Warung Kopi Edukasi Taman Puring, Ruang Diskusi Lingkungan di Tulungagung
Warung kopi (warkop) yang berada di Dusun Srigading, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, kini menjadi tempat edukasi lingkungan yang unik. Warkop ini didirikan oleh Harun (55), seorang aktivis lingkungan senior yang dikenal luas baik di tingkat lokal maupun nasional. Nama warkop tersebut adalah Taman Puring, yang mengusung konsep ramah lingkungan secara utuh.
Warkop Taman Puring tidak hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi juga menjadi pusat diskusi tentang isu-isu lingkungan. Harun memilih untuk menolak menjual segala jenis minuman dan makanan dalam saset. Selain itu, warkop ini juga tidak menyediakan air minum dalam kemasan plastik, karena akan menghasilkan sampah plastik. Pengunjung diharapkan membawa tumbler sendiri dan mengambil air minum gratis dari sumber yang tersedia.
“Kalau ke sini, bawa tumbler sendiri, ambil air minum gratis. Kami berusaha hanya menghasilkan sampah organik saja,” ujar Harun, Sabtu (11/10/2025).
Harun memiliki pengalaman panjang sebagai aktivis lingkungan. Ia bersama rekan-rekannya aktif menguji kualitas air sungai-sungai di Tulungagung. Selain itu, mereka juga melakukan pembersihan sungai dan pantai serta melakukan audit produk yang mencemari perairan. Menurut Harun, saset bekas makanan dan minuman dari perusahaan-perusahaan besar menjadi pencemar terbesar.
Berkaca dari pengalaman itu, Harun memilih untuk menolak segala bentuk produk dalam saset. Ia berharap bisa mengurangi sampah plastik sebanyak mungkin, bahkan jika bisa tidak ada sama sekali. Sampah yang dihasilkan hanya berupa sampah organik seperti ampas kopi.
Konsep Ramah Lingkungan dalam Setiap Detail
Untuk memperkuat konsep ramah lingkungan, Warkop Taman Puring tidak menggunakan sedotan plastik. Sedotan diganti dengan sedotan stainless steel yang bisa dibersihkan lalu dipakai ulang, serta sedotan bambu. Alat saji yang digunakan juga tidak ada yang menggunakan plastik. Gelas yang digunakan terbuat dari bahan bambu dan kayu. Harun mengambil produk dari perajin lokal untuk mendukung usaha kecil menengah (UKM). Untuk gelas kaca masih tersedia karena tidak sekali pakai.
Harun mengaku masih bingung dalam menyajikan menu lauk dari daging ayam. Harga ayam kampung terlalu mahal, sementara ayam pedaging dinilai kurang sehat. Oleh karena itu, ia memilih menu lauk yang lebih sehat dan ramah lingkungan, seperti tahu, tempe, ikan laut, serta olahan seperti nasi gegok dan nasi bakar dengan bungkus daun.
Warkop sebagai Pusat Edukasi Lingkungan
Warkop Taman Puring berada di tanah pribadi milik Harun seluas 3.000 meter persegi. Karena itu, warkop ini bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi juga menjadi salah satu pusat edukasi lingkungan. Lokasinya yang berada di tepi permukiman dan dekat dengan Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, membuatnya menjadi tempat diskusi para mahasiswa.
“Para aktivis lingkungan dan mahasiswa banyak diskusi sampai pagi di sini. Ada yang sampai tidur di sini,” ucap Harun.
Harun sering mengisi waktunya dengan edukasi dan advokasi lingkungan di berbagai daerah. Di waktu luangnya, ia juga membuat pembibitan pohon untuk penghijauan. Ratusan pohon berbagai jenis telah ia semai dan siap ditanam untuk penghijauan.
“Saya tidak pernah minta dibeli, kalau mau tanam pohon untuk penghijauan, silakan ambil di sini,” tegasnya.
Masa Depan Warkop Taman Puring
Harun sedang mempersiapkan area edukasi untuk jenis pohon di Warkop Taman Puring. Namun, konsep ini harus ditunda sejenak karena kendala biaya. Meski begitu, ia tetap berharap bahwa Warkop Taman Puring bisa menjadi tempat diskusi tentang lingkungan hidup.
“Warkop ini baru jalan 5 bulan. Saya berusaha mengembangkannya,” tandas Harun.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.