Presiden Madagaskar Membubarkan Pemerintahnya Akibat Kekacauan yang Meluas
Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, mengambil keputusan untuk membubarkan pemerintahannya pada Senin (29/9/2025). Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap gelombang unjuk rasa massal yang dipimpin oleh generasi muda (Gen Z) di seluruh negeri. Aksi protes ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir dan menunjukkan tanda-tanda kekacauan yang semakin memburuk.
Protes ini dimulai akibat kemarahan publik terhadap krisis listrik dan pasokan air bersih yang telah berlangsung dalam waktu lama. Menurut laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), unjuk rasa ini telah berubah menjadi kerusuhan yang menyebabkan sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka. Situasi ini mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan layanan publik yang tidak memadai.
Gelombang Protes Terinspirasi dari Kenya dan Nepal
Aksi protes Gen Z awalnya berlangsung damai di ibu kota, Antananarivo, sebelum meluas ke delapan kota besar lainnya. Para demonstran, yang didominasi oleh anak muda, menyuarakan slogan kuat seperti “Kami ingin hidup, bukan sekadar bertahan hidup”. Gerakan ini dilaporkan terinspirasi dari aksi serupa yang pernah terjadi di Kenya dan Nepal.
Beberapa aktivis muda bahkan mengadaptasi simbol-simbol yang digunakan dalam protes di Nepal dan Indonesia, termasuk bendera dari serial anime Jepang \”One Piece\”. Mereka mengoordinasikan gerakan mereka melalui media sosial, terutama Facebook, mirip dengan taktik mobilisasi massa daring yang terlihat di Kenya. Tuntutan mereka berkembang dari perbaikan layanan publik menjadi seruan agar Presiden Rajoelina mengundurkan diri.
Gelombang demonstrasi ini menjadi tantangan politik terbesar bagi Rajoelina sejak terpilih kembali pada 2023. Di tengah aksi, terjadi penjarahan di supermarket, toko, hingga rumah milik politisi. Meskipun demikian, gerakan tersebut menuding ada penyusup yang sengaja dibayar untuk merusak citra protes mereka.
Respons Represif Aparat dan Polemik Jumlah Korban Jiwa
Aparat keamanan merespons unjuk rasa dengan kekerasan, menggunakan gas air mata, peluru karet, hingga peluru tajam untuk membubarkan massa. Pemerintah juga memberlakukan jam malam dari senja hingga fajar di ibu kota dan kota-kota besar lainnya untuk mengendalikan situasi.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyatakan kekecewaannya atas respons aparat keamanan. Ia mendesak pihak berwenang untuk menghentikan penggunaan kekuatan yang tidak perlu dan tidak proporsional terhadap para pengunjuk rasa. “Saya terkejut dan sedih atas pembunuhan dan cedera dalam protes terkait pemadaman air dan listrik di Madagaskar,” ujar Türk.
PBB merinci bahwa korban jiwa tidak hanya dari kalangan demonstran, tetapi juga warga sipil dan korban tewas akibat penjarahan oleh kelompok yang tidak terafiliasi. Namun, pemerintah Madagaskar membantah angka yang dirilis PBB, mengklaim bahwa data tersebut hanya berupa rumor atau misinformasi.
Rajoelina Berjanji akan Berdialog dengan Kaum Muda
Sebelum membubarkan seluruh kabinet, Rajoelina telah lebih dulu memecat menteri energi sebagai respons awal atas tuntutan publik. Tak lama setelah itu, ia mengumumkan pembubaran pemerintahan dan akan membuka pendaftran calon perdana menteri baru.
Dalam pidato kenegaraan, Rajoelina secara terbuka mengakui kegagalan pemerintahannya dan meminta maaf kepada rakyat. Ia juga berjanji untuk membuka dialog dengan kaum muda serta memberikan dukungan kepada bisnis yang terdampak penjarahan selama kerusuhan.
“Saya mengerti kemarahan, kesedihan, dan kesulitan yang disebabkan oleh pemadaman listrik dan masalah pasokan air. Saya mendengar panggilan itu, saya merasakan penderitaan itu, saya memahami dampaknya pada kehidupan sehari-hari,” kata Rajoelina.
Protes ini juga berakar dari kesulitan ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun di negara kepulauan tersebut. Data Bank Dunia pada 2022 menunjukkan bahwa sekitar 75 persen dari total 30 juta penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.