Cara Menghindari Konten Menakutkan di Media Sosial

·

·

Konten Mengerikan yang Mengganggu dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

Konten-konten yang mengerikan atau mengganggu sering kali menjadi viral di media sosial. Contohnya, video penembakan Charlie Kirk dan video kondisi Raya, balita asal Sukabumi yang meninggal akibat infeksi cacing. Konten-konten seperti ini mudah sekali menyebar dan sulit untuk dihindari dalam dunia digital saat ini.

Media sosial dirancang untuk memaksimalkan angka keterlibatan, bukan melindungi ketenangan batin. Oleh karena itu, kita sering kali terpapar konten yang sebenarnya tidak ingin kita lihat. Beberapa tahun terakhir, platform-platform besar juga telah mengurangi upaya moderasi konten, sehingga konten yang menimbulkan ketidaknyamanan lebih mudah muncul di linimasa tanpa kita sadari.

Perlu kita sadari bahwa kita tidak perlu mengonsumsi setiap konten yang muncul di layar. Melindungi diri sendiri bukan berarti menghindari masalah atau menyangkal fakta. Sebaliknya, ini adalah cara untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan.

Sebagai peneliti yang mendalami dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental, saya menemukan beberapa langkah efektif untuk menjaga diri di dunia maya tanpa mengorbankan wawasan dan empati.

Pentingnya Memilah Konten yang Dikonsumsi

Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten penuh kekejaman atau menyeramkan dapat meningkatkan stres, memperburuk kecemasan, dan memunculkan perasaan putus asa. Dampak tersebut tidak hanya jangka pendek, tetapi juga bisa mengikis sumber dukungan emosional, seperti kehadiran orang terdekat. Padahal, dukungan tersebut adalah dasar untuk memedulikan diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, membatasi perhatian merupakan bentuk merawat diri sendiri. Bukan berarti kita menarik diri dari ruang digital. Justru, tindakan ini adalah cara menjaga kewarasan, aspek penting dalam kreativitas kita.

Seperti makanan, tidak semua hal di atas meja bisa kita makan. Kita tak akan mengonsumsi makanan beracun atau kedaluwarsa semata-mata karena makanan itu terhidang di meja kita. Dengan konsep yang sama, tidak semua konten yang disuguhkan perlu diperhatikan. Selektif terhadap konten yang dikonsumsi akan memengaruhi kesehatan mental kita.

Langkah Praktis untuk Mengurangi Konten Mengganggu

Berikut beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemunculan konten mengerikan atau mengganggu:

  • Menonaktifkan autoplay atau memilih pengaturan pembatasan konten sensitif. Pengaturan ini bisa berbeda-beda tergantung perangkat, sistem operasi, versi aplikasi yang digunakan—dan dapat berganti-ganti pula jika ada pembaruan.

  • Atur filter kata kunci. Mayoritas platform memungkinkan kita untuk membisukan (mute) kata-kata, frasa, atau tagar spesifik. Filter ini mengurangi kemunculan konten video, foto, atau teks yang mengganggu.

  • Atur linimasa atau feed kita. Unfollow akun-akun yang sering membagikan konten mengganggu. Ikuti akun yang mengunggah konten penuh pengetahuan, interaksi bermakna, dan keceriaan.

  • Terapkan batasan. Tetapkan waktu-waktu tertentu untuk lepas dari ponsel, misalnya saat makan atau menjelang tidur. Riset menunjukkan bahwa jeda yang disengaja ini dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Jaga Diri Sendiri

Media sosial tidaklah netral. Algoritma media sosial dibuat sedemikian rupa untuk mendapatkan dan mempertahankan perhatian kita. Termasuk dengan menyebarkan konten yang mengganggu atau sensasional.

Menonton konten secara pasif, alias tak benar-benar menyadari apa yang kita konsumsi, hanya akan menguntungkan para perusahaan media sosial. Kita perlu mengatur alokasi perhatian untuk menjaga diri.

Tak bisa dimungkiri bahwa dorongan mengikuti suatu berita secara terus-menerus memang sangat kuat, apalagi di masa krisis. Namun, memilih untuk tidak menyaksikan setiap gambar mengganggu bukanlah bukti ketidakpedulian. Justru, ini merupakan tindakan memedulikan diri.

Mengalihkan perhatian ke hal lain menjaga kemampuan kita untuk bertindak secara bermakna. Ketika perhatian kita terpecah, energi kita hanya terserap ke keterkejutan dan kemarahan. Ketika perhatian kita terfokus, kita bisa memilih mau bereaksi dan bertindak seperti apa.

Kita punya kekuatan untuk menerapkan batasan. Entah dengan menonaktifkan autoplay, memfilter konten, atau mengatur linimasa—semua tindakan tersebut merupakan upaya kita mengontrol konsumsi konten.

Bacaan Lebih Lanjut

Saya adalah direktur eksekutif dari Post-Internet Project, sebuah inisiasi nonprofit untuk membantu individu menghadapi tantangan psikologis dan sosial di dunia maya. Saya bersama dengan tim mendesain intervensi berbasis bukti bernama PRISM untuk membantu individu mengelola penggunaan media sosial mereka.

Program kami yang berbasis riset menekankan pada kemampuan diri dan penyesuaian tujuan dan nilai diri sebagai kunci membangun pola konsumsi media yang lebih sehat. Kamu juga dapat mencoba proses PRISM melalui kelas daring “Values Aligned Media Consumption” yang saya luncurkan melalui Coursera pada 2025. Kelasnya dapat dicari dengan mengetik Annie Margaret dari University of Colorado Boulder di Coursera. Kelas ini ditujukan untuk individu berusia di atas 18 tahun dan videonya dapat disaksikan gratis.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »