Kesaksian Sanjoto: Dari Pemburu DN Aidit ke Rumah Mantan Markas PKI di Semarang

·

·

Rumah yang Menyimpan Kenangan Sejarah

Di Jalan Belimbing Raya No. 34, Kelurahan Peterongan, Semarang Selatan, terdapat sebuah rumah sederhana dengan cat krem dan dinding berwarna merah muda. Pagar besi hitamnya sudah berkarat, jendela kayunya tampak kusam, dan atap seng di terasnya lebih fungsional daripada estetik. Di luar, bangunan ini tampak biasa seperti rumah-rumah lain di kawasan kampung kota Semarang.

Namun, di balik dindingnya tersimpan sejarah penting. Dulu, tempat ini adalah markas PKI Kota Semarang sekaligus rumah transit DN Aidit sebelum ia melarikan diri ke Solo pada peristiwa G30S 1965. Kini, rumah tersebut ditempati oleh Kapten CPM (Purn) Sanjoto, yang berusia 93 tahun. Meskipun langkahnya mulai pelan, memorinya tentang tahun 1965 masih terang.

Sanjoto duduk di ruang tamu sederhana, menatap foto-foto lawasnya semasa masih letnan yang menempel di dinding. Ia bercerita tentang hari-hari ketika Semarang menjadi episentrum pergolakan politik. “30S itu yang dalangi PKI,” katanya membuka kisah. Kalimatnya selalu diselingi jeda khas, seperti orang yang sedang memilah potongan puzzle dalam kepalanya.

Perintah Rahasia dan Rumah Misterius

Perintah dari Panglima lewat Kapendam membuat Sanjoto muda harus mencari rumah transit Aidit. Ia berputar 12 kali di kawasan Peterongan, tapi tidak menemukan rumah yang dicari. Akhirnya, seorang perwira staf Kodim menuntunnya ke rumah di Belimbing Raya tersebut. Namun, ia datang terlambat. Rumah sudah dikepung warga.

Ratusan orang berkerumun, sebagian membakar papan nama PKI, sebagian lain mencabik-cabik bendera merah palu arit. Sanjoto muda kala itu merangsek masuk rumah tersebut. Dari situ, ia tidak menemukan seorangpun, tapi dengan ketelitiannya, ia menemukan jejak kepergian DN Aidit. Aidit sudah pergi dua jam sebelumnya. Dari papan yang terpampang di rumah itu, Sanjoto membaca arah pelarian timur, lalu berbelok ke selatan, kemudian ke barat menuju Solo.

Meski gagal menangkap Aidit di Semarang, Sanjoto masih dilibatkan dalam operasi pengejaran berikutnya. Ia sempat berkoordinasi dengan pasukan di Yogyakarta dan Solo, meski komunikasi kala itu sulit dilakukan. Akhirnya, Aidit tertangkap di Kampung Sambeng, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 22 November 1965.

Hadiah Sebuah Rumah

Empat tahun setelah peristiwa itu, pada 1969, Sanjoto dipanggil atasannya. Ia diberi hadiah rumah yang sebelumnya dipakai sebagai markas PKI Semarang. Kini, rumah itu juga menjadi markas Ranting 4 Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Semarang. “Tahun 1970 saya baru bisa tempati. Waktu itu rumahnya rusak, rubuh sana-sini, saya dapat bantuan dana untuk perbaikan,” kenangnya.

Hingga kini, ia masih tinggal di rumah itu bersama seorang istri sambungnya. Baginya, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol perjalanan hidup dari seorang perwira muda yang bertugas menumpas PKI, hingga seorang kakek sepuh yang menjadi saksi hidup sejarah bangsa.

Semarang 1965: Kota yang Bergejolak

Sanjoto masih mengingat kondisi Semarang pada 1965. Ketegangan menjalar ke mana-mana. Tentara, polisi, hingga sipil simpatisan PKI saling bergerak. “Banyak. Anggota PKI di Semarang itu banyak,” katanya lirih. Penumpasan kemudian menyisakan jejak kelam. Salah satunya kuburan massal di Mangkang. “Ratusan lebih yang ditumpas. Banyak yang tertangguh,” ungkapnya.

Sebagai anggota CPM, Sanjoto ikut terlibat dalam operasi-operasi militer di dalam kota. Kendaraan lapis baja dikerahkan untuk patroli, menjangkau Purwodadi, Demak, hingga Kendal. Namun fokus utama tetap Semarang Kota Madya yang kala itu dianggap sebagai titik rawan.

Dari PETA ke TNI

Perjalanan Sanjoto sebagai tentara tak dimulai pada 1965. Jauh sebelumnya, ia sudah mengenal senjata saat bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang. Setelah proklamasi, ia resmi menjadi bagian dari TNI sejak BKR (Badan Keamanan Rakyat) diresmikan pada 5 Oktober 1945.

Karier militernya berlanjut panjang. Ia pernah mengawal Presiden Soekarno untuk memastikan penumpasan DI/TII berjalan di Tegal. Sanjoto juga mendapat kenaikan pangkat luar biasa, serta terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan di Jawa Tengah. Dia pensiun pada 1982 dengan pangkat kapten, meninggalkan catatan panjang di tubuh militer.

Saksi Hidup

Kini, di usia 93 tahun, Sanjoto duduk tenang di rumah bercat krem yang pernah menjadi saksi pergolakan. Rambutnya memutih, tubuhnya renta, tapi ceritanya menyambungkan generasi. “Saya dapat rumah ini karena sejarah. Dari markas PKI jadi tempat tinggal saya. Sampai sekarang saya tempati,” katanya.

Rumah itu mungkin tampak biasa di mata orang yang lewat. Namun bagi sejarah, rumah itu adalah monumen bisu tempat yang menyimpan kisah tentang politik, perlawanan. Dan selama Sanjoto masih hidup, kisah itu akan terus diceritakan.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »