Antara Bisnis dan Kemanusiaan, Perjuangan Agen Pegadaian di Ujung Negeri

·

·



KUPANG, ASKAI.ID – Isi Ulang Game Murah

Waktu Malam yang Menjadi Penyelamat

Pukul 22.05 Wita, jarum jam menunjukkan waktu yang cukup larut. Di sebuah kios kecil di Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), pintu kios berulang kali diketuk. Suara itu membangunkan Kasma Tang, seorang ibu rumah tangga berusia 46 tahun, yang baru saja rebahan di tempat tidur setelah seharian melayani pembeli dan nasabah.

Dengan segera, ia mengambil handphone miliknya yang diletakkan di atas meja kamar. Terlihat tiga panggilan tak terjawab dari nomor baru. Dengan cepat, ia membuka pintu kios. Seorang wanita paruh baya dengan wajah panik mendekatinya.

\”Maaf ibu, tadi saya yang telepon. Ada nomor telepon di spanduk di depan kios. Saya terpaksa datang untuk gadai kalung karena keperluan mendadak,\” kata Maria Rosalina Aek (48).

Maria berasal dari Lurasik, Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ia menjelaskan bahwa ibunya sedang sakit keras dan dirawat di Rumah Sakit Marianus Halilulik. Rencananya, ibunya akan dirujuk ke Kota Kupang dan membutuhkan biaya besar.

Dalam kondisi panik, ia hanya bisa berpikir satu hal: mencari dana cepat melalui gadai, meski telah larut malam. \”Kalau harus ke Kantor Pegadaian di Atambua (ibu kota Kabupaten Belu), jelas sudah tutup. Syukurlah ada agen di Halilulik ini yang buka sampai tengah malam,\” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa banyak tanya, Kasma mengangguk, mengambil buku pencatatan dan membuka laci kecil berisi uang. Ia menerima gadaian kalung milik Maria, memproses lewat aplikasi digital, dan menyerahkan uang tunai sebesar Rp 5 juta. Di tengah sunyi malam, transaksi sederhana itu menjadi penolong bagi nyawa seorang warga.

Peran Agen Pegadaian dalam Masyarakat

Ucapan terima kasih mengalir deras dari mulut Maria, begitu menerima segepok uang. Baginya, Kasma adalah penyelamat di saat dia berada dalam kondisi sulit. Tak menunggu lagi, Maria segera bergegas menuju rumah sakit. Ibunya yang kritis, dirujuk ke Rumah Sakit Umum WZ Johannes Kupang yang berjarak lebih dari 200 kilometer untuk penanganan medis lebih lanjut.

Semua uang yang dia bawa digunakan untuk membayar sewa ambulans, serta keperluan sehari-hari dan beli obat saat berada di Kota Kupang selama dua minggu hingga orangtuanya sembuh. \”Puji Tuhan, uang yang saya bawa itu sangat membantu waktu di Kupang bulan April 2025 lalu,\” kata Maria mengenang kejadian yang tak akan pernah ia lupa.

Maria mengaku baru pertama menggadai di tempat Kasma. Selama ini, dia biasa meminjam uang di tetangga dan kerabat, saat sedang membutuhkan uang. Namun, karena jumlah yang dibutuhkan lumayan besar, sehingga tidak ada yang berani meminjamkannya. Atas saran kenalannya, dia diarahkan ke agen pegadaian Kasma, meski jaraknya jauh dan beda kabupaten.

Dia tak menyangka, walau telah larut malam, Kasma masih sempat melayaninya. Ia menilai apa yang dilakukan Kasma tak sekadar hanya mengejar keuntungan semata. Apalagi, pelayanan Kasma, menurutnya, tak berbelit-belit. Prosesnya pun cepat.

Kepercayaan dan Fleksibilitas

Gregorius Halek (36), petani jagung asal Halilulik, juga mengalami pengalaman serupa. Pria bertubuh tambun itu menyebut agen pegadaian Kasma menjadi tempat ia bertahan saat musim paceklik tiba. Hasil panen jagung yang tak seberapa, kerap membuat dapurnya nyaris tak berasap.

“Kalau anak-anak mau masuk sekolah, butuh uang beli seragam dan buku, biasanya saya gadaikan motor. Setelah panen baru saya tebus lagi. Agen selalu mengerti kondisi kami, bahkan mereka kadang masih melayani sampai malam,” tuturnya sambil menghela napas lega.

Gregorius mengaku lebih nyaman datang ke agen Pegadaian ketimbang mencari pinjaman rentenir. “Kalau ke orang lain, bunganya tinggi sekali. Tapi di Pegadaian jelas dan aman,” tambahnya.

Gregorius kini bahkan mulai membuka tabungan emas. Tabungan emas menjadi pilihan Gregorius karena bisa dimulai dari nominal sangat kecil, bahkan setara harga segelas kopi. “Kalau ada uang lebih, walau hanya Rp 50.000, saya setor. Lama-lama terkumpul juga. Rasanya tenang punya simpanan, apalagi dalam bentuk emas,” ujarnya.

Kehidupan Seorang Agen Pegadaian

Agen Pegadaian seperti Kasma adalah perpanjangan tangan dari perusahaan milik negara, yang kini hadir hingga ke pelosok desa yang berada di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Sejak Bulan Oktober 2015, ia dipercaya membuka layanan Pegadaian agen mikro di rumahnya.

Gerai agen pegadaian, digabungkan dengan kios sembako sederhana yang berada persis di depan rumah. Awalnya, ia hanya melayani warga sekitar untuk kebutuhan biaya sekolah anak atau modal usaha kecil. Namun seiring waktu, permintaan semakin beragam, termasuk untuk kebutuhan mendesak seperti biaya berobat.

“Kadang ada yang datang malam-malam, bahkan hampir jam 11. Saya tidak tega menolak, karena mereka benar-benar butuh,” kata Kasma kepada ASKAI.ID, Minggu (28/9/2025).

Kasma mengakui keuntungan dari menjadi agen tidaklah besar. Komisi dari setiap transaksi hanya beberapa persen. Namun, ia merasa ada kepuasan batin ketika bisa menolong tetangga atau kenalan yang sedang terjepit.

Solusi di Daerah Perbatasan

Di daerah perbatasan seperti Halilulik, akses layanan keuangan formal masih terbatas. Bank konvensional jaraknya jauh, prosedurnya berbelit, dan tidak semua warga punya jaminan atau rekening. Pegadaian, lewat jaringan agen, hadir sebagai solusi cepat.

Menurut data Pegadaian Atambua, hingga September 2025 ada lebih dari 269 agen Pegadaian tersebar di Kabupaten Belu. Mereka menjadi “penolong darurat” bagi masyarakat kecil yang kerap menghadapi kebutuhan dana mendesak.

Peran agen ini sangat strategis, apalagi di perbatasan. Mereka tidak hanya soal bisnis, tapi juga soal sosial, membantu warga yang kesulitan. Dengan penuh semangat, Kasma bertekad menjadi Agen bersama Pegadaian #mengEMASkan Indonesia dari beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penjaga Harapan di Tapal Batas

Kisah Kasma sebagai agen Pegadaian di Belu mencerminkan wajah pelayanan keuangan inklusif di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Dia bukan hanya operator bisnis negara, tetapi juga bagian dari solidaritas komunitas.

Di tapal batas, di mana akses terbatas dan masalah ekonomi sehari-hari menjadi tantangan, agen Pegadaian hadir sebagai penjaga harapan. Dari meja kecil di kios sederhana, Kasma menjadi penghubung antara kebutuhan mendesak masyarakat dan solusi yang cepat, walau harus melayani hingga larut malam.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »