Pokja 30 Kritik Pedas Program MBG Prabowo di Kaltim: Berhenti Skema Makanan Jadi

·

·

Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Pokja 30

Pokja 30, sebuah organisasi masyarakat sipil yang berdiri sejak tahun 2000 di Samarinda, kini mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Prabowo di Kalimantan Timur. Awalnya, organisasi ini fokus pada isu demokrasi dan tata kelola pemerintahan pasca-reformasi, tetapi seiring waktu, fokus gerakan mereka bergeser ke isu-isu seperti Hak Asasi Manusia (HAM), Korupsi dan transparansi anggaran, Lingkungan hidup, Partisipasi masyarakat dalam pembangunan, serta Advokasi kebijakan publik.

Pokja 30 menyoroti skema penyediaan makanan jadi dalam program MBG, yang dinilai tidak efektif dan rentan disalahgunakan. Mereka mempertanyakan apakah anggaran yang besar untuk MBG sesuai dengan manfaat gizi yang diterima masyarakat. Realisasi anggaran MBG di APBN 2025 baru mencapai Rp13 triliun hingga 8 September 2025, atau sekitar 18,3 persen dari total pagu Rp71 triliun.

Koordinator Pokja 30, Buyung Marajo, menyarankan agar pemerintah mengevaluasi ulang program tersebut dan lebih baik mengubah anggaran menjadi insentif tunai langsung kepada penerima manfaat. “Seharusnya MBG itu uangnya untuk insentif ke penerima manfaat lebih tepat sasaran daripada dijadikan makanan. Hal ini setidaknya langsung memotong mata rantai korupsi dan penyalahgunaan anggaran,” katanya.

Pokja 30 berharap pemerintah segera merespons kritikan publik dengan transparansi penuh terkait mekanisme pengadaan dan alokasi dana MBG. Mereka juga menyoroti bahwa di APBN 2026 ada rencana gelontoran hingga lebih Rp300 triliun, namun DPR belum menyiapkan regulasi yang jelas.

Pelaksanaan MBG di SMA PGRI Tanjung Redeb

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah pusat telah berjalan di berbagai sekolah di Indonesia, termasuk di SMA PGRI Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sejak dimulai pada 1 September 2025 lalu, program ini telah berjalan lebih dari tiga minggu dan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah maupun siswa.

Bagian Kesiswaan SMA PGRI Tanjung Redeb, Reni Rohani, menjelaskan pelaksanaan MBG di sekolahnya berjalan dengan lancar tanpa kendala. Teknis pembagian makanan dilakukan oleh pihak penyedia katering, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karang Mulyo, yang setiap hari mengantarkan makanan langsung ke sekolah.

“Setiap hari makanan dikirim dan dibagikan saat istirahat kedua, sekitar pukul 12.00 Wita. Kami data dulu kehadiran siswa, lalu kami panggil empat perwakilan dari tiap kelas untuk membagikan makanan ke teman-temannya,” jelasnya.

Jumlah siswa yang mengikuti program ini mencapai sekitar 410 orang, yang tersebar di 10 kelas. Jika ada lebihan, makanan yang tersisa biasanya dibagikan kembali kepada siswa yang masih ingin makan. Meski program berjalan dengan baik, pihak sekolah tetap waspada dan berharap tidak terjadi kasus seperti yang terjadi di beberapa daerah lain, di mana sempat muncul laporan keracunan makanan akibat program MBG.

Tanggapan Positif dari Siswa

Di sisi siswa, program MBG mendapat tanggapan positif. Hazhar Andika Ridho Pratama, siswa kelas 12 C, menyebut MBG sangat membantu secara ekonomi, terutama bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan finansial. “Sebelum MBG, saya biasa bawa bekal sendiri dari rumah, seperti telur rebus dan dada ayam. Sekarang saya tidak perlu bawa bekal lagi. Jadi lebih hemat,” ungkapnya.

Menurutnya, menu yang selama ini disajikan cukup baik dan enak. Namun, dia berharap ke depan porsinya lebih banyak mengandung protein karena anak SMA masih dalam masa pertumbuhan. “Semoga ke depan bisa ada pilihan menu yang lebih beragam, misalnya ayam rebus dan sayuran yang lebih banyak,” katanya.

Keiza Tarisa, siswa kelas 12C lainnya, mengaku bahwa menunya enak-enak semua. Secara keseluruhan dirinya suka karena bisa hemat uang jajan, bahkan bisa ditabung. Ia juga menyarankan agar ke depan lebih banyak menu yang mengandung sayur dan menyesuaikan porsi dengan kebutuhan siswa.

Keresahan Orang Tua Siswa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan sejak Februari 2025 mendapat sambutan positif dari para orang tua siswa di SDN 010 Balikpapan Selatan. Kehadiran program pemerintah ini dinilai membantu pemenuhan gizi anak sekaligus meringankan beban keluarga. Namun, di balik rasa syukur tersebut, muncul kegelisahan terkait isu kasus keracunan makanan MBG yang sempat mencuat di luar Balikpapan.

Kekhawatiran itu membuat sejumlah orang tua berharap pihak sekolah bersama penyalur MBG benar-benar menjaga kualitas makanan yang disajikan. Bagi mereka, kesehatan anak adalah hal utama yang tidak bisa ditawar.

“Sejujurnya memang kita sebagai orang tua pasti khawatir lah yang seperti itu (keracunan). Makanya kami minta pihak sekolah dan penyalur MBG itu benar-benar memperhatikan kualitas menunya. Karena yang makan ini manusia dan anak-anak, bukan hewan. Jadi tidak boleh sembarangan. Kami mempercayakan sepenuhnya kepada sekolah,” ujar Ulfayana, salah satu orang tua siswa.

Tidak Semua Dapur MBG Bersertifikat

Belum semua dapur MBG di Samarinda bersertifikat Laik Higienis dan Sanitasi. Hal itu diungkapkan Dinkes Kota Samarinda merespons isu Makan Bergizi Gratis yang tengah jadi sorotan publik. Pengawasan ketat akan diberlakukan terhadap setiap Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) agar kasus serupa tidak terjadi di kota ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, dr. Ismed Kusasih, menegaskan bahwa pengawasan ketat akan diberlakukan terhadap setiap SPPG agar kasus serupa tidak terjadi di kota ini. Menurut Ismed, arahan dari pemerintah pusat sudah jelas yakni seluruh SPPG wajib memiliki Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi.

Saat ini, dari 15 SPPG yang ada di Samarinda, belum semuanya mengantongi sertifikasi laik higienis. Ismed menyebut jumlah tersebut masih jauh dari ideal, mengingat secara nasional baru puluhan dapur yang bersertifikat dari ribuan dapur MBG yang beroperasi.

Murid Hanya dapat Bingkisan

Petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kota Samarinda, tidak menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG) hari ini, siswa hanya dapat makan kering dan ompreng. Dari Pantauan di salah satu sekolah penerima MBK ini di jalan Meranti Talangsari, Tanah Merah, Samarinda Utara Kota Samarinda, sekolah dasar (SD) 005 Samarinda Utara.

Terlihat para murid di sekolah ini, menerima bingkisan tas kecil yang disebut sebagai penganti \”Makan Bergizi Gratis\” yang dibagikan oleh guru wali kelas mereka. Dalam goodie bag tersebut berisi 4 jenis, berupa dua buah pisang kecil, telur rebus satu butir, satu buah roti sisir dan satu kotak kecil susu. Mia, Guru sekaligus Penanggungjawab MBG di sekolah tersebut mengatakan hal itu dikarenakan para petugas dari MBG sendiri sedang ada kegiatan, sehingga hanya membagikan bingkisan.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »