Tindakan Tegas Tiongkok Atas Kasus Keracunan MBG 2025, Bagaimana Indonesia?

·

·

Kasus Keracunan MBG di Tianshui, China: Tragedi yang Mengguncang Dunia

Kasus keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) di Tianshui, Provinsi Gansu, China pada Juli 2025 menjadi perhatian global setelah 247 siswa TK terpapar timbal berbahaya dari makanan sekolah. Peristiwa ini bukan hanya tragedi kesehatan, tetapi juga mengungkap kelemahan sistemik dalam pengawasan pendidikan dan keamanan pangan.

Enam orang telah ditangkap, sementara hampir 30 pejabat dan staf sedang diselidiki karena dugaan penyelewengan wewenang hingga manipulasi data medis. Skandal ini menjadi pelajaran penting, terutama bagi negara-negara lain yang sedang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ironisnya, program yang seharusnya menjamin kesehatan anak justru berbalik membawa petaka. Investigasi menunjukkan adanya praktik penggunaan bahan berbahaya demi keuntungan pemasaran sekolah. Lebih dari sekadar kasus hukum, tragedi ini menyisakan trauma bagi keluarga korban sekaligus alarm keras bagi otoritas pendidikan di seluruh dunia agar tidak abai dalam mengawasi keamanan pangan.

Kronologi Keracunan MBG di China

Menurut laporan investigasi Komite Partai Provinsi Gansu, kasus bermula pada 2024 saat staf dapur membeli bubuk pewarna daring berlabel “tidak untuk dimakan”. Atas perintah kepala sekolah, bubuk itu tetap digunakan demi mempercantik tampilan makanan anak-anak. Investor TK bahkan menyetujui praktik ini untuk kepentingan promosi.

Fakta mencengangkan terungkap: beberapa bubuk pewarna mengandung timbal hingga 20 persen, sementara salah satu pigmen memiliki kadar 400.000 kali lipat di atas ambang aman. Akibatnya, kadar timbal dalam makanan melampaui standar keamanan pangan nasional hingga 2.000 kali lipat. Anak-anak pun mengalami gejala mulai dari sakit perut, mual, gigi menghitam, hingga gangguan fungsi tubuh.

Dampak Kesehatan pada Anak

Awalnya 235 siswa dilarikan ke rumah sakit, kemudian jumlah korban bertambah menjadi 247 anak. Tes darah menunjukkan kadar timbal tinggi, bahkan lima mantan siswa yang sudah keluar dari TK pun masih terdeteksi terpapar. Beberapa staf sekolah, termasuk kepala sekolah, juga ikut terdampak.

Bahaya timbal tidak main-main. Paparan jangka panjang dapat menyebabkan:
* Gangguan perkembangan otak
* Kerusakan organ vital
* Penurunan kecerdasan (IQ)
* Masalah perilaku dan belajar

WHO bahkan menyebut timbal sebagai racun yang tidak memiliki ambang aman, artinya sedikit paparan saja bisa menimbulkan risiko serius, terutama bagi anak-anak.

Kegagalan Penanganan dan Skandal Pengawasan

Penyelidikan juga menemukan kelalaian besar dalam sistem pengawasan. Pusat Pengendalian Penyakit Gansu dinilai lalai, sementara rumah sakit di Tianshui terbukti memodifikasi hasil tes sehingga kadar timbal terlihat lebih rendah. Dinas Pendidikan pun terbongkar menutup mata terhadap izin operasional TK yang sudah tak berlaku dua tahun.

Selain itu, pejabat terkait diduga menerima suap dari investor TK. Alhasil, kontrol berlapis yang seharusnya melindungi anak-anak justru runtuh akibat kepentingan ekonomi dan praktik korupsi.

Tindak Lanjut Hukum

Kepolisian telah menangkap enam tersangka, dua di antaranya ditahan secara kriminal. Investigasi juga menjangkau 10 pejabat lokal, termasuk direktur komisi kesehatan provinsi dan pejabat Kota Tianshui. Pemerintah pusat China bahkan melibatkan otoritas anti-korupsi tingkat tinggi untuk memastikan kasus ini ditangani tuntas.

Di sisi lain, Pemerintah Gansu berjanji menanggung biaya pengobatan korban, termasuk perawatan gratis di luar daerah. Langkah ini diharapkan bisa meringankan beban keluarga, meski luka psikologis akibat krisis kesehatan ini tentu butuh waktu lama untuk dipulihkan.

Bahaya Bahan Berbahaya dalam Program Makan Bergizi Gratis

Kasus ini menyimpan pesan penting: program Makan Bergizi Gratis harus benar-benar menjamin keamanan pangan, bukan sekadar menyediakan makanan. Ada beberapa poin penting untuk dipetik:

  1. Pentingnya Pengawasan Bahan Makanan

    Sekolah wajib memastikan semua bahan yang dipakai memiliki izin edar resmi. Produk daring tanpa label jelas sebaiknya dihindari.

  2. Edukasi Gizi dan Keamanan Pangan

    Guru dan orang tua perlu mendapat pelatihan sederhana mengenai bahaya bahan tambahan berisiko, termasuk timbal, formalin, dan boraks.

  3. Transparansi dan Audit Rutin

    Program MBG sebaiknya memiliki mekanisme audit terbuka agar publik bisa mengawasi langsung kualitas makanan anak.

  4. Penegakan Hukum Tegas

    Kasus di Gansu membuktikan, tanpa hukuman yang jelas, praktik kecurangan bisa terus berulang dan membahayakan generasi muda.

Kasus keracunan MBG di China adalah cermin rapuhnya sistem pengawasan pangan di sekolah. Dari kelalaian staf dapur hingga manipulasi data oleh rumah sakit, semua menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah pengabaian. Indonesia dan negara lain yang tengah mengembangkan program makan gratis harus menjadikan kasus ini alarm agar tidak mengulang kesalahan serupa.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: NOVEMBERAIN Selama bulan November.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID


 

Translate »