Bapanas Tanggapi Temuan 1.200 Ton Beras Rusak di Ternate

·

·

Penjelasan Bapanas Mengenai Temuan Beras Tidak Layak Konsumsi di Maluku Utara

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan pernyataan terkait temuan beras sebanyak 1.200 ton yang tidak layak dikonsumsi di Ternate, Maluku Utara. Beras tersebut telah disimpan selama lebih dari setahun dan ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan. Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menjelaskan bahwa semua bantuan pangan yang ditugaskan ke Bulog, khususnya yang akan datang pada bulan Oktober-November 2025, harus dalam kondisi baik.

\”Jadi, walaupun di gudang ada 1-2 yang memang harus direproses atau di-
quality control
gitu ya, tetapi sampai ke konsumen itu harus dalam kondisi baik, itu yang utama,\” ujar Arief di Kantor Kemenko Pangan pada Senin (29/9/2025).

Pentingnya Pengawasan dan Percepatan Penyaluran

Arief menekankan pentingnya pengawasan terhadap penyaluran beras agar tidak terjadi penyimpanan berlebihan di gudang hingga akhirnya tidak layak dikonsumsi. Ia juga mengungkapkan bahwa rencana awal tahun ini adalah untuk mengeluarkan 1,5 juta ton beras hingga akhir tahun. Saat ini masih tersisa 1 juta ton yang harus dikeluarkan.

\”Kita semua harus awasi, kita semua harus bantu bagaimana supaya pengeluaran Bulog itu juga bisa sebaik yang kita rencanakan karena sudah kita rencanakan dari awal tahun sampai dengan akhir tahun itu 1,5 juta ton harus keluar. Ini masih ada 1 juta ton yang harus dikeluarkan,\” jelasnya.

Upaya Menjaga Kualitas Beras

Adapun mengenai kualitas beras, Arief menjelaskan bahwa kualitas beras dapat dijaga melalui perawatan maupun pengolahan ulang (
reprocessing
). Di Bulog, terdapat proses perawatan agar beras tidak berkutu dan juga proses
reprocessing
yang biasanya dilakukan jika beras disimpan terlalu lama.

\”Biasanya disimpan berapa lama itu kan karena dibanting ada yang pecah, biasanya bisa di-
blower
atau difumigasi agar tetap
food grade
,\” kata Arief.

Tindakan Lanjutan atas Temuan di Maluku Utara

Bapanas juga mendorong Bulog untuk tetap menjaga kualitas dan standar pada beras yang disalurkan kepada masyarakat agar tetap aman dan layak untuk dikonsumsi. Dalam hal ini, temuan di Maluku Utara akan segera diproses melalui
reprocess
untuk memastikan kualitasnya.

\”Kemudian atas temuan di Maluku Utara itu sudah disiapkan juga untuk me-
reprocess
juga. Harus dicek, karena kalau enggak, nanti akan sama. Bukan hanya di Maluku Utara, tapi di seluruh Indonesia,\” pungkas Arief.

Inspeksi oleh Titiek Soeharto

Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto melakukan inspeksi mendadak ke Gudang Perum Bulog Tabahawa, Ternate, Maluku Utara. Ia didampingi oleh Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos untuk memastikan ketersediaan dan kualitas cadangan beras pemerintah (CBP), serta menindaklanjuti laporan masyarakat tentang turunnya kualitas beras bantuan.

Dalam peninjauan pada Selasa (23/9/2025), Tim Komisi IV menemukan sekitar 1.200 ton beras yang tersimpan sejak Mei 2024. Sebagian beras impor masih terjaga kualitasnya, tetapi beras lokal terlihat berubah warna menjadi abu-abu dan dinilai sudah menurun mutunya.

“Kami mendapati beras lokal yang sudah setahun lebih disimpan, warnanya sudah abu-abu. Saya enggak tahu mau disimpan sampai kapan, kenapa tidak segera disalurkan ke masyarakat?” ujar Titiek mengutip akun Instagram resmi @dpr_ri pada Senin (29/9/2025).

Kritik Terhadap Penyimpanan Beras

Sebagian stok itu memang tengah dikemas untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Namun, Titiek menilai kondisi beras yang sudah menurun tidak layak disalurkan sebagai bantuan.

\”Kalau memang kualitasnya sudah terlalu jelek, ya sudah jangan dijual, dibuat bantuan pun sudah tidak layak. Mungkin buat pakan ternak,\” pungkas Titiek.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »