Pegadaian MengEMAS Indonesia: Setiap Gram Membangun Masa Depan, Bukan Warisan

·

·

Perubahan Paradigma Finansial di Kabupaten Kuningan

Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, masyarakat kini mulai percaya bahwa revolusi finansial sedang berlangsung. Harapan masa depan kini tidak lagi terasa absurd, melainkan bisa terwujud dalam genggaman mereka, didukung oleh digitalisasi yang menjadikannya sebagai kilau emas. Pegadaian, yang dulu hanya dikenal sebagai tempat gadai, kini telah bertransformasi menjadi lumbung investasi emas bagi seluruh rakyat, mewujudkan visi \”Pegadaian mengEMASkan Indonesia.\”

Emas bukan lagi sekadar barang gadai, melainkan sebuah instrumen untuk membangun masa depan finansial yang lebih cerah, segram demi segram menuju puncak bukit kekayaan. Keyakinan ini dikemas dalam bentuk logam mulia, yang setiap gramnya membawa cerita tentang perjuangan, bukan kemewahan.

Pegadaian tak lagi sekadar tempat orang datang saat terdesak, melainkan telah menjelma menjadi rumah harapan finansial bagi banyak orang. Terutama sejak kelahiran “Bank Emas,” merupakan inovasi program yang menyatukan semangat inklusi keuangan dengan kearifan lokal, menumbahkan harapan dan semangat masyarakat, bahwa investasi tak harus menunggu kaya, karena emas bisa dimiliki siapa saja.

Tumbuhnya Bank Emas di Kuningan

Langkah baru Pegadaian dimulai saat Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Bank Emas pada 26 Februari 2025, menyusul keluarnya izin dari OJK pada akhir 2024. Meski tabungan emas telah lama dikenal masyarakat, inisiatif ini memperkenalkan wajah baru investasi logam mulia lewat produk Deposito Emas—inovasi yang memungkinkan nasabah menyimpan emas minimal 5 gram dan memperoleh imbal hasil 1% per tahun dalam bentuk gram emas yang ditambahkan ke saldo mereka.

“5 gram dibagi 12 bulan, sekitar 0,0041 gram per bulan,” terang Dede Iswandi, Pemimpin Cabang Kantor Pegadaian Kuningan, Sabtu (27/9/2025). “Memang bukan sesuatu yang besar kalau cuma melihat angkanya. Tapi nilainya tumbuh, perlahan tapi pasti. Seperti menanam, suatu waktu pohonnya akan berbuah.”

Dede mengibaratkan, buah itu mulai dipetik. Tahun 2025, saat dunia diguncang kebijakan ekonomi global membuat harga emas melonjak—fenomena yang disebut sebagai “Trump Effect”. “Dan, masyarakat Kuningan bergerak ke arah yang lebih bijak, dengan menyimpan logam mulia, bukan lagi nabung uang. Harga emas yang semula Rp1,6 juta per gram kini melesat hingga Rp2 juta, jelas menguntungkan,” urainya.

Segram Demi Segram Merintis Masa Depan Bukan Warisan

Tidak semua keberhasilan hidup dimodali warisan. Kisah Eva Nurfadhillah (45 tahun), warga Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, membuktikan hal itu. Perjalanannya dimulai jauh sebelum emas menjadi tren.

Minggu (28/9/2025), Eva ditemui di rumahnya, Lingkungan Paleben, RT. 9 / RW. 2, Kelurahan Cigadung, menuturkan, dirinya tahun 2014 silam datang ke Kantor Cabang Pegadaian Kuningan hanya sebagai nasabah gadai biasa. Tapi di balik transaksi sederhana itu, tumbuh benih rasa ingin tahu dan tekad untuk mandiri secara finansial.

Ia memulai investasi emasnya dengan produk Pegadaian ‘Cicilan Emas’. Tak besar, cuma seberat 1 gram diawal, “dulu zaman Rp300 ribu per gram, jadi sekitar Rp30 ribuan saya nyicilnya per bulan.” Eva mengikuti sistem Kresida, di mana ia bisa membayar emas secara bertahap meski lewat gadai. Perlahan, gramasi itu bertambah.

Dan, pada Januari 2023, membuka usaha menjadi ‘Agen Pegadaian’ menjadikan rumahnya sebagai pos kecil edukasi investasi emas. Berkat, komisi agen, bonus dari nasabah baru, dan hadiah program membawa Eva ke titik yang tak ia bayangkan. Kini ia menggenggam 87 gram Logam Mulia (produk Antam dan Gallery 24) hasil perjuangan dan jerih payahnya.

