Guru Darurat Gaza yang Bisa Kuliah ke Inggris

·

·

Perjalanan Sana El-Azab dari Gaza ke Inggris



Sana El-Azab, seorang perempuan berusia 29 tahun, memiliki kisah luar biasa yang menggambarkan perjuangan dan harapan. Dari Deir al-Balah di jantung Jalur Gaza hingga ke kota kecil Durham di Inggris bagian timur laut, perjalanannya bukan hanya melintasi ribuan kilometer, tetapi juga melewati batas antara perang dan kedamaian.

Sana dikenal sebagai sosok yang tak pernah menyerah pada keadaan. Saat sistem pendidikan di Gaza lumpuh akibat konflik, ia tetap mengajar anak-anak pengungsi di bangunan tanpa atap di halaman rumahnya. Ia mengajar Bahasa Inggris, Matematika, dan Seni untuk membantu anak-anak tetap belajar di tengah situasi sulit.

“Anak-anak itu kehilangan masa kecil mereka. Mereka hanya mengantre makanan dan air setiap hari,” ujarnya. Ia kemudian mulai mengajar Bahasa Inggris, Matematika, dan Seni untuk membantu anak-anak tetap belajar di tengah situasi sulit.

Namun semua itu berubah ketika ia mendapatkan kabar bahagia pada Juni lalu, ia diterima di program Educational Leadership and Change di Durham University. Meski begitu, perjalanan menuju Inggris tak mudah. Sana harus menunggu berminggu-minggu sambil berharap izin keluar dari Gaza disetujui.

Setelah berbagai upaya diplomatik oleh akademisi dan politisi Inggris, ia akhirnya diizinkan menyeberang ke Yordania untuk mengurus dokumen biometrik, sebelum tiba di Durham pada 17 September.

Jejak Perjuangan di Tengah Reruntuhan

Sana bukan hanya seorang guru, melainkan saksi langsung hancurnya sistem pendidikan di Gaza. Menurut laporan Global Education Cluster, 97 persen sekolah di wilayah itu mengalami kerusakan berat, dengan lebih dari 660.000 anak masih tidak dapat bersekolah. Sementara itu, sekitar 87 ribu mahasiswa kehilangan akses pendidikan tinggi karena kampus mereka rata dengan tanah.

Sana sendiri merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Gaza, yang kini telah hancur total akibat serangan udara. “Tidak ada lagi kesempatan belajar di Gaza. Semua universitas hancur, sistem pendidikan hilang,” katanya. Dalam kondisi seperti itu, sekolah darurat yang ia dirikan menjadi ruang kecil harapan bagi puluhan anak.

Selain mengajar akademik, Sana juga memberi makanan dan mengajarkan keterampilan bertahan hidup, seperti menyaring air menggunakan arang. “Saya hanya ingin memberi mereka sedikit rasa normal di tengah situasi yang tidak normal,” ujarnya.

Antara Harapan dan Rasa Bersalah

Saat akhirnya bisa berangkat ke Inggris, Sana hanya membawa pakaian di badan dan ponsel genggamnya. Meski bersyukur, perasaan campur aduk masih menyelimuti dirinya. “Saya bangga bisa sampai di sini, tapi rasanya kompleks. Setengah pikiran saya masih di Gaza,” ucapnya.

Kini Sana mulai beradaptasi dengan kehidupan di Durham yang tenang dan aman. Namun kenangan tentang Gaza masih terus menghantui. Ia mengaku sulit tidur dan makan, serta sering merasa bersalah ketika melihat kelimpahan di sekitar. “Melihat begitu banyak makanan di supermarket terasa tidak nyata. Saya tahu keluarga saya masih kesulitan di sana,” katanya.

Sana adalah bagian dari 58 mahasiswa Gaza yang berhasil dievakuasi dan diterima di lebih dari 30 universitas Inggris. Nora Parr, peneliti dari University of Birmingham yang ikut mengoordinasikan proses tersebut, menyebut mereka sebagai “generasi yang akan membangun kembali Gaza”.

Bagi Sana, kesempatan belajar di Durham bukan sekadar prestasi akademik, melainkan tanggung jawab moral untuk masa depan bangsanya. Pendidikan, baginya, adalah jembatan menuju harapan. Ia ingin suatu hari kembali ke Gaza, membangun kembali sekolah-sekolah yang hancur, dan memastikan anak-anak di tanah kelahirannya tidak kehilangan hak untuk bermimpi.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »