Fenomena Universal dan Sifat Dasar Sugar Coating
Sugar Coating, atau melapisi realitas pahit dengan kata-kata manis, adalah fenomena yang tidak asing dalam kehidupan profesional. Ini bukan sekadar basa-basi atau keramahan biasa; ini adalah tindakan sadar untuk menyajikan informasi, kritik, atau bahkan kinerja diri sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi sangat menyenangkan dan mudah diterima, terutama oleh atasan atau pemegang kekuasaan. Ini adalah pemanis buatan dalam komunikasi.
Saya melihat bahwa praktik ini hampir ada di semua lini dan sudut kehidupan. Tidak mengenal batasan sektor. Dari tingkat atas di pemerintahan sampai tingkat bawah, termasuk di dunia kerja swasta, dunia usaha, dan bahkan dunia pendidikan. Semua tempat yang melibatkan hierarki dan penilaian akan selalu memiliki potensi suburnya praktik ini.
Di lingkungan kerja swasta, praktik ini seringkali lebih halus. Misalnya, ketika sebuah proyek gagal mencapai target, seorang karyawan mungkin tidak akan mengatakan, \”Kami gagal karena kurangnya perencanaan.\” Sebaliknya, dia akan mengatakan, \”Kami menghadapi tantangan tak terduga, namun kami telah mengumpulkan insight berharga untuk iterasi berikutnya.\” Realitas kegagalan ditutup dengan optimisme dan jargon positif.
Sekalipun di dunia pendidikan, tidak sedikit orang yang pintar memainkan kata-kata manis untuk membalut kabar atau informasi yang sebenarnya tidak diharapkan. Seorang guru besar mungkin menyampaikan kritik pedas dengan memilih diksi yang begitu akademis dan formal sehingga inti kasarnya menjadi tersamarkan. Ini adalah cara untuk menjaga hubungan sekaligus menyampaikan pesan.
Keberadaan sugar coating ini akan selalu ada. Selama ada keinginan untuk disukai, keinginan untuk maju, dan ketakutan akan konflik atau kegagalan, praktik ini akan terus menjadi senjata komunikasi. Ini adalah mekanisme pertahanan sosial sekaligus alat networking.
Saya lihat dan bisa mengamati para pejabat di pemerintahan, bila tampil di televisi, ada yang pandai berbahasa baik guna menutup soal yang dianggap kotor atau merugikan bagi atasan pejabat tersebut. Mereka adalah master dalam menggunakan eufemisme, istilah teknis, atau mengalihkan fokus dari masalah inti ke pencapaian minor lainnya.
Usaha sugar coating para pejabat itu terkadang bisa mengamankan posisi mereka, menaikkan posisi jabatan, tapi tak jarang juga justru menjadi bumerang dan bulan-bulanan petaka ketika kebenaran akhirnya terungkap. Ini menunjukkan bahwa meskipun efektif di awal, fondasi yang dibangun di atas kepalsuan manis seringkali tidak stabil.
Sugar Coating dalam intinya adalah manipulasi komunikasi. Tujuannya adalah memengaruhi persepsi. Ia mengambil alih kendali atas narasi, memastikan bahwa pihak yang berkuasa hanya mendengar versi yang menyenangkan dan menguntungkan bagi penyampai pesan. Ini membuat atasan nyaman, tetapi berpotensi memutusnya dari realitas lapangan yang sebenarnya.
Batas Tipis: Soft Skill, Strategi, atau Penjilatan?
Pengalaman saya saat dulu pernah bekerja di perusahaan penerbitan buku dan majalah menunjukkan bahwa sugar coating adalah pedang bermata dua. Di sana, ada saja orang yang bertipikal seperti ini. Mereka yang pandai memuji ide atasan secara berlebihan atau melaporkan masalah minor sebagai pencapaian besar.
Pada dasarnya, ada garis batas yang sangat tipis antara sugar coating sebagai soft skill dan sebagai penjilatan murni. Soft skill adalah ketika Anda memilih kata-kata yang halus agar kritik tidak terdengar kasar, atau ketika Anda menyampaikan berita buruk dengan empati. Itu adalah seni menjaga komunikasi tetap cair dan profesional.
Misalnya, jika seorang desainer menerima kritik bahwa layout bukunya buruk, soft skill akan meminta manajernya mengatakan, \”Desain ini memiliki potensi yang bagus, tetapi mari kita coba eksplorasi tata letak yang lebih minimalis untuk meningkatkan fokus pada teks.\” Ini adalah sugar coating yang konstruktif.
Namun, ketika sugar coating menjadi strategi utama untuk bertahan dan menjadi shortcut jenjang karier, ia mulai bergeser ke ranah \”penjilatan.\” Ini terjadi ketika pujian diberikan tanpa dasar yang jelas, ketika fakta dimanipulasi hanya untuk menyenangkan atasan, atau ketika seseorang mengambil kredit atas kerja orang lain dan membungkusnya dengan narasi manis.
Orang yang melakukan sugar coating demi jabatan seringkali fokus pada apa yang ingin didengar oleh atasan, bukan pada apa yang perlu didengar. Mereka menjadi \”Yes Man\” yang siap setuju tanpa mempertimbangkan dampak negatif dari keputusan tersebut, asalkan posisi mereka aman dan terlihat baik.
Dulu, di perusahaan penerbitan tempat saya bekerja, salah satu rekan yang rajin sugar coating berhasil mendapatkan promosi cepat. Dia sangat lihai memuji setiap keputusan editor senior, bahkan yang terbukti kurang tepat secara bisnis. Bagi atasan, dia adalah sosok yang suportif dan loyal. Ini menunjukkan bahwa terkadang, strategi ini berhasil.
Namun, ada juga rekan lain yang saya kenal, yang kebiasaan sugar coating-nya malah berakhir buruk. Dia terlalu sering memuji kualitas majalah yang jelas-jelas menurun, hingga akhirnya majalah tersebut kehilangan pembaca dan bisnisnya kolaps. Ketika diminta bertanggung jawab, atasan melihatnya sebagai sosok yang tidak realistis dan hanya memberi laporan palsu.
Jadi, hasil akhir dari sugar coating memang bervariasi. Ada yang berakhir karirnya karena dianggap tidak jujur dan tidak kompeten dalam menilai realitas, dan ada juga yang sampai saat ini melejit karirnya karena mampu memanfaatkan sugar coating sebagai pelumas sosial yang efektif.
Dampak dan Konsekuensi di Lingkungan Kerja
Dampak dari praktik sugar coating tidak hanya dirasakan oleh pelakunya, tetapi juga oleh seluruh tim. Ketika satu atau dua anggota tim secara konsisten \”memaniskan\” laporan mereka, hal itu menciptakan lingkungan di mana kejujuran dihukum dan kepalsuan dihargai.
Rekan kerja yang jujur dan blak-blakan sering merasa dirugikan. Usaha keras mereka untuk memberikan data objektif dan kritik membangun seringkali tenggelam oleh sanjungan dan laporan positif palsu dari mereka yang gemar sugar coating. Ini dapat menurunkan moral dan produktivitas tim secara keseluruhan.
Di sisi atasan, dampak jangka panjang dari sugar coating adalah terputusnya koneksi dengan realitas. Jika atasan hanya mendengar kabar baik, mereka akan membuat keputusan berdasarkan data yang cacat. Ini adalah masalah serius di pemerintahan maupun swasta, karena keputusan yang salah dapat merugikan jutaan orang atau menghancurkan perusahaan.
Bayangkan hal tersebut terjadi di lingkungan kerjamu, bagaimana rasanya? Malah, jika terlalu melewati batas etis, akan terasa layaknya berhadapan dengan seorang \”penjilat\” sejati. Rasa enek yang timbul bukan hanya karena kata-katanya yang terlalu manis, tetapi karena kesadaran akan motif tersembunyi di baliknya.
Kalau itu terjadi pada tim kerjamu, maka apa yang akan kamu lakukan? Membiarkannya? Menegurnya? Atau justru ikut terbawa cara mainnya? Pilihan ini sulit, karena membiarkan berarti mengamini budaya tersebut, sementara menegur bisa mengundang konflik yang tidak perlu dan berpotensi merugikan karier Anda sendiri.
Bagi mereka yang memilih ikut terbawa cara mainnya, mereka sebenarnya telah membuat perhitungan pragmatis: jika ini adalah satu-satunya cara untuk maju dalam budaya kerja ini, maka mereka akan melakukannya. Mereka melihat sugar coating sebagai alat adaptasi, bukan pelanggaran etika.
Namun, para pemimpin sejati, atau pemimpin yang efektif, pada akhirnya akan mencari orang-orang yang berani memberikan kebenaran pahit (brutal honesty). Atasan yang bijaksana menyadari bahwa laporan yang terlalu manis adalah tanda bahaya dan bahwa mereka membutuhkan masukan yang realistis, sekalipun itu tidak menyenangkan. Mereka akan melihat sugar coating bukan sebagai strategi cerdas, melainkan sebagai tanda ketidakberanian dan kelemahan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Sugar Coating adalah taktik yang menawarkan janji shortcut menuju jabatan idaman. Ia bisa menjadi seni basa-basi yang anggun dan penting dalam komunikasi; ia bisa menjadi strategi cerdas yang melumasi hubungan profesional; namun, ia juga sangat berpotensi menjadi jalan pintas sang penjilat yang merusak kredibilitas dan moral lingkungan kerja.
Pengalaman menunjukkan bahwa meskipun ia sering memberikan keuntungan jangka pendek, fondasi karier yang kokoh selalu dibangun di atas kejujuran yang berani, bukan gula yang berlebihan. Keputusan untuk menggunakannya atau tidak, sepenuhnya berada di tangan integritas profesional masing-masing individu.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.