Dubes Masaki Jelaskan Cara Jepang Terapkan MBG: Butuh Waktu dan Hadapi Banyak Tantangan

·

·



Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, berbagi pengalaman negaranya dalam menerapkan program Maan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, keberhasilan program ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan perencanaan matang.

\”Membutuhkan waktu agar bisa sukses. Karena awalnya, kita harus membuat sistem di dapur, distribusi, dan hal-hal lainnya. Selain itu, karena ada banyak sekolah, maka dibutuhkan satu dapur pusat yang bisa menyediakan makanan segar setiap hari, serta makanan yang seimbang untuk dikirim ke sekolah-sekolah,\” ujar Masaki dalam konferensi pers di Kedubes Jepang, Jakarta, Selasa (30/9).

Namun, Masaki menekankan bahwa hanya membangun dapur saja tidak cukup untuk menyediakan makanan bagi pelajar.



\”Dan membuat dapur saja tidak cukup. Kita juga perlu menyuplai bahan segar. Jadi Jepang menghadapi banyak masalah, hingga akhirnya kami menemukan bahwa lebih baik melakukan suplai makanan secara lokal. Karena jika mengimpor, tentu akan ada masalah terkait kesegaran bahan makanan dan distribusi,\” jelasnya.

Masaki kemudian menyebutkan kunjungannya ke Biak, Papua, untuk melihat langsung kemitraan pemerintah Jepang, UNICEF, dan Badan Gizi Nasional dalam pemberian makan bergizi bagi pelajar.

\”Di Papua, kami menilai bahwa ikan adalah sumber gizi yang penting. Jadi kami sangat membantu meningkatkan fasilitas pelabuhan dekat sekolah, dan kami melakukannya bersama JICA sehingga bisa dikombinasikan untuk meningkatkan sistem MBG,\” tuturnya.

Menurut Masaki, wajar jika di awal pelaksanaan MBG sering ditemui berbagai masalah. Terlebih lagi, Indonesia adalah negara yang sangat luas dan memiliki berbagai kondisi wilayah yang berbeda-beda.



\”Jadi kadang Anda akan menemui masalah. Namun berdasarkan pengalaman kami, butuh waktu untuk mengkonstruksi dan membuat sistem makanan gratis. Mulai dari dapurnya, orang yang bekerja di dapur, dan distribusinya. Dan mungkin akan berbeda tergantung wilayahnya. Mungkin MBG di Jakarta berbeda dengan MBG di Papua, sehingga mungkin sistemnya juga berbeda,\” ujarnya.

Faktor-Faktor Penting dalam Implementasi Program MBG

Berikut beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan program MBG:

  • Sistem Dapur dan Distribusi

    Sistem dapur harus dirancang sedemikian rupa agar mampu menyediakan makanan segar dan sehat setiap hari. Selain itu, distribusi makanan ke sekolah harus dilakukan dengan efisien agar tidak terjadi pemborosan atau ketidakseimbangan.

  • Ketersediaan Bahan Segar

    Suplai bahan makanan segar menjadi kunci keberhasilan program. Di Jepang, mereka memilih untuk mengandalkan sumber lokal sebagai solusi untuk menjaga kualitas dan kesegaran makanan.

  • Pengembangan Infrastruktur Lokal

    Contohnya di Papua, infrastruktur seperti pelabuhan ditingkatkan untuk mendukung pasokan makanan yang lebih cepat dan efisien. Hal ini dilakukan bersama lembaga seperti JICA.

  • Adaptasi Sesuai Wilayah

    Setiap wilayah memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, sistem MBG harus disesuaikan dengan situasi lokal, seperti perbedaan antara Jakarta dan Papua.

Kesimpulan

Program Maan Bergizi Gratis memerlukan pendekatan yang holistik dan kolaboratif. Dari pengalaman Jepang, kita dapat belajar bahwa keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pemahaman akan kebutuhan lokal dan keberlanjutan sistem. Dengan kerja sama antara pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat setempat, program seperti MBG bisa menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup anak-anak di berbagai daerah.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »