Catatan Pasanggiri Rampak dan Anggana Sekar: Gencarkan Cinta Budaya Sunda pada Generasi Muda

·

·

Peran Budaya dalam Membentuk Jati Diri Bangsa

Kompleksitas masalah yang terjadi di negeri ini tidak hanya terbatas pada isu politik, ekonomi, dan sosial. Namun, salah satu hal yang tidak kalah penting adalah hilangnya identitas atau jati diri bangsa. Hal ini sangat tragis karena mengancam keberlangsungan budaya lokal yang telah menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat.

Fakta menunjukkan bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih tertarik pada budaya luar daripada budaya sendiri. Mereka seperti terhipnotis oleh arus budaya asing yang semakin mengglobal. Meski media sosial dan media online memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi, bukan berarti semua kesalahan harus ditujukan pada mereka. Masalah ini juga bisa muncul karena kurang adaptifnya budaya lokal terhadap perubahan sosial yang terjadi.

Akibatnya, nilai-nilai budaya yang ada di sekitar kita seringkali tidak mampu merespons dinamika masyarakat. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah merespons budaya luar daripada budaya sendiri. Akhirnya, masyarakat dituduh tidak mencintai budayanya sendiri dan dianggap kehilangan jati dirinya.

Namun, kita selama ini percaya bahwa budaya adalah fondasi utama dalam membentuk kepribadian bangsa. Dengan menjaga dan melestarikan budaya, kita dapat memperkuat identitas bangsa serta karakter yang khas.

Upaya Melestarikan Budaya Lokal

Undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menegaskan bahwa pemajuan kebudayaan bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keragaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, dan melestarikan warisan budaya.

Salah satu contoh nilai luhur tersebut adalah syair lagu Sunda dan musik tradisional dengan segala unsur yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai ini turut memperkaya keragaman budaya yang akan memperkuat jati diri bangsa.

Seni budaya daerah merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi Indonesia. Untuk itu, keberadaannya memerlukan perhatian khusus dari masyarakat dan pemerintah agar bisa terjaga dan dilestarikan.

Salah satu upaya untuk melestarikan budaya lokal adalah dengan menggelar event \”Pasanggiri Rampak Sekar dan Anggana Sekar\” tingkat SD, SMP, dan SMA se Kabupaten Garut. Event ini bertujuan untuk merangsang generasi muda agar lebih memahami dan menghargai kekayaan budayanya sendiri.

Latar Belakang Event Pasanggiri

\”Pasanggiri Rampak Sekar dan Anggana Sekar\” adalah lomba yang menampilkan penguasaan peserta pada Kawih Sunda secara individual maupun kelompok. Lomba ini diikuti oleh siswa dan siswi SD, SMP, dan SMA sederajat.

Ketua Penyelenggara Pasanggiri, Irno Sukarno, menjelaskan bahwa acara ini dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya bangsa yang terdapat dalam kawih, tata cara berias dan berpenampilan, serta adab berbahasa. Acara ini ingin memperkenalkan budaya lokal sedini mungkin kepada generasi muda.

“Kami prihatin karena dalam acara-acara besar, kita tidak lagi menemukan tontonan kesenian yang berbasis seni tradisi seperti Rampak Sekar ataupun Anggana Sekar. Tragisnya, ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tapi ibu-ibu pun sudah hampir tidak mengenalinya lagi,” ujar Irno melalui pesan elektroniknya.

Kerjasama dalam Menyelenggarakan Event

Event ini merupakan hasil kerjasama antara Ikatan Alumni Institut Seni Budaya Indonesia (IA-ISBI) Bandung, Dewan Kesenian Garut (DKG), dan Pusat Olah Seni Sunda Pasundan (POSS Pas). Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Disparbud Kabupaten Garut, Kantor Kemenag Garut, dan KCD Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat.

“Alhamdulillah, berbagai dukungan itu mengalir dan itu pertanda adanya keprihatinan dan kewaswasan bersama akan kondisi seni tradisi di lingkungan kita saat ini. Sehingga membuat kami sangat optimis bahwa seni tradisi di Kabupaten Garut akan tetap hidup,” tambah Irno.

Partisipasi yang Menggembirakan

Optimisme Irno bukan sekadar harapan belaka, karena partisipasi peserta cukup banyak. Untuk tingkat SD, terdapat 20 peserta dan 2 grup Rampak Sekar dari 9 Kecamatan. Tingkat SMP memiliki 30 peserta dan 5 grup Rampak Sekar. Sedangkan tingkat SMA memiliki 26 peserta dan 4 grup Rampak Sekar.

Fakta lainnya, secara kumulatif, event ini diikuti oleh 19 Kecamatan dari 41 Kecamatan yang ada di Garut. Jumlah ini cukup mewakili wilayah Garut Utara, Selatan, Tengah, Timur, dan Barat. Secara geografis, acara ini merepresentasikan Kabupaten Garut secara keseluruhan.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »