Desentralisasi Manajemen Bisnis Global

·

·

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banjarmasin Mulai Berjalan

Mulai Senin, 29 September 2025, program nasional makan bergizi gratis (MBG) dilaksanakan di sejumlah sekolah menengah atas (SMA) maupun sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Banjarmasin. Sejak Senin hingga Selasa (30/9/2025), pelaksanaan MBG berjalan dengan lancar, meskipun terdapat beberapa kendala kecil seperti bau tidak sedap pada menu jagung rebus dan ada siswa yang tidak kebagian nasi.

Namun, kondisi ini berbeda dengan daerah lain. Banyak pemberitaan menyebutkan adanya kasus dugaan keracunan setelah mengikuti MBG di sejumlah wilayah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan orangtua siswa, termasuk di Banjarmasin.

Masalah Sistemik yang Perlu Diperbaiki

Insiden keracunan yang terjadi secara berulang dan masif menunjukkan adanya kelemahan sistemik dalam pelaksanaan MBG. Keselamatan dan keamanan pangan harus menjadi prioritas utama sebelum memperhatikan aspek gizi maupun kuantitas makanan. Jika makanan tidak aman, maka tujuan untuk mencapai gizi yang baik akan gagal terlaksana.

Kasus keracunan sering kali bukanlah insiden tunggal, melainkan cerminan dari kegagalan pengawasan di berbagai titik rantai pasokan. Mulai dari tahap produksi atau pengolahan, penyimpanan sementara, hingga distribusi, semua tahapan tersebut perlu dipantau secara ketat.

Tantangan dalam Skala Besar

Skala program MBG yang sangat besar, yang melibatkan banyak lokasi sekolah, bisa menyebabkan waktu tempuh makanan dari dapur hingga tangan siswa menjadi panjang. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan pada makanan. Oleh karena itu, pengawasan harus segera diperbaiki.

Beberapa langkah yang perlu dilakukan antara lain:

  • Pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia bagi mereka yang terlibat dalam proses MBG seperti relawan atau pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
  • Sistem pengawasan, verifikasi serta audit pangan yang ketat dan berkelanjutan harus terus dilakukan oleh pihak yang berwenang seperti Badan Gizi Nasional (BGN), dinas kesehatan setempat bahkan oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Standardisasi dan Mitigasi yang Kuat

Standardisasi dalam proses maupun produk MBG juga penting agar pelaksanaannya lebih konsisten, terjaga keamanannya, dan menjadi program yang kontinyu tanpa ada masalah yang berarti. Selain itu, diperlukan sistem mitigasi yang kuat, cepat, dan tepat dalam mengatasi tiap persoalan MBG. Mitigasi ini tidak hanya diperlukan ketika ada kasus seperti keracunan makanan, tetapi juga dalam semua proses makan bergizi gratis itu sendiri dari hulu ke hilir.

Pendekatan Desentralisasi sebagai Solusi

Sebenarnya ada cara lain agar program MBG lebih membumi, tidak bersifat sentralistik, serta bisa melibatkan pengawasan partisipatif. Misalnya, membuat program MBG menjadi desentralisasi dengan melibatkan pihak sekolah, pembentukan dapur tingkat kelurahan atau desa sehingga radius distribusi makanan lebih pendek.

Rantai distribusi yang pendek mengurangi risiko kontaminasi buruk pada makanan. Ditambah lagi pengawasan melekat dan pendampingan menyeluruh, melibatkan dinas kesehatan setempat dan Puskesmas yang notabene sangat mengenali kondisi kesehatan maupun sanitasi di wilayahnya.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »