosi kepada Hati Yesus—Hati yang ilahi dan manusiawi, yang “mencintai dan menyerahkan diri-Nya bagi dunia.” Dari hati itulah mengalir sumber syukur dan solidaritas.
Dua hari lalu (9 Oktober 2025), Paus Leo XIV dalam seruan Dilexi Te menegaskan bahwa syukur sejati dan iman yang hidup hanya tumbuh dari keyakinan bahwa kita dicintai tanpa syarat oleh Allah. Merasa dicintai dan dimiliki oleh Allah adalah jangkar kepastian bagi orang beriman. Dengan keyakinan itu, setiap orang beriman dapat menjalani hidup dalam suasana saling peduli.
Dalam Luk. 17: 5, para murid memohon kepada Yesus, “Tuhan, tambahkanlah iman kami.” Kali ini kita pun boleh menambahkan: “Tuhan, tambahkanlah rasa syukur kami, karena Engkau telah mencintai kami.” Amin.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.