Eva memasarkan produk emas Pegadaian baik itu di lingkungan tempat tinggal, di sela-sela kegiatannya sebagai guru SD, hingga lewat media sosial. Ia menawarkan Arisan Emas, Cicilan Emas, Tabungan Emas, Deposito Emas, Pinjaman Multiguna, Kupedes, Cicilan Kendaraan, hingga program Pembiayaan Haji Plus.

“Paling seneng pas saya dapat nasabah yang deposito emas senilai 50 juta, saya bisa dapat hadiah logam mulia setengah gram. Ini bukan soal jualan, ini soal nyebar semangat,” ujarnya. “Bahkan, utang-utang saya dulu ke koperasi dan bank, sekarang semuanya bisa dilunasi dari hasil usaha dan investasi emas ini,” tambah dia.

Disebutkannya pula kalimat bijak sebagaimana pepatah dari orangtuanya,
“Kahade ulah ngajual emas, bisi teu bisa meuli deui. Karuhan digade heula.”
(Awas jangan sampai menjual emas, nantinya susah lagi membeli. Mendingan digadai saja—Red.). Menurut Eva, kalimat tersebut adalah meruapakan nasihat bukan larangan, bentuk edukasi agar emas tetap menjadi tabungan jangka panjang, bukan solusi sesaat. Ia bersyukur atas segala capaiannya itu, “Alhamdulillah, 87 gram logam mulia yang saya miliki ini semua hasil rintisan bukan warisan,” ucapnya.

Tali-Temali Pegadaian Hingga Pelosok Desa

Tumbuhnya semangat emas tak hanya terjadi di pusat kota. Di Desa Dukuhlor, Kecamatan Sindangagung, berdiri Faizal Cell, sebuah konter sederhana milik Eka, warga Desa Mekarmukti. Meski awalnya hanya menjual pulsa dan paket data, konter ini kini menjadi jembatan investasi untuk warga sekitar.

Agen Pegadaian ini dijaga oleh Nurlaela, membantu warga memesan layanan seperti melakukan
booking service
gadai perhiasan, membuka tabungan emas, hingga mencicil emas batangan. Pegadaian telah hadir sampai dusun, bukan hanya lewat kantor cabang, tapi lewat agen-agen seperti mereka.

Kehadirannya memberikan akses kemudahan bagi para nasabah. Pasalnya, dengan mengunjungi agen terlebih dahulu, nasabah bisa dilayani secara cepat, tak perlu kesal mengantre di kantor cabang ataupun di unit pembantu cabang.

“Misal ada nasabah mau gadai, kita bantu taksir nilainya. Kemudian di-booking-kan nomor antrian untuk dia ke kantor cabang atau ke UPC Pegadaian terdekat sesuai waktu kesediaannya. Bagi yang gak sempat, bisa kita bantu langsung pengurusannya ke kantor cabangnya, nasabah nanti tinggal datang lagi kea gen, atau kita bisa juga sambangi ke rumahnya setelah aplikasi yang diajukan berhasil,” tukas Nurlela, Jumat (26/9/2025). “Yang ke sini sih, kebanyakan nasabah gadai.” Meskipun sederhana, peran Agen Pegadaian yang ditopang digitaliasasi sistem ini ibarat urat nadi yang mengalirkan manfaat emas ke seluruh tubuh masyarakat Kabupaten Kuningan.

Pegadaian MengEMASkan Indonesia

Tercatat, Bank Emas di Pegadaian Kuningan telah menjual lebih dari 3,5 kilogram emas hingga triwulan ketiga 2025. Produk Gallery 24, anak usaha Pegadaian, jadi primadona disaat seiring berkurangnya pasokan Antam.

Bank Emas bukan sekadar produk, karena membentuk komunitas. “Kami membuat grup WhatsApp Pegadaian Kuningan bersama para agen, aktif berbagi informasi harga emas, edukasi produk, hingga kompetisi produktivitas agen lewat program ‘Racing Agen’ dan ‘Gathering’ yang rutin diadakan, memperkuat jaringan dan saling tukar strategi,” tukas Dede, Pincab Kantor Cabang Pegadaian Kuningan.

Dituturkannya, masyarakat Kabupaten Kuningan semakin banyak yang beralih dari deposito Rupiah ke emas, “karena emas tak hanya menjanjikan nilai, tapi juga rasa aman.” Dengan 50 agen terdaftar dan 25 yang aktif, Pegadaian Kuningan menanamkan kepercayaan baru bahwa investasi itu untuk semua orang.

Produk seperti Deposito Emas, Tabungan Emas, Cicilan Mulia, dan Arisan Emas membuka gerbang menuju kemerdekaan finansial berbasis logam mulia.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »