Perkutut: Burung Mistis yang Menggambarkan Status dan Spiritualitas Jawa

·

·

Perkutut: Simbol Budaya dan Spiritual di Jawa

Perkutut bukan sekadar burung biasa. Di tanah Jawa, burung ini memiliki peran yang sangat istimewa, tidak hanya sebagai hewan peliharaan tetapi juga sebagai simbol status sosial, kekuatan mistis, dan penghubung antara dunia manusia dan dunia roh. Kepercayaan ini telah berakar kuat selama berabad-abad, bahkan hingga kini masih bertahan meski zaman terus berkembang.

Di Jawa, perkutut memainkan peran penting dalam budaya dan spiritualitas masyarakat. Burung ini sering dikaitkan dengan para raja, bangsawan, serta tokoh spiritual. Menurut Ki Agus Santoso, seorang budayawan dan pecinta perkutut dari Indramayu, “Perkutut bukan sekadar burung, melainkan simbol keagungan dan kepekaan spiritual.” Ia menilai bahwa burung ini dianggap mampu membawa energi positif bagi pemiliknya.

Sejarah perkutut sebagai burung peliharaan elit bermula pada masa kerajaan di Jawa. Pada zaman Mataram, misalnya, hanya kalangan bangsawan yang boleh memelihara perkutut tertentu, seperti jenis perkutut katuranggan yang dipercaya memiliki ciri khusus baik dalam fisik maupun suaranya. “Burung ini menjadi penanda status sosial. Semakin unik suara atau ciri perkutut, semakin tinggi derajat pemiliknya,” jelas Ki Agus.

Suara perkutut yang merdu, halus, dan berirama menjadi salah satu daya tarik utama. Masyarakat Jawa percaya bahwa suara ini mampu menenangkan jiwa dan membuka aura positif. Supriyono, seorang peternak perkutut di Indramayu, mengatakan, “Saat perkutut berkicau, ada rasa damai yang menyelimuti. Banyak yang percaya suaranya bisa menarik rezeki.”

Namun, kepercayaan terhadap perkutut tidak hanya terbatas pada suaranya. Dalam tradisi Jawa, perkutut katuranggan memiliki makna khusus. Setiap ciri fisik, seperti warna bulu, bentuk paruh, atau pola sisik kaki, diyakini memiliki arti mistis tertentu. Misalnya, perkutut jenis Songgo Ratu dipercaya membawa keberuntungan dalam rumah tangga. Cerita-cerita turun-temurun juga mendukung kepercayaan ini. Salah satunya adalah mitos bahwa perkutut tertentu bisa menjadi penutup “lubang angin” atau celah energi negatif di rumah. “Ada yang bilang, kalau perkutut tiba-tiba diam atau pergi, itu pertanda ada gangguan spiritual di rumah,” ujar Mbah Sastro, seorang tetua di Indramayu yang dikenal sebagai “dukun perkutut.”

Meski begitu, perkembangan zaman membawa tantangan bagi tradisi ini. Generasi muda mulai memandang perkutut hanya sebagai hobi biasa, tanpa memahami nilai budaya dan spiritualnya. Ki Agus mengeluh, “Banyak anak muda sekarang lebih tertarik pada teknologi daripada melestarikan tradisi ini.” Ia khawatir, makna mendalam perkutut sebagai warisan budaya akan memudar.

Namun, tidak semua harapan sirna. Komunitas pecinta perkutut di berbagai daerah, seperti di Indramayu, Solo, dan Surabaya, tetap aktif menggelar lomba kicau dan pameran perkutut. Acara ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas burung, tetapi juga wadah untuk menjaga tradisi. “Lomba perkutut adalah cara kami mengenalkan budaya ini kepada generasi muda,” kata Dwi Hartono, ketua komunitas Perkutut Nusantara.

Selain itu, pasar perkutut tetap hidup. Harga seekor perkutut katuranggan bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung pada keunikan ciri dan suaranya. “Perkutut langka seperti jenis Gedong Mengo bisa dihargai hingga Rp50 juta,” ungkap Supriyono. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap perkutut masih tinggi, meski dengan motivasi yang beragam.

Perkembangan teknologi juga turut memengaruhi dunia perkutut. Kini, banyak peternak memanfaatkan media sosial untuk memasarkan burung mereka. Video kicau perkutut di YouTube atau grup WhatsApp pecinta perkutut menjadi sarana promosi yang efektif. “Dulu, orang harus datang langsung. Sekarang, cukup lihat video, transaksi bisa dilakukan,” ujar Dwi.

Namun, tidak semua pihak menyambut baik komersialisasi ini. Mbah Sastro menilai, nilai spiritual perkutut justru terkikis ketika burung ini hanya dilihat sebagai komoditas. “Perkutut bukan sekadar barang dagangan. Ia punya makna yang dalam, yang harus dihormati,” tegasnya.

Di sisi lain, para peneliti budaya melihat fenomena perkutut sebagai cerminan dinamika masyarakat Jawa. “Perkutut mencerminkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan kepekaan spiritual dengan realitas sosial,” kata Dr. Retno Wulandari, antropolog dari Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, perkutut adalah simbol harmoni antara manusia, alam, dan dunia gaib.

Meski menghadapi tantangan modernisasi, perkutut tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa. Dari suara merdunya yang menenangkan hingga makna mistis yang melekat, burung ini terus memikat hati masyarakat. “Selama masih ada yang memelihara perkutut dengan hati, tradisi ini tidak akan punah,” tutup Ki Agus dengan optimisme.

Perkutut, dengan segala keunikan dan maknanya, bukan hanya burung peliharaan. Ia adalah warisan budaya yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta dunia nyata dengan alam spiritual. Di tengah perubahan zaman, perkutut tetap berkicau, mengingatkan kita akan akar budaya yang kaya dan mendalam.





Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »