Arti Lafadz \”Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu\” dalam Hadis
Lafadz \”Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu\” sering diucapkan oleh para pemuka agama, baik dalam kajian keagamaan maupun dalam berbagai seminar. Dalam konteks Islam, lafadz ini merujuk pada larangan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap tindakan membuka aib orang lain dan mencari-cari kesalahan orang lain.
Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, terutama sesama Muslim. Nabi SAW melarang tindakan seperti tahassus dan tajassus, yaitu mencari-cari kelemahan atau aib orang lain. Larangan ini juga sejalan dengan firman Allah dalam Alquran, yang menyuruh kita untuk tidak membuka aib, mengintai, atau mencari kesalahan orang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Artinya: “Janganlah kalian melakukan tahassus, jangan melakukan tajassus, jangan saling hasad, jangan saling membelakangi, dan jangan saling benci. Jadilah kalian bersaudara, wahai para hamba Allah!” (HR. Al-Bukhari, no. 6064, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
Dalam hadits ini, Nabi SAW melarang lima hal, yaitu:
- Tajassus: Mencari-cari kesalahan dan aib dari seseorang lalu mengumpulkannya.
- Tahassus: Mengorek-ngorek hal yang tersembunyi dari seseorang.
- Hasad: Iri dan dengki terhadap orang lain.
- Tadabaru: Saling membelakangi atau menutupi keburukan satu sama lain.
- Tabaghadu: Saling membenci antar sesama Muslim.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan menjadi salah satu pedoman penting dalam Islam untuk menjaga hubungan baik antar sesama Muslim.
Selain itu, Nabi SAW juga memberikan nasihat kepada para sahabatnya melalui sabda berikut:
يا مَعْشَرَ مَن آمن بلسانِه ولم يَدْخُلِ الإيمانُ قلبَه ، لا تغتابوا المسلمينَ ، ولا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِم ، فإنه مَن تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيه المسلمِ ، تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، ومَن تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَه ، يَفْضَحْهُ ولو في جوفِ بيتِه
Artinya: “Wahai orang-orang yang baru beriman di lisannya, dan iman belum masuk pada hatinya. Janganlah kalian melakukan ghibah kepada sesama muslim. Dan janganlah kalian mencari-cari kekurangan sesama muslim. Karena siapa yang mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menyingkap kekurangan-kekurangannya. Dan siapa yang Allah singkap kekurangan-kekurangannya, ia akan merasa malu dan terhina kan walaupun ia berada di tengah rumahnya” (HR. Abu Daud no.4880, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Dalam Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Artinya: “Sesungguhnya orang- orang yang ingin agar perbuatan maksiat itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. An Nur: 19).
Ayat ini memerintahkan kita untuk menutup aib kaum Muslimin dan tidak menyebarkannya. As Sa’di menjelaskan ayat ini sebagai bentuk rahmat Allah kepada para hamba-Nya yang beriman, serta penjagaan terhadap kehormatan mereka.
Ibnul Qayyim rahimahullah juga memberikan nasihat penting:
مَن عرف نَفسَه اشتغل بإصلاحها عن عُيوب الناس، ومَن عرف رَبَّه اشتغل به عن هَوى نَفسِه.
Artinya: “Orang yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya dan tidak sempat mengurusi aib orang lain. Orang yang mengenal Rabb-nya, ia akan sibuk dengan (mencari ridha) Rabb-nya, tidak sempat mengikuti hawa nafsunya.”
Itulah penjelasan tentang arti \”Wa La Tahassasu Wa La Tajassasu\”, yang merupakan hadis tentang larangan membuka aib dan mencari-cari kesalahan orang lain.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.