DMC Dompet Dhuafa Soroti Kerentanan Masyarakat Pesisir di ADEXCO 2025

·

·

Peran Dompet Dhuafa dalam Membangun Ketangguhan Masyarakat Pesisir

Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi masyarakat pesisir Indonesia yang semakin rentan akibat berbagai ancaman seperti abrasi, kenaikan permukaan laut, serta potensi bencana geologis seperti gempa dan tsunami. Isu ini diangkat dalam forum pameran internasional Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference (ADEXCO) 2025 pada Jumat (12/9/2025). Forum dengan tema “Ancaman dari Tepi Pantai: Mencari Strategi Nasional untuk Resiliensi Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil” digelar di Hall B3 Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta.

Partisipasi DMC Dompet Dhuafa dalam forum ini sangat relevan mengingat posisi Indonesia yang rawan terhadap bencana alam. Dalam sesi diskusi, DMC menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kebijakan dan aksi nyata di lapangan. Kolaborasi ini diyakini dapat meningkatkan ketangguhan masyarakat pesisir dalam menghadapi krisis iklim dan risiko bencana di masa depan.

DMC Dompet Dhuafa juga mempertegas komitmennya untuk membangun ketangguhan masyarakat pesisir serta berkontribusi dalam mewujudkan strategi nasional resiliensi pesisir dan pulau kecil. Menurut Manajer Program Bidang Lingkungan DMC Dompet Dhuafa, Ahmad Baihaqi, lembaga ini hadir untuk mendukung program ketangguhan pesisir dengan memastikan pemenuhan hak dasar masyarakat terdampak iklim.

Hak dasar tersebut mencakup akses air bersih, ruang hidup yang layak, serta ekosistem pesisir yang tetap terpelihara. Selain itu, DMC akan mengembangkan ekonomi tangguh bencana sebagai alternatif agar warga tetap berdaulat pangan meski hasil tangkapan ikan menurun.

Perspektif Baru dari Forum ADEXCO

Selain Dompet Dhuafa, forum yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) ini juga menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor. Ketua Rumah Literasi Pulau Seribu, Mahariah Sandri, mengaku mendapatkan perspektif baru dari forum tersebut. Ia berharap, forum yang mempertemukan pemerintah, NGO, dan masyarakat ini, mampu menciptakan ruang kolaborasi yang lebih luas ke depannya.

“Dulu saya nggak nyangka ada korelasi antara penyelamatan lingkungan dengan upaya menunda bencana. Setelah terlibat di isu kebencanaan, seperti jadi paham bahwa krisis iklim bisa disebut silent disaster karena dampaknya muncul secara perlahan namun pasti,” ungkap Mahariah.

Sementara itu, salah satu peserta seminar, Nita, menyampaikan apresiasinya atas materi yang dibawakan para narasumber. “Kegiatan ini sangat bermanfaat dan inspiratif. Saya jadi tahu bagaimana pentingnya edukasi lingkungan. Menurut saya, penyuluhan seperti ini perlu diperluas ke seluruh daerah di Indonesia,” katanya.

Pameran Inovasi Teknologi Kebencanaan

Selain menggelar forum diskusi, perhelatan The 4th ADEXCO juga menghadirkan pameran berbagai inovasi teknologi kebencanaan dan perlindungan sipil yang diikuti oleh lebih dari 600 perusahaan dari 40 negara untuk mendukung transformasi industri berkelanjutan. Pameran ADEXCO 2025 diharapkan dapat menumbuhkan semangat inovasi dan kolaborasi teknologi kebencanaan dalam negeri.

Dengan demikian, Indonesia mampu memperkuat ketangguhan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa depan. Forum ini menjadi momen penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat akan ancaman bencana dan membangun strategi bersama dalam menghadapinya.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »