KUDUS, ASKAI.ID – Top UP Isi Ulang Game Murah–
Kudus, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, dipenuhi riuh tepuk tangan dan sorak-sorai penonton.
Pada medio September 2025, ratusan pasang mata menyaksikan aksi anak-anak belia mengayunkan raket dengan penuh semangat di GOR Djarum, Jati.
Suasana itu bukan sekadar tontonan olahraga, melainkan juga cermin mimpi besar untuk menjaga kejayaan bulu tangkis Indonesia lewat gelaran Polytron Superliga Junior 2025.
Ajang tersebut dianggap lebih dari sekadar kompetisi. Polytron Superliga Junior 2025 juga menjadi wadah pembelajaran, ruang pengujian mental, sekaligus batu loncatan bagi calon-calon juara dunia.
Di lapangan, atlet-atlet muda U-13, U-15, U-17, dan U-19 bertarung bukan sekadar untuk kemenangan, melainkan untuk menempa diri menjadi pribadi tangguh. Dari sini, lahir keyakinan bahwa masa depan bulu tangkis Indonesia aman di tangan generasi baru.
Bagi banyak atlet muda, ajang yang digagas oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan Polytron itu menjadi panggung pertama yang memberikan pengalaman bermain dalam suasana kompetitif layaknya kejuaraan dunia.
Format pertandingan beregu yang diterapkan—mirip dengan Piala Thomas dan Uber—membuat anak-anak belajar arti kebersamaan, solidaritas, dan mental pantang menyerah.
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Hartono menegaskan bahwa sejak awal turnamen ini dirancang bukan hanya untuk mencari pemenang, melainkan untuk membentuk karakter.
“Kami punya iktikad agar pemain Indonesia sejak kecil sudah terbiasa bermain dalam format beregu sehingga pada saatnya nanti mereka benar-benar siap menghadapi turnamen, mulai dari Asia Junior Championships (AJC), World Junior Championships (WJC), hingga level tertinggi seperti Piala Thomas, Uber, dan Sudirman,” ujar Victor saat ditemui di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (20/9/2025).
Dengan kata lain, lanjutnya, Polytron Superliga Junior 2025 menjadi laboratorium pembentukan mental juara.
Pasalnya, tekanan bermain demi tim jauh berbeda dibandingkan sekadar bertanding secara individu. Anak-anak akan belajar bahwa tanggung jawab mereka bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk rekan setim dan nama besar klub yang mereka wakili.
Yarits Al Kaaf Rengganingtyas merasakan hal itu. Anggota tim putra U-19 Persatuan Bulu Tangkis (PB Djarum) ini menjadi penentu pada laga final yang digelar Minggu (21/9/2025).
Setelah mengalahkan Yusack Christian dari PB Jaya Raya dengan skor 21-18 dan 22-20, Yarits memastikan piala bergilir Liem Swie King kembali dibawa pulang ke kandang untuk keempat kalinya.
“Alhamdulillah bisa jadi penentu kemenangan bagi tim. Walaupun tadi sempat tegang karena bermain di laga penentu, tetapi saya bersyukur bisa tampil all out,” tutur Yarits.
Meskipun ajang tersebut merupakan turnamen beregu, lanjutnya, Yartis mengaku mendapat banyak pelajaran yang akan menjadi bekal untuk perjalanannya di kancah bulu tangkis Tanah Air.
Riuh kompetisi, matang mental
Menariknya, meski sebagian besar peserta masih berusia belia, atmosfer kompetisi terasa sangat serius. Pertarungan di kategori U-13, misalnya, tak kalah sengit dibandingkan kelas U-17 atau U-19.
Salah satu pemain U13 Champion Kudus, La Ode Muhammad Ahsan Kamil, turut merasakan adrenalin tersebut. Meski timnya kalah 0-3 di babak semifinal, pemain berusia 12 tahun ini mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru.
“Mental saya jadi lebih percaya diri,” kata Ahsan.
Menurut Ahsan, Polytron Superliga Junior juga memotivasinya untuk terus meningkatkan kemampuan sehingga semakin siap pada ajang-ajang berikutnya.
“(Kemampuan) fisiknya kurang, mau ditingkatin lagi. Mentalnya juga mau ditingkatin lagi, juga tekniknya,” ujar bocah asal Sorong, Papua Barat itu.
Victor sendiri mengaku terkesan dengan keseriusan para pemain muda seperti Ahsan.
“Menyenangkan sekali menonton U-13 yang serius dan ingin berkompetisi melawan pesaingnya. Ini memang sengaja kita lakukan. Dengan memulai dari U-13 dan U-15, semoga pemain Indonesia lebih punya pengalaman bermain tim dibandingkan negara lain,” jelasnya.
Bagi klub-klub lokal, kesempatan tampil pada ajang sebesar itu juga sangat berharga. Mereka bisa unjuk gigi, memperlihatkan kualitas pemainnya, dan sekaligus mencari perhatian sponsor.
“Sengaja di U-13 kita dorong klub-klub menengah atau kecil ikut. Harapannya, kalau mereka bisa berprestasi, akan ada sponsor untuk mengelola klub lebih baik. Itu akan sangat positif bagi perkembangan bulu tangkis Indonesia,” tambah Victor.
Polytron Superliga Junior 2025 juga menghadirkan warna internasional. Tahun ini, sebanyak 654 peserta dari 8 negara ambil bagian. Kehadiran tim asing tak hanya menambah gengsi, tetapi juga memperkaya pengalaman atlet muda Indonesia.
“Saya lihat semua peserta sangat bersemangat, baik tim dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini yang kita harapkan. Saya juga ingin melihat klub-klub dari daerah mampu bersaing dengan klub-klub besar yang sudah lebih dulu eksis,” ujar Victor.
Meski ada beberapa negara yang terpaksa mundur karena kendala jadwal dan situasi, Victor tetap optimistis partisipasi akan terus bertambah.
“Ke depan, mungkin bisa 12 sampai 15 negara yang ikut. Semoga Jepang, Korea, Singapura, bahkan India bisa hadir. Melawan pemain luar tentu memberikan pengalaman berbeda,” katanya.
Menjaga asa generasi baru
Sejarah mencatat, bulu tangkis adalah olahraga yang mengangkat nama Indonesia di panggung dunia. Namun, menjaga tradisi juara tidak pernah mudah. Ada pasang surut prestasi, sebagaimana diungkap Victor dengan perumpamaan menarik.
“Memang prestasi level dewasa belakangan agak kurang bagus. Namun, saya yakin dalam beberapa tahun lagi kita akan balik lagi. Di sepak bola pun begitu. Brazil tidak menang Piala Dunia setiap tahun. Ada pasang surutnya. Nah, Indonesia pernah juara, lalu turun sebentar, tapi nanti bisa juara lagi,” ucapnya yakin.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Prestasi junior Indonesia masih terjaga. Pada 2024, tim bulu tangkis Indonesia berhasil menjuarai World Junior Championship di China. Mereka menaklukkan tuan rumah di kandangnya sendiri.
“Itu bukti kita sama sekali tidak tertinggal. Bahkan, kualitas junior kita semakin baik. Banyak guru-guru bulu tangkis bagus di daerah yang konsisten melahirkan bibit hebat. Ini kekuatan Indonesia yang jarang dibicarakan orang,” tambah Victor.
Di balik Polytron Superliga Junior 2025, ada satu visi lain yang tak kalah penting, yaitu memastikan pendidikan tetap berjalan seiring karier olahraga. Tidak semua pemain bisa menembus Pelatnas atau menjadi juara dunia. Namun, setiap anak tetap berhak memiliki masa depan yang layak.
Oleh karena itu, Djarum Foundation merancang campus league yang merupakan kompetisi antar-universitas dengan konsep mirip National Collegiate Athletic Association (NCAA). Di Amerika Serikat, kompetisi ini mengelola program atletik.
“Konsep seperti itu dapat diadopsi untuk membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan,” kata Victor.
Ke depan, Polytron Superliga Junior akan terus digelar setiap tahun. Victor memastikan ajang ini tidak akan berhenti, bahkan akan diperluas dengan kategori baru dan peserta yang lebih beragam.
“Setiap tahun kami akan lakukan. Kalau bisa, jumlah negara bertambah, jumlah peserta juga lebih banyak. Dengan begitu, kualitas pertandingan makin meningkat,” tuturnya.
Bagi Djarum Foundation, Polytron Superliga Junior bukan hanya tentang menang atau kalah. Ajang ini adalah cermin dari mimpi kolektif bangsa untuk terus melahirkan juara, menjaga tradisi emas, dan menempatkan Indonesia di puncak dunia bulu tangkis.
Di balik setiap reli cepat, smash keras, atau drop shot halus, tersimpan harapan besar Indonesia bahwa anak-anak itu kelak akan mengibarkan bendera Merah Putih di podium tertinggi dunia.
“Mimpi itu bukan milik satu orang atau satu klub saja. Mimpi itu adalah milik seluruh bangsa. Bersama Djarum Foundation di Kudus, di tengah riuh penonton yang tak pernah lelah bersorak, mimpi itu terus tumbuh, menguat, dan menunggu saatnya menjadi kenyataan,” tegas Victor.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.