Sejarah Bersejarah Makam Panglima Minal dan Makam Dara Sembilan
Di Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis, terdapat dua makam bersejarah yang menjadi bagian dari sejarah penting wilayah ini. Yaitu Makam Panglima Minal dan Makam Dara Sembilan. Kedua makam ini memiliki kisah yang unik dan penuh makna bagi masyarakat setempat.
Kisah Panglima Minal
Panglima Minal adalah tokoh penting dalam sejarah Bengkalis. Ia dikenal dengan nama asli Gombak Bauk, yang berasal dari Batu Sangkar, Sumatra Barat. Gombak Bauk datang ke tanah Negeri Junjungan saat Bengkalis masih dikuasai oleh lanun atau perampok laut. Perampokan yang sering terjadi di perairan Selat Bengkalis dan Tanjung Jati membuat masyarakat resah.
Kemudian Raja Siak mengumumkan sayembara untuk membasmi para lanun tersebut. Pemenangnya akan diberi gelar panglima. Gombak Bauk mendengar sayembara ini dan secara diam-diam pergi ke perairan Tanjung Jati. Di sana ia menantang pimpinan lanun dan berhasil mengalahkannya. Para lanun ditawan dan dibawa ke hadapan Raja Siak.
Sebagai bentuk penghargaan, Raja Siak memberikan gelar Panglima kepada Gombak Bauk dengan nama Panglima Minal. Setelah itu, ia pindah ke Pulau Bengkalis bersama istrinya dan menjadi Laksamana yang menjaga perairan Selat Bengkalis.
Cerita Makam Dara Sembilan
Makam Dara Sembilan merupakan tempat peristirahatan sembilan dara putri dari Bathin Hitam. Menurut cerita yang disampaikan oleh Baharuddin (54), penjaga situs bersejarah tersebut, makam ini awalnya merupakan sebuah benteng yang berbentuk goa. Benteng ini dibangun untuk melindungi sembilan putri dari penculikan oleh Portugis.
Saat Portugis datang, mereka langsung membawa sembilan dara ke dalam benteng dan mengunci pintunya. Ketika Portugis hampir mendekati, penjaga kunci membuang kunci tersebut agar tidak diketahui oleh penjajah. Penjaga ini kemudian bergabung dengan pasukan lainnya untuk bertempur.
Akhirnya, Batin Senggoro dan pasukannya berhasil mengusir Portugis. Namun, karena lama berada di dalam benteng, kesembilan dara tersebut akhirnya meninggal dunia karena kelaparan. Sejak saat itulah tempat ini diberi nama Makam Dara Sembilan.
Peringatan Hari Jadi Bengkalis
Tanggal 30 Juli tiap tahunnya diperingati sebagai hari jadi Bengkalis. Pada tahun 2021 ini, Bengkalis sudah memasuki usia ke-509. Peringatan hari jadi ini digelar dalam Rapat Paripurna Istimewa di Gedung Paripurna DPRD Bengkalis.
Ketua DPRD Bengkalis, Khairul Umam, mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan perjuangan rakyat Bengkalis pada masa penjajahan Portugis. Perjuangan ini terjadi pada tanggal 30 Juli 1512, ketika masyarakat Bengkalis dibawah pemerintahan Bathin Senggoro berhasil mengusir Portugis yang ingin menduduki Bengkalis.
Menurut Khairul Umam, perjuangan ini sangat heroik. Pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah dari Melaka mengutus Hang Nadim ke Bengkalis, Bukit Batu, dan Siak Gasib. Hang Nadim diutus untuk memperbincangkan kesiapan melawan Portugis di Melaka.
Bengkalis yang saat itu bernama Bathin Senggoro menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Laksamana Bathin Hitam. Pasukan ini kemudian berkumpul di Kuala Muar dan bergabung dengan pasukan Hang Nadim. Pada bulan Juli 1512, pasukan gabungan menyerang Portugis di Melaka dan berhasil mengeser pasukan tersebut mundur hingga ke Muar.
Setelah itu, pasukan dari Bengkalis kembali ke pulau untuk mengatur kesiapan perang lagi. Serangan yang dilakukan oleh Portugis ke Bengkalis dan Bukit Batu berhasil ditahan oleh strategi yang mantap serta bantuan pasukan dari Siak.
Peristiwa ini menjadi peristiwa paling bersejarah bagi masyarakat Bengkalis. Oleh karena itu, tanggal 30 Juli 1512 ditetapkan sebagai hari jadi Bengkalis yang diperingati sejak tahun 2004 lalu dan telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Bengkalis.
Khairul Umam menegaskan bahwa esensi dari perjuangan ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi menunjukkan bahwa tanah Bengkalis adalah tanah yang bermarwah dan bertuan. Negeri ini juga memiliki putra-putri yang rela mati mempertahankan marwah.
Prosesi peringatan hari jadi ini menjadi cara untuk mengingatkan masyarakat bahwa mereka memiliki rasa hormat kepada pendahulu mereka. Menghormati sejarah sama dengan menghormati diri sendiri karena hari ini berpangkal dari masa lalu.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.