Makassar Siap Jadi Gerbang Pariwisata Timur Indonesia
Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sedang mempersiapkan diri untuk menjadi destinasi pariwisata yang mumpuni di kawasan timur Indonesia. Kota yang dikenal dengan julukan Anging Mamiri ini akan mencatat sejarah baru dengan berdirinya hotel bintang lima pertama di wilayah tersebut.
Grand Mercure, sebuah hotel bintang lima yang termasuk dalam jaringan Accor Group, telah resmi dimulai pembangunannya pada Jumat (26/9/2025). Lokasinya berada di Jl Metro Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate. Pembangunan ini diharapkan menjadi katalis bagi perkembangan sektor pariwisata, Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE), serta investasi di wilayah Indonesia Timur.
Peran Hotel Bintang Lima dalam Perekonomian Makassar
Menurut akademisi Politeknik Pariwisata Makassar, Islahuddin, kehadiran hotel bintang lima menandakan kesiapan Makassar untuk berkompetisi dalam industri pariwisata modern dan berkelanjutan. Fasilitas dengan standar internasional memberikan sinyal kepada pasar global bahwa Makassar mampu menyelenggarakan pariwisata berkelas, baik wisata bahari, wisata budaya, maupun kegiatan MICE.
Hotel bintang lima tidak hanya menjadi tempat akomodasi mewah, tetapi juga bagian dari infrastruktur strategis yang memperkuat citra Makassar sebagai gerbang kawasan timur Indonesia. Dampak positifnya terhadap perekonomian sangat signifikan. Secara teori, pembangunan hotel bintang lima memiliki multiplier effect yang besar terhadap perekonomian Makassar dan Sulsel.
Hotel bintang lima tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga menggerakkan rantai pasok lokal, seperti nelayan, petani, hingga pengrajin. Selain itu, keberadaan international chain hotel dapat meningkatkan kapasitas kota untuk menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara, serta mendorong aktivitas bisnis.
Strategi Investasi yang Tahan Terhadap Krisis
Investasi di bidang perhotelan membutuhkan strategi jitu, mengingat kondisi perekonomian dalam negeri dan global sulit ditebak. Menurut Islahuddin, daya tahan investasi hotel bintang lima sangat dipengaruhi oleh segmen pasar yang disasar. Wisatawan bisnis dan penyelenggara event internasional relatif lebih stabil dibanding wisatawan leisure murni, bahkan di masa krisis global.
Namun, risiko penurunan okupansi tetap ada. Oleh karena itu, hotel di Makassar harus mengadopsi strategi diversifikasi layanan. Misalnya, menggabungkan wisata bahari, kuliner lokal, serta fasilitas digital untuk konferensi hybrid. Dengan pendekatan ini, investasi di sektor hotel berbintang masih memiliki peluang bertahan, asalkan dikelola adaptif dan berbasis inovasi.
Potensi Makassar Sebagai Destinasi Wisata
Kota Makassar diyakini bisa menjadi destinasi wisatawan lokal maupun mancanegara. Keunggulan Makassar terletak pada posisinya sebagai pusat logistik dan bisnis kawasan timur Indonesia. Adanya pelabuhan besar, akses ke universitas ternama, serta jaringan bisnis membuat Makassar cukup kompetitif sebagai destinasi MICE.
Meski belum setara Bali dalam hal brand global jaringan penerbangan internasional, Makassar memiliki keunggulan dibanding Manado. Namun, tantangannya adalah memperkuat citra atau branding destinasi, meningkatkan kualitas layanan pariwisata, dan konsisten menyelenggarakan event berskala besar agar Makassar masuk ke pantauan internasional.
Langkah-Langkah untuk Menarik Wisatawan
Untuk menarik wisatawan, diperlukan pendekatan integrative yang melibatkan berbagai pihak. Pertama, memastikan konektivitas udara dan laut yang memadai dengan harga kompetitif. Kedua, memperkuat promosi berbasis digital agar citra Makassar dikenal luas. Ketiga, menjamin keamanan, kenyamanan, serta kebersihan destinasi wisata.
Selain itu, pemerintah dapat mempercepat kolaborasi dengan kampus pariwisata, seperti Politeknik Pariwisata Makassar, untuk meningkatkan kualitas SDM lokal. Sinergi antara infrastruktur, promosi, dan sumber daya manusia akan memperkuat daya tarik Makassar di mata wisatawan domestik maupun internasional.
Standar Pelayanan yang Berkembang
Standar hospitality di Makassar sudah menunjukkan perkembangan positif, terutama dengan hadirnya hotel berbintang yang membawa standar pelayanan internasional. Namun, masih ada tantangan pada konsistensi pelayanan dan keterampilan SDM lokal dalam melayani dan bersaing di pasar global.
Untuk memenuhi syarat sepenuhnya, pelaku MICE di Makassar disarankan memperkuat kompetensi bahasa asing, kemampuan digital event management, serta penerapan prinsip hospitality yang dilandasi budaya dan kearifan lokal. Dengan begitu, akan memberikan pengalaman unik bagi pengunjung.
Cara peningkatannya melalui pendidikan vokasi, pelatihan berkelanjutan, dan kolaborasi industri–kampus. Dengan pendekatan ini, standar hospitality Makassar akan mampu bersaing di tingkat regional maupun global.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.