Kehidupan Dapur di SPPG Palmerah
Di tengah kota Jakarta Barat, kehidupan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah berjalan dengan penuh semangat sejak dini hari. Proses sortir bahan, memasak di tungku besar, hingga pengemasan ribuan ompreng makanan terjadi secara cepat dan teratur setiap harinya.
Setiap hari, dapur besar ini menyiapkan 3.700 porsi makanan bergizi untuk 13 sekolah di Jakarta Barat. Tim yang bekerja di sini terdiri dari berbagai divisi seperti pemasak, pekerja gudang, dan petugas distribusi. Setiap bagian memiliki peran penting dalam menjaga kualitas makanan dan efisiensi proses produksi.
Proses Masak yang Terstruktur
Ketika masuk ke ruang dapur utama, suara dentingan sendok besar beradu dengan wajan dan panci terdengar jelas. Asap tipis mengepul dari enam tungku yang menyala bersamaan. Aroma tumisan wortel dan buncis bercampur dengan wangi nasi hangat memenuhi ruangan.
Beberapa kipas angin dipasang di dinding, dan dua jendela di area pengemasan akhir. Di meja panjang berukuran enam meter lebar dua meter, para pekerja dengan APD lengkap masker, sarung tangan, dan penutup kepala bergerak cepat. Ada yang menuang nasi, ada yang menaruh lauk daging teriyaki, dan ada pula yang sigap menambahkan buah kelengkeng ke ompreng.
Dalam hitungan menit, puluhan paket sudah berjajar rapi. Di sudut lain, tiga mesin nasi berukuran besar bekerja serentak. Uap panas mengepul dari 12 loyang nasi yang baru matang. Satu loyang cukup untuk 20 porsi.
“Menanak nasi butuh sekitar satu jam, makanya harus tepat waktu. Kalau terlambat, distribusi juga bisa mundur,” kata Ferdian salah satu yang bertugas kepada ASKAI.ID – Top UP Isi Ulang Game Murah di SPPG Palmerah.
Pengelolaan Bahan Makanan yang Ketat
Wajan raksasa pun terus diaduk tiga orang petugas bergantian. Sayuran berubah cerah setelah ditumis, sementara panci besar berisi daging teriyaki memancarkan aroma bumbu kecap yang gurih. Tak jauh dari dapur, terdapat ruang gudang dan pendingin. Kardus mi instan, beras, telur, hingga jerigen minyak tersusun di rak besi.
Untuk menjaga kesegaran bahan, sayuran disimpan di chiller bersuhu di bawah 5 derajat celsius, sementara daging dan bahan hewani masuk ke freezer minus 15 derajat celsius.
Distribusi Makanan yang Efisien
Setelah matang, makanan segera dikemas. Ompreng diikat per lima porsi dengan tali rafia, lalu disusun di rak besi sebelum diangkut ke mobil boks putih. Distribusi dilakukan dua gelombang pukul 06.30–08.30 untuk TK dan SD kelas rendah. Pukul 09.00–09.30 untuk SD kelas tinggi, SMP, dan SMK.
“Selama ini tidak pernah ada keterlambatan. Itu yang paling kami jaga,” ujar Kepala SPPG Palmerah, Saiful Arifin.
Secara umum, dapur terlihat bersih. Lantai sering dipel, peralatan tertata, dan poster imbauan cuci tangan menempel di dinding. Meski di beberapa sudut masih ada sisa sayur di saluran pembuangan, peralatan makan disimpan rapi dan tidak bersentuhan dengan lantai.
“Kita setiap hari ada evaluasi antar-divisi. Kalau ada yang kurang, langsung diperbaiki. Standar kebersihan dan higienitas itu mutlak,” jelas Saiful.
Pertumbuhan SPPG Palmerah
SPPG Palmerah mulai beroperasi sejak November 2024. Saat itu, hanya memproduksi 300 porsi per hari. Perlahan, jumlahnya naik menjadi 1.000, hingga kini mencapai 3.700 porsi.
“Awalnya hanya sekolah-sekolah terdekat dalam radius 6 kilometer. Sekarang sudah 13 sekolah, dari SD, SMP, sampai SLB. SMA belum, tapi targetnya nanti bisa diperluas,” tutur Saiful.
SPPG Palmerah yang diklaim menjadi dapur percontohan MBG diharapkan menjadi model layanan gizi sekolah. “Tujuan utama kami sederhana memastikan anak-anak mendapat makanan bergizi seimbang setiap hari. Dari pemilihan bahan, proses masak, sampai distribusi, semua mengikuti SOP,” katanya.
Tantangan dan Harapan
Dari luar, bangunan SPPG Palmerah terlihat sederhana. Namun di dalamnya, tungku tak pernah padam, wajan terus beradu, dan puluhan tangan sigap bekerja sejak dini hari. Di balik setiap ompreng yang tiba di meja makan sekolah, ada kerja keras para juru masak, pekerja gudang, hingga petugas distribusi yang memastikan anak-anak tetap sehat dan siap belajar.
“Semoga program ini terus berkembang, menjangkau lebih banyak sekolah, dan jadi teladan untuk layanan gizi di daerah lain,” ujar Saiful menutup perbincangan.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.