Perempuan dan Emas: Dari Anting Bayi hingga Rumah Mewah Rp700 Juta

·

·

Kebiasaan Menabung Emas dalam Keluarga dan Manfaatnya

Tangan Seni Oktora (28) mendorong pintu Outlet Pegadaian Cibiru, Bandung. Begitu kaki melangkah masuk, ia mengambil nomor antrean dan melihat sekeliling. Tak ada satu pun kursi kosong. Pagi itu, sekitar 10 kursi diduduki nasabah perempuan. Di sekelilingnya terlihat beberapa orang perempuan dan dua orang laki-laki berdiri, termasuk dirinya. Setelah menunggu sekitar 20 menit, namanya dipanggil.

“Itu pertama kalinya saya ke Pegadaian, tahun 2011. Saat itu pengen cicil emas 25 gram, kebetulan baru dapat uang tambahan, bisa dipakai buat DP (uang muka),” ujar Seni kepada ASKAI.ID di Bandung, Senin (22/9/2025).

Seni mengungkapkan, harga logam mulia saat itu Rp 500.000 per gram atau Rp 12,5 juta untuk 25 gram yang dia cicil. Cicilan tersebut lunas dalam satu tahun dengan DP Rp 1 juta. Selepas dari itu, dia lebih memilih untuk menabung emas. Jumlahnya tidak banyak, namun konsisten setiap saat. Bisa Rp 10.000, Rp 50.000, Rp 100.000. Setelah terkumpul 1 gram emas, dia akan membelikannya.

“Karena kan zaman dulu tidak semudah sekarang yang serba digital. Kalau sekarang Rp 10.000 aja bisa langsung ditabungin ke Pegadaian Digital, sehingga tak tergoda untuk mengambil. Kalau dulu, sok kacoceng (suka terambil) karena nyimpennya di amplop atau rekening,” tutur dia.

Emas yang dikumpulkan tersebut, kini sudah berwujud menjadi rumah yang menjadi tempat tinggalnya sekarang. Harganya Rp 700 juta. Bahkan, ia berhaji dengan tabungan emas tersebut. “Emas juga jadi jalan penyelamat keluarga saya saat Covid-19, karena orangtua saya bangkrut. Sebagian (emas) ada yang dijual, ada pula yang digadai,” ungkap Seni.

Emas dan Budaya Keluarga

Sebenarnya, menabung dalam bentuk emas sudah menjadi budaya keluarga perempuan lulusan UIN Bandung ini. “Investasi pertama saya adalah anting emas 0,5 gram pemberian ibu saya ketika saya bayi,” tutur Seni.

Dalam keluarganya dan kebanyakan orang Sunda, anak perempuan sebaiknya dipakaikan anting. Salah satu tujuannya untuk menunjukkan bayi tersebut berjenis kelamin perempuan. Selain anting, biasanya anak perempuan di keluarganya dibelikan kalung dan gelang. Selain untuk mempercantik diri, perhiasan ini dijadikan budaya menabung.

Sebab ibunya yang pedagang sekaligus petani, akan menyisihkan penghasilannya untuk membeli emas, baik itu logam mulia maupun perhiasan. Apalagi saat musim panen, ibunya pasti membeli emas. “Saya sendiri tidak begitu suka pakai perhiasan, jadinya lebih memilih logam mulia. Kebiasaan menabung emas ini menurun dari orangtua dan saya pun menurunkan kebiasaan ini ke anak perempuan saya,” tutur ibu dari satu orang anak ini.

“Percayalah, walau kamu nabung emas Rp 100.000, tabungan itu bisa mengubahmu menjadi lebih baik, lebih menguntungkan sampai kapanpun,” ucap dia.

Belajar dari Trading hingga Menemukan Pola Menabung

Hal serupa dirasakan Eva Fahas. Warga Bandung ini mulai mengenal emas sejak menikah pada 2011. Kala itu, mas kawinnya berupa logam mulia. Setelah menikah, ia mencoba mencari pola menabung. Dimulai dengan kerap membeli dan menjual emas di Pegadaian untuk mencari selisih harga. Namun, ia akhirnya menyadari cara tersebut lebih mirip trading ketimbang menabung.

“Jadi aku bolak-balik ke Pegadaian untuk beli jual, beli jual, untuk mengambil marginnya. Tapi lama-lama capek sendiri. Karena nabung emas itu bukan begitu, nabung emas itu untuk menjaga aset dari inflasi,” katanya.

Akhirnya Eva menjadikan tabungan emas untuk investasi jangka menengah, seperti biaya sekolah anak atau pembayaran pajak tahunan. Apalagi emas sangat liquid, terlebih setelah ada aplikasi Pegadaian Digital. Mau menabung atau mengambil emas semudah kamu mengklik ponsel. Tak perlu repot ke Pegadaian ataupun ke bank.

Jumlah besaran yang akan ditabung bebas. Namun biasanya ia konsisten menabung setiap bulan minimal Rp 500.000. Bahkan ia memindahkan tabungan sekolah anaknya ke Tabungan emas. Misal, jika biasanya anaknya menabung Rp 10.000 per hari dan di akhir bulan mendapatkan Rp 300.000, maka uang tersebut ia simpan dalam bentuk emas. Hal itu lebih menguntungkan.

Hukum dalam Islam

Sekarang, Eva sangat mengandalkan tabungan emasnya. Untuk memastikan tabungan tersebut aman dunia akhirat, ia mencari tahu terlebih dahulu hukum menabung emas dalam Islam. “Saya sudah bertanya pada pengelola pesantren dan orang yang mengerti agama, tabungan emas hukumnya secara Islam boleh. Karena tujuannya untuk menabung. Beli sesuai harga hari ini, aku jual sesuai harga hari ini dan istilahnya barang yang aku beli langsung terkunci di hari itu,” jelasnya.

Bahkan kini sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang membolehkan menabung emas.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »